Home Belajar Menulis Cara Menulis Curahan Hati untuk Kepentingan Pembaca

Cara Menulis Curahan Hati untuk Kepentingan Pembaca

7 min read
0
0
44

Menulis curahan hati (ilustrasi) | Foto Flickr

Asmarainjogja.id – Jika mau jujur seorang penulis itu ide-idenya muncul dari kegundahan hatinya. Mulai dari perasaan asmara sampai pengalaman pribadinya dalam kehidupan sehari-hari. Namun seorang penulis yang tidak egois akan meramu kata-katanya menjadi kepentingan publik, ungkapan yang ia tuturkan seolah-olah sangat penting untuk dibaca. Tidak sekadar untuk pribadinya sendiri, yang biasa dikenal dengan menulis curahan hati saja.

Memang menulis dari hati, akan sampai juga ke hati pembaca. Nah, untuk menyampaikannya juga punya cara cerdas yang harus dimiliki oleh penulis pemula. Dan inilah tantangan bagi yang sedang belajar menulis.

Lalu bagaimana cara agar menuliskan curahan hati yang layak dibaca untuk kepentingan umum? Berikut cara sederhana yang bisa dipraktikkan langsung:

Menangkap ide

Untuk menuliskan sesuatu tentu kita harus memiliki ide terlebih dahulu. Ide ini bisa didapat dari pengalaman kita sendiri. Misalnya saja saat kita sedang mengalami dilema karena  cinta. Ya, mungkin saat ini cinta kita bertepuk sebelah tangan, atau cinta yang tidak direstui orangtua, atau juga saat cinta dinilai dari materi.

Duh… sakit benar jika mengalaminya, bukan? Nah, maka seorang penulis yang melankolis biasanya akan mengungkapkan apa saja yang ada di hatinya melalui sebuah tulisan. Ide menulis itu akan mengeluarkan sebuah karya yang bisa dinikmati oleh pembaca, dan tentu saja bisa bermanfaat bagi orang lain, tak hanya si penulis itu sendiri.

Di balik tulisan

Sebagai penulis, sebaiknya kita ada di balik tulisan, bukan di depan tulisan. Maksudnya begini dalam sebuah tulisan itu, kita sebagai penulis seolah-olah menyampaikan saja, bukan orang yang langsung mengalami kejadian-kejadian pada tulisan tersebut. Sederhananya adalah penyamaran dalam sebuah karya, kita tidak terlibat langsung di dalamnya, meskipun sebenarnya kitalah yang mengalaminya langsung.

Memilih POV (point of view) yang tepat

POV adalah sudut pandang penulis, bagaimana seorang penulis menempatkan dirinya pada tulisan. POV itu contohnya: saya, dia, kita, dan mereka.

Nah, untuk menuliskan curahan  hati biasanya kita menggunakan sudut pandang pertama, yaitu saya atau aku.

Contoh tulisan galau curahan hati biasanya begini:

Bumi yang kita pijak sama, langit untuk berteduh pun sama. Di bawah kolong langit yang sama, kita berjalan dalam cita-cita cinta yang sama. Namun, ketika kesamaan itu kian berubah, kau terlalu tega mengkhianati janji suci yang pernah terpatri di dada kita. Kau… kau terlalu takut untuk berani membela apa yang seharusnya menjadi pilihanmu sendiri. Tak mungkin bersama, itulah alasan yang selalu didengungkan. Tidakkah kautahu betapa sakit ditinggal oleh sayap cinta? Seharusnya sayap cinta itu membawaku terbang dalam dekapan sayap cintamu, cinta kita berdua.

Sudah cukup! Itu hanya contoh saja.

Padahal kalau kita mau menulisnya dengan sudut pandang maha tahu juga bisa. Jadi tidak perlu seolah-olah kita sendirilah tokohnya.

Bumi yang dipijak sama, langit untuk berteduh pun sama. Di bawah kolong langit yang sama, sepasang sejoli berjalan dalam cita-cita cinta yang sama. Namun, ketika kesamaan itu kian berubah, sang pecinta tega mengkhianati janji suci yang pernah terpatri di dada. Ia terlalu takut untuk berani membela apa yang seharusnya menjadi pilihannya. Tak mungkin bersama, itulah alasan yang selalu didengungkan. Tidakkah ia tahu betapa sakit ditinggal oleh sayap cinta? Seharusnya sayap cinta itu membawa mereka terbang dalam dekapan sayap cinta mereka.

Nah, saat kita mengubah POVnya terasa berbeda, bukan? Kita sebagai penulis seolah-olah bukan menceritakan pengalaman sendiri, atau juga bukan kegalauan hati yang diobati dengan menulis.

Menyampaikan pengalaman yang bisa bermanfaat untuk pembaca

Sejatinya menulis itu untuk kebaikan, jadi pengalaman buruk yang kita alami bisa juga dikemas dalam ulasan yang bisa mencerdaskan pembaca. Jadi tidak hanya mencurahkan semua isi kepala dan hati saja. Kita sebagai penulis juga harus piawai menyisipkan pesan-pesan moral di dalamnya.

Ya, karena cinta ditinggal pergi, tentu susah sekali untuk melupakannya, bukan? Namun akhirnya bisa juga perlahan-lahan mengikhlaskannya. Nah, cara mengikhlaskannya itu kan bisa dibagikan pengalamannya untuk orang lain. Inilah yang dimaksud tulisan curahan hati yang bisa bermanfaat untuk pembaca.[]

Penulis:  Asmara Dewo 

Asmara Dewo

Baca juga: 

Yuk, gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Belajar Menulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Penganiayaan terhadap Steven Menambah Kasus Rasisme Warga Papua oleh Aparat Keamanan

Asmarainjogja.id-Penganiayaan yang dilakukan oleh dua anggota Polisi Militer Angkatan Udar…