Home Berita Nasional Utang Indonesia Terus Membengkak di Era Jokowi

Utang Indonesia Terus Membengkak di Era Jokowi

3 min read
0
0
22

Kantor Kementerian Keuangan | Foto Tempo

Asmarainjogja.id – Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat per akhir Agustus 2016, total utang pemerintah pusat membengkak menjadi Rp 3.438,29 triliun.

Pada Juli 2016 lalu tercatat 3.359,82 triliun. Itu artinya bertambah Rp 78,47 triliun hanya dalam tempo sebulan.

“Utang terutama merupakan konsekuensi dari postur APBN (yang mengalami defisit), di mana pendapatan Negara lebih kecil daripada Belanja Negara,” dikutip dari paparan DJPPR, Rabu (21/9/2016). Tulis CNN Indonesia dalam beritanya.

Paparan DJPPR tersebut menjelaskan selain pembiayaan untuk menutupi defisit APBN, utang pemerintah juga untuk membayar utang yang jatuh tempo.

Jika dirinci, sebagian besar utang pemerintah didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN), dan hasil pinjaman dari luar negeri. Utang dari luar negeri saja sebesar Rp 749,33 triliun, kurun waktu Juli-Agustus 2016.

Secara bilateral, ada dua Negara yang saat ini memberikan utang terbesar kepada Indonesia. Utang pemerintah kepada Jepang sebesar Rp 228,57 triliun, kemudian Perancis sebesar Rp 24,56 triliun.

Dan secara multilateral, pemerintah Indonesia berutang ke Bank Dunia sebesar Rp 224,13 triliun, selanjutnya Bank Pembangunan Asia sebesar Rp 122,12 triliun.

Menurut Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan, di era Presiden Joko Widodo   utang pemerintah meroket tajam jika dibandingan dengan presiden sebelum-sebelumnya. 

“Belum dua tahun Jokowi memerintah, dia terbesar meminjam uang. Jadi, akhirnya utang luar negeri kita terus naik. Bahaya itu,” ujar Hinca di Denpasar, Sabtu, (28/5/2016). Tulis Viva dalam beritanya.

Hinca juga membandingkannya di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bahkan pada saat itu SBY berhasil menghapus utang luar negeri.

“Pada zaman SBY sudah hapus dia IMF,” jelas Hinca.

Hinca juga menilai Jokowi terlalu memaksa dalam pembangunan infrastruktur. Sementara SBY bisa menghapus utang dari IMF karena tidak terlalu jor-joran dalam pembangunan infrastuktur.

“Infrastruktur (pada era SBY) kita tahan pelan, karena berbahaya untuk ekonomi jangka pendek. Jangka panjang memang iya, itupun kalau jalan,” katanya lagi.

Sebagai contoh, Hinca mengatakan bahwa pembangunan kereta api cepat Bandung. “Sebagai contoh kereta api cepat di Bandung, mangkrak itu. Masa kita diam saja. Lalu pinjam lagi dari Tiongkok. Investasi lagi di situ, tapi belum jalan juga, tambah bengkak utang kita,” keluhnya. [Asmara Dewo]

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Berita Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Penganiayaan terhadap Steven Menambah Kasus Rasisme Warga Papua oleh Aparat Keamanan

Asmarainjogja.id-Penganiayaan yang dilakukan oleh dua anggota Polisi Militer Angkatan Udar…