Home Wisata Jogja Petualangan Seru ke Jembatan Ekstrem Pulau Kalong

Petualangan Seru ke Jembatan Ekstrem Pulau Kalong

18 min read
0
0
62

Jembatan ekstrem di Pulau Kalong | Foto asmarainjogja, Rizka Wahyuni

Asmarainjogja.id – Pantai Sinden tidak begitu populer di jajaran pantai Gunungkidul, tapi pantai yang memiliki pulau itu menyimpan keseruan yang menakjubkan. Selama ini, mungkin bagi Anda pemburu pantai di Yogyakarta ini menganggap hanya Pantai Timang lah yang memiliki sebuah pulau. Padahal Pantai Sinden juga memiliki pulau keren yang  tak kalah kerennya.

Dan serunya lagi, jika ingin menyeberang ke pulau tersebut, hanya bagi yang bernyali tinggi saja. Jika tidak punya nyali, Anda hanya bisa melihat dari bibir Pantai Sinden. Ya, untuk menyeberang ke Pulau Kalong itu Anda harus melewati sebuah jembatan yang terbuat dari kayu yang diikat dengan tali tambang. Wihhh… rasanya jantung mau copot, langkah seakan terhenti ketika kaki harus memilih  mana papan-papan yang kokoh.

Tak hanya sampai di situ saja, lebih menyeramkannya lagi adalah jembatan itu papannya tidak utuh. Bisa saja kaki terperosok ke sela-sela jembatan yang tidak dipapani. Jadi ketika melewati jembatan Pulau Kalong mata kita harus fokus melihat ke bawah, di mana ombak berputar-putar dengan ganasnya seakan menerkam kita saat melintas. Sungguh ini adalah pengalaman yang paling mendebarkan.

Jembatan di Pulau Kalong

Jembatan di Pulau Kalong | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

19 Maret 2017, saya dan Rizka kembali bertualang ke Pantai Gunungkidul. Awalnya saya melihat foto-foto di Instagram Pulau Kalong yang sangat keren, karena itulah akhirnya kami mengunjunginya. Dan   pagi itu sedikit mendung, namun motor kami terus melaju melintasi jalanan berliku nan gersang. Tidak seperti biasanya yang lebih santai menikmati perjalanan, kali itu saya benar-benar mengebut di aspal mulus menuju Pantai Sinden.

Tiba di gerbang retribusi area pantai, kami membayar Rp 5.000 per orang kepada petugas. Tiket itu sudah termasuk seluruh pantai yang ada di sana, seperti Pantai Wediombo, Jungwok, Nampu, Sedahan, Greweng, dan Dadapan. Wah, murah sekali, ya, tiketnya? Ya, tiket masuk di Pantai Gunungkidul memang murah meriah, itu pula sebabnya setiap akhir pekan pengunjung membludak memadatai pesisir Samudera Hindia tersebut.

Menuju ke Pantai Sinden, motor kami mengarah ke Pantai Jungwok. Jalan yang dilalui sudah buruk, tanah liat yang licin dan kerikil memenuhi jalan menggoncang perut kami sampai ke area parkir. Sayang sekali, padahal ada 4 pantai di sini, tapi dari dulu belum juga diaspal jalannya. Bisa dibilang pengunjung sangat ramai setiap pekan di kawasan pantai tersebut.

Untuk biaya parkir hanya Rp 2.000 per motor. Biasanya yang mengelola parkir warga sekitar yang sehariannya berladang di area sekitar pantai. Nah, sebagai informasi  yang berkunjung ke wisata pantai daerah sini itu anak muda, guys. Mereka dari berbagai kampus camping di Pantai Jungwok, Greweng, Sedahan, dan Sinden. Setelah menitipkan motor, kami trecking menuju Pantai Sinden melewati jalan setapak.

Jalan setapak itu kanan-kirinya adalah ladang milik petani, seperti tanaman kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, jagung, bahkan juga ada sawah. Selain itu di sana juga terdapat kandang kambing, lembu, dan kerbau. Hewan ternak di sana sangat sehat dan gemuk, dan selalu berisik ketika mendengar derap kaki langkah dari pengunjung.

Pepohonan menjulang tinggi, daunnya rindang menaungi kami saat matahari mulai garang memanggang kulit. Dan kaki kami terus melangkah, penuh semangat dan girangnya sambil bercanda ria. Hampir setiap 30 meter berjalan, beberapa rombongan keluar dari pantai dengan cariel di pundaknya. Ya, mereka baru pulang dari camping di pantai.

Akses menuju pantai sangat sulit dan terjal, bebatuan cadas merajai jalan. Bahkan saking tingginya bebatuan itu sudah seperti bukit, atau gua yang menyeramkan. Meski begitu petualangan kami tetap asyik sampai menjumpai sebuah warung di sana. Dahaga sejak tadi tertahan, dan peluh keringat membanjiri sekujur tubuh. Tentunya sangat segar minum es teh di sana. Berhentilah kami sejenak di warung tersebut sembari bercerita dengan pemilik warung dan pengunjung lainnya.

“Kalau ke Pulau Kalong dari belakang warung Pantai Greweng, Mas. Nanti Mas ikuti jalan ke arah bukit. Sebelah bukit itulah Pantai Sinden atau Pulau Kalong,” kata Ibu pemilik warung dengan bahasa Jawa.

Sebenarnya kami sudah 2 kali ke pantai Greweng, tapi baru tahu ada Pantai Sinden dan Pulau Kalong tersebut.

Saya juga menanyakan tentang gua yang menarik perhatian kami di atas tadi.

“Kalau gua itu belum dikelola. Mengenai dalamnya saya tidak tahu, tapi yang pastinya dalam. Dan di dalam gua itu ada banyak jalannya, bercabang-cabang jalur di sana,” katanya.

Sepertinya saya akan mencoba memasuki gua itu di lain kesempatan. Tentunya bersama teman-teman yang pemberani dan berjiwa petualang, bukan yang penakut. Karena memasuki gua dibutuhkan mental pemberani, fisik yang kuat, cerdas, dan jeli membaca alam.

Setelah mengobrol dan ludesnya mie yang kami pesan tadi, petualangan kembali dilanjutkan dengan tenaga dan semangat baru. Tapi Rizka tampak saja masih kelelahan, karena memang begitulah dia. Gayanya saja sok anak petualang, padahal manjanya bukan main.

Di sebelah Timur (kiri) pantai Greweng, berjejer warung-warung yang menjajakan makanan dan minuman. Nah, dari situlah akses menuju Pulau Kalong. Jalan setapak itu mengikuti arah bukit yang cukup tinggi. Kami harus mendaki melewati jalan setapak yang dipenuhi bebatuan cadas khas Gunungkidul. Oh ya, jika Anda ke sini suatu hari nanti, pastikan memakai sepatu atau sandal trecking. Karena kalau sepatu atau sendal biasa, bisa putus atau rusak.

Dari atas bukit, Pantai Sedahan juga terlihat dari sini. Jadi letak Pantai Sinden alias Pulau Kalong itu berada di tengah-tengah antara Pantai Sedahan dan Pantai Greweng. Dari bukit ini juga bisa menuju ke Pantai Sedahan, tapi sepertinya rutenya jauh lebih sulit. Kalau menuju ke Pantai Sedahan mengambil jalur ke kiri, sedangkan ke Pantai Sinden ke kanan.

Jalan yang kami lalui semakin ekstrem, jalan setapak yang kami lalui kemiringannya mencapai 180 derajat. Harus ekstra hati-hati, terpleset saja bisa masuk ke jurang, laut yang dipenuhi batu karang tajam. Sebaiknya jika membawa teman perempuan selalu beriringan dan saling menjaga, bila perlu dipegang tangannya. Karena jalan ini benar-benar bahaya, sepele saja bisa terjatuh. Serius.

Pulau Kalong Gunungkidul

Indahnya Pulau Kalong | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Tidak jauh dari medan paling sulit itu, tampaklah Pulau Kalong yang ditumbuhi pepohonan dan rerumputan liar khas Gunungkidul. Pulaunya sangat eksotis, terlebih lagi pada sisi pulau, dan menakjubkannya lagi adalah ombak di sana sangat besar dan dahsyat. Suara gemuruhnya terdengar dari ujung ke ujung. Benar-benar sebuah pulau yang dahsyat. Oh ya, konon katanya Pulau ini dinamakan Pulau Kalong oleh warga sekitar karena dulunya nelayan di sini banyak menemukan kalong (kelelawar) di pulau tersebut. Karena itu pula dinamakanlah Pulau Kalong yang artinya Pulau Kelelawar.

Nah, saya melihat sepertinya di sekitar inilah biasanya didirikan tenda untuk bercamping. Posisinya sangat bagus, dan tepat menghadap ke arah matahari terbit. Lalu kami berjalan lagi merapatkan diri ke Pulau Kalong yang begitu kuat magnetnya menarik kami. Saya benar-benar tidak sabar bagaimana rupa jembatan Pulau Kalong yang selama ini santer di media sosial.

Tak ada seorang pun saat kami tiba, tapi nun jauh di sana kami melihat ada beberapa nelayan yang memancing. Lokasi pantai ini memang surganya bagi pemancing mania dan pemburu lobster. Dan di Pulau Kalong itu lobsternya lebih banyak dibandingkan di tepi pantai. Sama seperti di Pulau Panjang, Pantai Timang, surganya pemburu lobster.

Di Pantai Sinden ini, tidak ada pasir landainya, jadi sepanjang tepian pantai adalah tebing-tebing curam dan karang cadas. Jadi jangan bayangkan Anda bisa berlari-lari manja di pasir selembut es krim. Yang ada adalah jembatan ekstrem Pulau Kalong. Di sanalah kalau mau berlari-lari manja, hahaha. Dari papan pengumuman terlihat biaya memancing ke Pulau Kalong per orangnya Rp 100.000, Camping Rp 50.000, sedangkan untuk berfoto/selfie Rp 25.000.

Tapiii… karena petugas atau pengelola Pulau Kalong saat itu tidak ada, kami gratis bebas menikmati segala fasilitas yang ada. Yihaaa! Hahhaha. Saya tidak tahu pasti apakah memang Pulau Kalong ini tidak dikelola lagi atau bagaimana. Kalau memang masih dikelola kenapa tidak ada petugasnya ya, kan? Padahal hari Minggu, lho.

Jembatan Kalong

Saatnya uji nyali menyeberangi jembatan ekstrem Pulau Kalong | Foto asmarainjogja, Rizka Wahyuni

Sungguh saya senang sekali, dan tidak sabar melangkahkan kaki di atas jembatan ekstrem tersebut. Sedangkan Rizka mukanya pucat pasi. Dia tidak berani ikut saya menyeberangi pulau, padahal sudah saya bujuk dan pastikan jembatan ini aman. Hanya bergoyang-goyang saja ketika dilewati, hahaha. Ya, maklumlah namanya jembatan yang dibuat dari kayu, dan hanya diikat dengan tali tambang.

Rizka di Pulau Kalong

Rizka cuma berpose di depan jembatan gantung Pulau Kalong | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Meskipun sudah saya bilang aman, dia tetap takut dan hanya mematung melihat saya menyeberangi jembatan. Memang, sih, awalnya ngeri-ngeri sedap, tapi lama kelamaan semakin asyik. Goyang-goyang gimana gitu? Hahaha. Dan lebih mendebarkan lagi setiap papan yang diinjak suaranya berderit mencemaskan jantung. Dalam benak saya, “Ini kuat nggak, sih, papannya?” sembari memilah-milih mana papan yang kokoh dan mana papan yang tidak begitu kuat terikat dengan talinya.

Harus saya akui pula, sebenarnya pusing juga melewati jembatan maha ekstrem tersebut. Sebab mau tak mau arah mata saya harus ke bawah melihat jalan, nah di bawah itu ombaknya dahsyatnya minta ampun. Saking dahsyatnya uap ombak itu sampai naik ke atas. Wah, ombaknya benar-benar mengerikan. Tidak terbayangkan kalau sampai jatuh ke bawah, langsung, deh, ditelan ganasnya ombak Samudera Hindia. Wassalam asmarainjogja. Tapi doakan selalu, ya?! Biar tetap selamat untuk  petualangan selanjutnya.

Gondola di jembatan Pulau Kalong

Gondola di jembatan Pulau Kalong | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Selain jembatan, ada juga gondola gantung. Gondola itu sebelum adanya jembatan gunanya untuk menyeberang para nelayan yang memancing atau memburu lobster di Pulau Kalong. Sekarang tidak tahu masih berfungsi atau tidak. Lagi pula sudah ada jempatannya, ya, tidak mungkinlah menggunakan kereta gantung yang sangat ekstrem tersebut.

Sungguh, benar-benar sayang, guys! Saya tidak bisa meng-eksplore terlalu jauh  apa yang ada di Pulau Kalong, sebab si Rizka sudah teriaaki saya dari ujung sana.

“Bang, balik lagi! Takut Rizka sendiri,” teriak Rizka ditelan gemuruhnya ombak.

Jembatan Pulau Kalong

Rizka teriak-teriak dari seberang | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Benar juga, sih, dia takut. Mengingat dia memang cewek penakut, apa boleh buat, saya harus balik kanan lagi menghadap jembatan yang nyaris mencopotkan jantung itu. Sambil melangkah di atas jembatan yang papannya tidak utuh tersebut, saya sempat merekamnya, guys! Lihat sendiri, deh, bagaimana ekstremnya Jembatan Pulau Kalong ini. Kalau ada nyali dan penasaran boleh, deh, kunjungi ini pulau.

Lihat videonya, guys!

Nah, letak Pantai Sinden atau Pulau Kalong berada di Desa Jipitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Saran saya, kalau memang tidak berani, tidak usah memaksakan diri, guys! Soalnya memang benar-benar berbahaya. Tapi kalau lagi ada pemandunya, bisa minta tolong dengan mereka agar lebih aman lagi. Oke, sampai jumpa di petualangan berikutnya bersama saya dan si menyebalkan Rizka. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Pantai Timang Sangat Populer di Negara Malaysia

Terpanggil oleh Keindahan Pantai Sedahan

Sepotong Keelokan Pantai Greweng di Deretan Pantai Indah Gunungkidul

Pantai Dadapan di Gunungkidul, Keindahan yang Terabaikan

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Wisata Jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Memanfaatkan TikTok sebagai Penopang Ekonomi Mandiri (Studi Kasus)

Asmarainjogja.id-Indonesia merupakan pengguna TikTok keempat terbesar di dunia. Pada Agust…