Home Uncategorized Opini Sampai Kapan Menghamba pada Perusahaan Nakal?

Sampai Kapan Menghamba pada Perusahaan Nakal?

10 min read
0
0
30

Ilustrasi karyawan | Foto Shutterstock

Asmarainjogja.id – Pernakah Anda menyaksikan pertumbuhan sebuah usaha yang sangat pesat, namun dibalik kesuksesan tersebut terjadi pembodohan besar-besaran umat manusia? Ya, kenapa saya bilang demikian? Begini, pada dasarnya manusia butuh uang untuk mencukupi biaya kehidupannya. Biasanya pula manusia yang berprofesi menjadi buruh, harapan satu-satunya untuk menopang keluarga dengan bekerja di perusahaan tersebut.

Nah, karena alasan itu pula seseorang bekerja hanya menggantungkan pada perusahaan tempat ia bekerja, meskipun tenaganya dieksploitasi. Mengingat juga semakin sulitnya mencari kerja di perusahaan lain, terlebih lagi ijazah SMA yang dipunya, skilnya juga pas-pasan. Maka mau tak mau ia sekuatnya bertahan di tempat ia bekerja saat ini, meskipun dengan gaji yang sangat murah.

Pekerja tipe seperti ini kerap dijadikan sapi perah oleh perusahaan yang tidak mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Bagi perusahaan itu keuntungan lebih diutamakan dibandingkan yang lainnya. Bodo amat dengan penderitaan karyawannya, tidak perduli dengan nasib buruhnya, dan perduli setan dengan masa depan orang yang bekerja untuknya. Dan lebih tragisnya lagi, silahkan resign, pintu perusahaan terbuka lebar bagi para buruh yang kritis dan suka menuntut.

Perusahaan semacam ini banyak sekali di Indonesia, mulai dari perusahaan sekelas lokal, maupun sekelas nasional. Adalah sebuah kerugian jika membayar tinggi para buruhnya, meskipun keuntungan perusahaannya sangat besar. Harus diakui pula, buruh tidak ada hak untuk menentukan gaji terhadap perusahaan, apalagi perusahaan membentengi diri dari upah minimum rata-rata dari pemerintah. Karena itu pula setiap hari Buruh Nasional, para penjual tenaga ke perusahaan itu berbondong-bondong beraksi di jalan menuntut kenaikan upah terhadap pemerintah.

Apesnya, meskipun setiap tahun aksi besar-besaran, setiap tahun pula kenaikan upah, maka setiap tahun pula kehidupan pokok naik. Jadi hasil kenaikan upah itu tidak terlalu berdampak pada perekonomian para buruh itu sendiri. Fenomena ini akan terus berulang-ulang setiap tahunnya. Boleh jadi sampai akhir pensiun, kehidupan buruh tidak mendapatkan harapan sebagai seorang buruh seutuhnya. Boro-boro, bisa kuliahkan anak tinggi-tinggi, hidup sehari-hari juga sulit.

Uniknya mindset para buruh di Indonesia ini, tidak banyak yang mau keluar dari dunia bekerja di perusahaan. Mereka yakin perubahan nasib itu dari tempat bekerjanya saat ini. Ketakutan menjadi alasan juga kenapa mereka betah hanya bekerja. Padahal tidak ada salahnya mencoba mencari peluang usaha lain. Coba bayangkan jika setiap tahun bekerja di perusahaan itu naiknya hanya 100 ribu atau 200 ribu, apa mungkin di tahun ke-8 bekerja bisa mengubah perekonomian keluarga secara drastis? Tidak mungkin!

Misalnya gaji hari ini 1.500.000 (satu juta lima ratus), itu artinya di tahun ke-8 bekerja, menjadi 2.300.000 (dua juta tiga ratus). Mungkin terlalu kecil, baiklah buat saja 3.000.000 (tiga juta). Angka tiga juta di tahun 2025 sudah tidak berarti lagi. Tidak usah di tahun-tahun yang akan datang, uang sebesar itu pun untuk saat ini pas-pasan. Bagaimana mungkin bisa beli rumah atau bangun rumah, beli tanah, beli mobil, mencukupi pendidikan anak untuk masa depannya dengan gaji sekecil itu?

Tragis sekali sebenarnya kalau membahas nasib pekerja kita. Lalu solusinya bagaimana? Mau tak mau pekerja itu sendiri harus memikirkan masa depannya di kakinya sendiri, tidak tergantung dengan pemerintah, apalagi tergantung dengan perusahaan tempat ia bekerja. Artinya apa? Ia harus mandiri sendiri. Mandiri dalam memilih jalan ekonomi sendiri, yakni menjadi seorang pengusaha. Usaha apapun itu, yang penting tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku, dan tidak haram oleh agama.

Usaha itu sendiri ada 2 kategori, pertama usaha jasa, dan kedua usaha yang menjual produk. Di sini kita bisa memilih, tergantung masing-masing skil yang dimiliki saat ini. Misalnya saja punya skil memangkas rambut, tidak ada salahnya membuka barbershop kecil-kecilan. Dilihat dari modal, untuk memulai usaha jasa ini terbilang kecil. Modal utamanya jelas alat potong rambut itu sendiri, mesin potong rambut, gunting, cermin, dan kursi. Itu merupakan alat utama untuk memangkas rambut. Sedangkan prospek ke depannya cukup bagus, mengingat setiap bulan biasanya seseorang itu pangkas rambut, terlebih lagi yang bekerja mewajibkan karyawannya berpenampilan rapi.

Cari hijab cantik dan murah? Padusi Hijab jawabannya. Memang terkenal paling murah. Klik  di sini! 

Nah, ini adalah salah satu contoh usaha yang bisa dikembangkan. Kalau mau ditulis sungguh banyak sekali. Tergantung pada diri sendiri, skil apa yang dimiliki, dan bidang bisnis itu cukup baik atau tidak.

Sedangkan bagi yang pandai memasak bisa juga menjual makanan, contoh membuka usaha kuliner. Kalau pandai memasak nasi goreng, sate, bakso, mie ayam, pecal, gado-gado, atau juga buka warung makan, ini juga patut dicoba. Dan tahukah bahwa masyarakat Indonesia itu doyan makan di luar? Budaya pekerja di Indonesia itu lebih suka beli makan di luar daripada bawa bekal dari rumah.

Satu hal yang tidak boleh kita lupakan, bahwa dengan musimnya ojek online memperlancarkan lagi bisnis kuliner Indonesia. Konsumen yang malas antre atau terkena macet di jalan, ia hanya duduk di rumah memilih menu makanan di aplikasi smartphone, lalu order. Sekitar 20 menit kemudian driver ojek online sudah mengantarkan pesanannya. Bayangkan begitu mudahnya sekarang berbisnis di zaman modern ini.

Dan kita apakah hanya menjadi konsumen setiap hari sampai berpuluh-puluh tahun? Sedangkan para pengusaha terus berkembang dan semakin kaya raya, kita sendiri hidupnya begitu-begitu saja. Nyaris, tragis, dan miris. Hidup penuh dengan utang, setiap bulan tagihan datang, tidur pun tak tenang. Pernahkah kita sadari semakin buntu otak seseorang, mentalnya terganggu? Emosional, berburuk sangka terhadap keadaan, dan melihat orang lain selalu tidak senang. Ini juga faktor-faktor yang keluar dari keadaan seseorang yang kehidupannya sulit.

Sebab itulah seorang buruh harus mengubah nasibnya sendiri dengan berani keluar dari jeruji penghambaan perusahaan nakal. Tidak perlu lagi  mengeluarkan tenaga, pikiran, dan loyalitas terhadap perusahaan semacam itu. Tidak ada yang akan membela kita, jika bukan kita sendiri yang mengambil pilihan. Sekarang ada 2 pilihan, tetap menjadi hamba perusahaan atau menjadi bos sendiri walaupun usaha kecil-kecilan?

Ingat pula, peluang terbuka besar bagi yang ingin bergelut di dunia bisnis, teknologi sungguh membuka pintu rezeki kita semua jika cerdas memanfaatkannya. Begitu pula jika tetap keukeh ingin jadi pekerja, nasibnya bukan di tangannya sendiri, hanya berharap dari pemerintah dan perusahaan. Tapi apakah pemerintah dan perusahaan itu peduli terhadap nasib buruh? Jawabannya Tidak! [Asmara Dewo]

Hijab

Baca Juga: 

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Penganiayaan terhadap Steven Menambah Kasus Rasisme Warga Papua oleh Aparat Keamanan

Asmarainjogja.id-Penganiayaan yang dilakukan oleh dua anggota Polisi Militer Angkatan Udar…