Home Uncategorized Opini Virus Corona Seperti Buah Simalakama

Virus Corona Seperti Buah Simalakama

9 min read
0
0
281

Penampakan virus corona | Foto credit [NIAID Flickr]

Asmarainjogja.id–Dunia sedang digemparkan oleh sebuah Virus Corona atau Covid-19. Virus ini sangat berbahaya bagi manusia karena penularannya yang cepat dan masif. Covid-19 ini pertama kali mewabah di Negara China, tepatnya di Wuhan.

Entah darimana asal mulanya sumber penyakit ini datang. Namun usut punya usut ada yang mengatakan bahwa Covid-19 ini dari kalelawar dan ular. Sebab warga Wuhan di China gemar sekali makan-makanan anti mainstream  tersebut.

Virus ini mudah menular dan sangat mematikan. Namun kita jangan terlalu panik, tidak sedikit pula yang sembuh dari penyakit ini. Walaupun begitu, tindakan preventif sangat perlu kita lakukan. Seperti kata pepatah “lebih baik mencegah daripada mengobati”.

Pemerintah sudah mengimbau kepada masyarakat agar tetap di rumah saja dalam melakukan pekerjaan, belajar, dan beribadah. Ini dilakukan agar penularan virus tidak semakin membesar. Jika kita logikan saja begini, 1 orang bisa menulasrkan 10 orang. Lalu 10 orang itu bisa lagi menularkan ke masing masing-masing 10 orang lagi. Jumlah yang besar bukan?

Maka, salah satu cara terbaik baik bagi kita adalalah tetap di rumah. Jika tidak ada keperluan yang penting sebaiknya di rumah saja. Dengan begitu kita telah memutus rantai penyebaran virus. Dan di sini kamu sudah selayaknya disebut pahlawan.

Namun bagaimana jika kalian ingin keluar rumah dan membeli sesuatu? Bahan makanan misalnya. Ya, itu adalah kebutuhan pokok manusia. Tapi, jangan lupa kenakan masker dan selalu membawa hand sanitizer!

Yang lebih konyolnya lagi adalah pada saat penyakit ini sudah sampai di Indonesia, namun kebutuhan masker sangat langka. Usut punya usut ternyata masker-masker dari Indonesia di ekspor besar-besaran ke Cina sebelumnya. Dan ketika Virus ini menyebar ke Indonesia, masyarakat kekurangan masker. Belum lagi maraknya penimbunan masker dan dijual dengan harga yang tidak wajar.

Dalam kondisi saat ini, jangan pernah kita merasa paling sehat. Mengapa begitu? Karena virus ini tidak terlihat oleh mata telanjang. Orang yang mengidap Covid-19 dengan orang yang tidak mengidap sekilas tampak sama. Tidak ada perbedaan.

Ini adalah virus baru. Sebaiknya kita sebagai manusia yang berakal harus melawan rasa ego. Sayangi dirimu dan orang lain. Dengan tetap mengikuti instruksi pemerintah agar tetap dirumah saja. Sebab virus ini menyerang siapapun tanpa pandang bulu.

Lalu, apakah kebijakan pemerintah sudah baik dilakukan? Saya rasa sampai di sini pemerintah sudah melakukan usaha semaksimal mungkin untuk melindungi rakyatnya. Namun memang harus kerja ekstra keras saling gotong-royong adalah kunci keberhasilan dalam melawan Covid-19.

Dari segi medis. Negara kita masih sangat minim sekali. Selain kurangnya tim medis juga kurangnya alat pendukung keperluan medis. Salah satunya adalah Alat Pelindung Diri (APD) yang harus impor dari China. Bahkan dengan kebutuhan yang mendesak akhirnya bahan tersebut dijemput oleh TNI-AU.

Dari segi ekonomi. Ini seperti buah simalakama. Serba salah, maju kena mundur juga kena. Di beberapa negara dalam mengurangi penyebaran Covid-19 dilakukan dengan kebijakan lockdown. Semua aktivitas dihentikan. Kecuali toko  kebutuhan bahan pokok.

Lalu bagaimana nasib rakyat miskin? Yang biasanya bekerja hari ini untuk makan hari ini juga. Apa yang harus mereka lakukan jika di-lockdown. Tentu mereka-mereka itu tidak bisa makan dan bertahan hidup. Jika sebagian orang berduit berbondong-bondong memborong makanan untuk stok.  Jadi bagaimana nasib mereka?

Apakah pemerintah sanggup membiayai keperluan rakyat yang kurang mampu. Jika saja mampu, mungkin Indonesia sudah di-lockdown  jauh-jauh hari. Mengingat Negara Indonesia adalah negara berkembang dan sudah ditetapkan statusnya menjadi negara maju oleh Amerika. Namun tetap saja   Indonesia adalah negara berkembang. Sebab ketimpangan sosial yang tinggi antara si miskin dan si kaya tampak jelas.

Tukang becak, pedagang kaki lima, pedagang asongan, penjual keliling, supir angkutan umum, yang berprofesi sebagai transportasi online. Itu semua adalah orang-orang yang sangat terdampak dari Covid-19 ini.

Pemerintah sudah menginstruksikan agar semua masyararakat tetap di rumah saja. Semua tempat wisata tutup, dan diimbau agar menghindari tempat keramaian. Pupus sudah harapan kaum miskin kota untuk bisa mencari nafkah. Ibarat buah simalakama. Di-lockdown  rakyat bisa mati, karena tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup.   Tidak di-lockdown  masyarakat juga bisa mati, karena penyebaran virus bisa semakin besar. Serba salah!

Sampai saat ini Jakarta adalah daerah yang paling banyak kasus pandemik Covid-19. Dan Jakarta sebagian besar adalah orang-orang perantauan. Nah, si orang perantau ini juga bingung meratapi nasibnya. Mata pencahariannya mati. Jalan satu-satunya adalah pulang kampung. Mungkin kalau di kampung dia tetap bisa bertahan hidup jika bertani, itupun kalau ada lahan pertanian yang digarap.

Tapi itu bukan pilihan. Sebab, kalau perantau pulang apakah dalam keadaan sehat? Bisa jadi dia pulang membawa penyakit dan menularkannya kepada warga yang ada di kampung. Malah ini semakin repot urusannya. Benar-benar buah simalakama.

Belum lagi masyarakat yang mempunyai tanggungan. Baik itu perbankan maupun kredit motor. Tidak mungkin mereka bisa membayarnya. Karena tidak adanya pemasukan. Presiden Jokowidodo sudah mengumumkan bahwa akan memberikan dispensasi satu tahun bagi masyarakat yang kredit motor, tapi itu hanya untuk ojek online.

Kebijakan yang bagus menurut saya. Namun alangkah baiknya jika disamaratakan saja. Bukan hanya ojek online  akan tetapi masyarakat pada umumnya. Karena seluruh masyarakat Indonesia putus mata pencahariannya dan tidak sanggup membayar angsuran.

Sampai saat ini, petani adalah satu-satunya profesi yang tidak bisa di-lockdown. Mereka adalah kunci kehidupan. Walau hasil mereka tidak banyak. Setidaknya cukup untuk makan sehari-hari. Petani desa tidak terdampak dari virus ini. Apapun yang terjadi mereka tetap bekerja.

Semoga virus ini segera berakhir. Dan semua kembali normal seperti semula. Ekomoni Indonesia segera membaik. Serta Indonesia melahirkan generasi emas.

Penulis: Angin, PJ Internal Bintang Inspirasi

Baca juga tulisan Angin lainnya:

Suasana di Titik Nol Kilometer Yogyakarta 

Pentingnya bagi Mahasiswa dalam Berorganisasi di Kampus 

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Sebelum Berangkat, Ini 10 Tips Bertualang ke Curug Lawe

Asmarainjogja.id-Pesona Curug Lawe yang berada di Lereng Gunung Ungaran memang tak diraguk…