Home Sahabat Muda Berbagi Menjadi Advokat Rakyat

Menjadi Advokat Rakyat

10 min read
0
0
104

Ilsutrasi advokat | Foto VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi

Asmarainjogja.id–Advokat sebagai penegak hukum, setara dengan polisi, jaksa, dan hakim, klaim itu bisa dilihat pada Pasal 5 ayat 1 Undang-Undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang berbunyi: “Advokat berstatus sebagai penegak hukum, bebas dan mandiri yang dijamin oleh hukum dan peraturan perundang-undangan”. Dalam peradilan suatu negara, para penegak hukum seperti polisi, jaksa, dan hakim merupakan perwakilan dari pemerintah atau negara, sedangkan Advokat merupakan perwakilan dari rakyat.

Nah, jika advokat merupakan perwakilan rakyat artinya advokat merupakan ujung tombak keadilan versi rakyat. Bicara soal keadilan memang punya pandangan masing-masing dari berbagai pihak. Bisa saja adil versi pemerintah, tapi tidak adil versi rakyat. Sebagai contoh kasus-kasus yang berkaitan dengan pengadaan tanah bagi kepentingan umum, atau proyek-proyek pemerintah yang merugikan rakyat banyak, jika kasus-kasus itu sampai di meja hijau, siapa yang menang? Mungkin pembaca sudah bisa menjawabnya. Inilah maksud penulis keadilan itu versi siapa?

Soal gaya berpakaian, advokat identik dengan jasnya, rambut yang klimis, sepatu pantofel yang mengkilap, cincin super gede (kadang emas, kadang juga berlian), tas kecil yang selalu ditenteng kemana-mana. Bahkan saat hari panas pun kalau berada di luar jas hitamnya tak dilepas. Melekat erat. Memang soal penampilan seorang advokat juaranya.


Jangan bicara gaji dengan profesi yang satu ini. Dia tidak digaji ole siapapun. Lalu penghasilannya dari mana? Nah, ini yang buat penasaran. Penghasilan advokat pada umumnya dari honorarium klienya (klien itu seseorang atau badan hukum yang menggunakan jasanya), baik dalam persidangan, maupun di luar persidangan. Berapa tarifnya? Wah, kalau itu tidak pasti, bisa sampai milyaran, atau malah bantuan secara cuma-cuma (istilahnya pro bono).

Honorarium yang super besar itulah banyak generasi muda yang berbondong-bondong ingin menjadi seorang advokat. Terlebih lagi kalau ingat Hotman Paris Hutapea, banyak mahasiswa hukum yang terinspirasi menjadi Advokat karena kesuksesannya. Tajir, banyak relasi, terkenal, digandrungi cewek-cewek cantik, disegani kawan, maupun lawan, bahkan jadi panutan follower-nya, itulah Hotman Paris Hutapea.

Sebenarnya tidak heran melihat advokat itu kaya raya, karena penghasilannya (nonorarium) dari kesepakatan dengan kliennya. Jadi tinggal pasang tarif. Apalagi advokat yang sering dipakai jasanya oleh para konglomerat. Tapi apakah ada advokat yang sederhana? Banyak juga, contohnya para advokat yang mengabdi pada kantor-kantor bantuan hukum.

Bahkan sekelas Direktur LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Yogyakarta gajinya sama dengan UMR (upah minimum rata-rata) Kota Yogyakarta. Penulis tahu ini ketika, Direktur LBH Yogyakarta, Yogi Zul Fadli mengaku saat mengisi kelas profesi hukum yang diadakan di Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram Yogyakarta tahun 2019 lalu. Saat itu peserta banyak yang terkejut, begitu juga dengan penulis.


Dari kelas profesi hukum yang dipaparkan Yogi Zul Fadli ternyata advokat itu tak semudah dan sekeren apa yang kita lihat. Mengingat dia adalah pengabdi hukum di LBH yang menangani kasus-kasus struktural. Sederhananya memahami kasus struktural itu adalah perkara yang dialami oleh rakyat melawan penguasa (penguasa di sini bisa pemerintah, pejabat, atau pengusaha). Contoh perkaranya seperti penggusuran, pelanggaran HAM, PHK (pemutusan hubungan kerja), dan kasus-kasus lainnya soal kerakyatan.

Sejak itu pula penulis tertarik ingin mengabdikan diri untuk menegakkan hukum melalui LBH Yogyakarta. Eh, ternyata tidak semudah yang dikira. Sebelum bergabung di LBH, harus mengikuti kegiatan Kalabahu (Karya Latihan Bantuan Hukum) selama sebulan. Kegiatan itu selain membahas teori bantuan hukum, juga live-in  ke daerah-daerah yang sedang terjadi kasus struktural. Saat itu kebetulan penulis live-in di Dusun Winong, Desa Slarang, Kec. Kesugihan, Kab. Cilacap, Jawa Tengah, dalam kasus hak warga yang dikangkangi oleh PLTU Cilacap.

Selain berpraktik bagaimana mengadvokasi dan pengorganisiran di akar rumput, kami juga membuat laporan kasus tersebut menjadi karya ilmiah. Tugas lainnya adalah membuat konten kreatif, dan kelompok kami memilih membuat puisi yang berjudul Suci.

Dari pengalaman itulah penulis berpendapat bahwa menjadi seorang advokat selain cakap di persidangan, juga cakap di akar rumput. Apalagi menjadi advokat rakyat yang menangangi kasus-kasus strukrtural seperti yang sudah disampaikan tadi. Ingat lawannya adalah penguasa yang mempunyai semua alat untuk menekan perlawanan,   maka satu-satunya senjata pamungkas dalam perlawanan itu adalah persatuan masyarakat untuk memperjuangkan haknya. Jika persatuan itu membulat, membesar, dan menjadi bola api yang menggelinding dahsyat, maka kekuatan dari penguasa pun bisa hancur.


Taruhannya menjadi advokat rakyat adalah nyawa. Intimidasi, ancaman, teror, dan refresif, sudah menjadi makanan sehari-hari pengabdi hukum di LBH. Kenal Munir Said Thalib? Pasti kenal dong. Dia juga seorang advokat, dulu dia pengabdi hukum di LBH Surabaya, Semarang, Jakarta, di YLBHI, dan KontraS. Tetapi perjuangan penegakan hukumnya berujung pada 7 September 2004 di pesawat saat penerbangan ke Belanda, ia diracuni dan akhirnya meninggal dunia. Dan sampai detik ini tokoh intelektual pembunuhan Munir belum terungkap.

Mengingat kisah Munir tentu kita harus berpikir ulang menjadi advokat rakyat. Jika memang sudah bulat tekad kita, maka lanjutkan perjuangannya.

Nah, untuk menjadi seorang Advokat tentu kita harus kuliah berlatar belakang pendidikan tinggi hukum, kemudian mengikuti PKPA (Pendidikan Khusus Profesi Advokat), selanjutnya mengikuti UPA (Ujian Profesi Advokat), dan terkahir magang selama dua tahun secara berturut-turut di kantor hukum.

Memang tidak mudah menjadi advokat, terlebih lagi mengikuti UPA. Otak kita memang diuji saat itu. Pengalaman penulis berhasil lulus UPA, karena memang sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Sejak November 2019 penulis sudah mulai belajar menghadapi UPA yang diadakan pada 22 Februari 2020. Pesan teman penulis, Mardian, dia bilang lebih fokus pada soal essay. Soal essay itu adalah pembuatan surat kuasa dan surat gugatan dengan tulisan tangan. Jadi tangan saya sampai kapalan untuk mengulang-ulang cara penulisan surat kuasa dan gugatan. Teman penulis lainnya yang turut membantu untuk menghadapi soal UPA adalah Andi, dia mengirimi saya materi dan contoh soal. Penulis kenal kedua teman itu saat pendidikan di Kalabahu.

Selain itu penulis juga beli buku bank soal latihan dan strategi UPA, ikut belajar kelompok dengan teman-teman, sampai mengikuti try out di Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Jadi otak kita memang diuji, mampu tidak mengerjakan 120 soal pilihan berganda selama 120 menit, dan mengerjakan soal essay untuk membuat surat kuasa dan gugatannya selama 90 menit.

Penulis yakin kalau teman-teman nanti menghadapi UPA selanjutnya dengan persiapan matang kemungkinan besar juga lulus. Ingat advokat adalah profesi yang mulia (officium nobile), mulailah dari cara-cara yang mulia, agar ke depannya tidak menjadi beban dalam perjuangan untuk menegakkan hukum di Indonesia.

Penulis: Asmara Dewo

Baca juga:


Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Sahabat Muda Berbagi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Berikut 7 Tips ke Wisata Nampan Sukomakmur yang Lagi Hits di Magelang

Asmarainjogja.id-Wisata Nampan Sukomakmur sedang naik daun. Membawa konsep wisata teraseri…