Home Uncategorized Opini Pilunya Dampak Covid-19 dari Segi Ekonomi dan Sosial

Pilunya Dampak Covid-19 dari Segi Ekonomi dan Sosial

9 min read
0
0
109

Ilustrasi/kompas.com

Asmarainjogja.id-Di rumah saja, itulah anjuran dari pemerintah kepada rakyatnya. Namun, apakah ini hal yang baik untuk masyarakat. Demi mencegah agar tidak terjadinya penyebaran Virus Korona. Ya, bisa dikatakan bagus. Namun kalau dari segi ekonomi tentu ini sangat merugikan rakyat.

Work from home  itu dapat dilakukan jika pekerja yang bukan di lapangan. Yang di perkantoran misalnya. Lalu, bagaimana nasib buruh. Mereka yang memproduksi barang di pabrik. Tentu dengan diberlakukannya  work from home sangat tidak berlaku bagi mereka.

Sekarang mari kita lihat lagi bagaimana nasib para karyawan yang bekerja di mall. Karena saat ini pengunjung mall  yang sepi, Maka pada akhirnya perusahaan melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja. Tentu ini adalah pil pahit yang harus mereka telan. Sebab saat ini mereka sangat membutuhkan uang, mengingat tak lama lagi akan memasuki Bulan Syawal atau Lebaran Idul Fitri.

Sebagian besar karyawan berharap akan mendapatkan THR (Tunjangan Hari Raya). Namun nyatanya yang mereka dapat pemecatan bahkan ancaman potongan gaji. Apakah di rumah saja pasca pemecatan dapat menjamin keberlangsungan hidup mereka? Tentu tidak.

Setiap hari korban positif Covid-19 tidak kurang dari angka seratus. Hingga saat ini korban positif mencapai ribuan, serta yang sembuh dan meninggal di angka ratusan. Tentu ini bukanlah angka yang sedikit, Jakarta adalah jumlah pasien posif terbanyak saat ini.

Seperti yang telah kita ketahui secara bersama. Bahwa sebagian besar warga Jakarta adalah orang-orang yang merantau. Sangat membahayakan jika situasi seperti ini para perantau ini pulang ke kampung halaman. Yang ditakutkan adalah mereka menularkan penyakit kepada keluarga yang ada di kampung.

Namun, jika mereka bertahan di kota perantauan pun tak menjamin mereka dapat bertahan hidup. Sebagian dari mereka mungkin orang-orang yang sedang di PHK oleh tempat mereka bekerja. Serta mereka yang berjualan diperantauan terpaksa menutup toko karena sepi pembeli.

Jika kebutuhan hidup para perantau ini dipenuhi oleh pemerintah. Mungkin jargon stay at home  akan mereka lakukan. Sebab, mereka keluar rumah untuk bekerja sebelumnya. Work from home  tentu tidak tepat bagi mereka yang sehari-hari bekerja sebagai ojek online, tukang becak, prdagang asongan, pedagang kaki lima, pemulung, buruh, nelayan dan lain-lain yang bekerja di lapangan.

Bagi ASN (Aparatur Sipil Negara) yang bekerja dari rumah tentu sangat menguntungkan. Sebab, mereka tidak perlu capek-capek pulang pergi ke kantor. Bekerja dari rumah saja tak mengurangi gaji mereka. Bahkan lebih hemat bekerja di rumah daripada di kantor yang lebih banyak pengeluarannya.

Covid-19 ini tidak tahu kita sampai kapan akan berakhir. Sehingga ancaman terbesar sebagian besar umat muslim tidak mudik dan dapat berkumpul bersama keluarga. Sangat sedih jika hal ini terjadi. Sebelumnya bulan puasa juga tidak ditiadakan salat tarawih berjamaah di Masjid, acara buka bersama serta tadarusan. Ujungnya yaitu tidak melaksanakan Salat Idulfitri.

Virus Corona ini benar-benar sudah membuat susah banyak orang. Setiap orang terpaksa harus saling menjaga jarak. Dan tidak sedikit pula sepasang kekasih harus rela menjalani LDR (Long Distance Relatitation).

Lalu, apakah kuliah online  itu merugikan? Ya, mungkin sebagian orang ada yang rugi. Sebab tidak bisa berkumpul langsung bersama teman-teman dan tidak bisa shopping-shopping.  Itu adalah tipe mahasiswa yang hedonisme. Bagaimana sebagian mahasiswa yang lain. Apakah merasakan hal yang sama.

Tentu tidak. Walau belajar dalam jaringan arau daring dan stay at home. Banyak yang bisa dilakukan. Misalnya membaca, olahraga, baca buku serta menulis. Dengan melakukan hal-hal seperti itu sangat konstruktif untuk mengimbangi gaya hidup saat ini.

Di tengah pandemi ini bukan hanya Indonesia saja yang merasakan, hampir di seluruh dunia ini merasakan hal yang sama, walau saya rasa Indonesia termasuk lambat dalam penanganannya. Dan agak menyepelekan sebelumnya.

Selain bekerja dan belajar dari rumah, pemerintah juga mengimbau untuk beribadah dari rumah. Ini ditujukan bukan hanya untuk satu agama tertentu saja. Melainkan untuk semua agama agar beribadah dari rumah.

Tentu ini menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat. Sebagian dari mereka hak kebebasan sudah dihalangi oleh pemerintah. Namun, jika saya amati ini perlu adanya komunikasi yang jelas serta intens melakukan sosialisasi bahkan sampai ke desa-desa.

Karena saya menemukan kasus bahwa ada seorang bapak-bapak yang tidak tau apa itu Virus Korona, ketika mau salat masjidnya di tutup, sehingga bapak tersebut marah-marah. Tentu ini menjadi catatan bagi pemerintah agar semua rakyat tahu bahkan sampai yang paling sepuh.

Di sini saya sedikit berpendapat. Jika tempat ibadah ditutup dan tujuannya untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Tentu ini hal yang baik, karena tujuannya jelas. Kalau ada sebagian orang tidak terima, mungkin itu hanya butuh sosialisasi dan sebaiknya dilakukan dari pintu-kepintu.

Sebab, hingga saat ini saja Makkah juga sedang ditutup. Tidak boleh satu negara pun masuk ke Makkah. Penutupan ini tidak tahu sampai kapan. Yang pasti dibuka kembali saat dunia bebas dari Virus Corona. Bahkan saat ini ibadah haji juga terancam dibatalkan. Bukankah itu salah satu Rukun Islam? Dan wajib melakukannya.

Dari segi sosial dan ekonomi berubah gara-gara Virus Korona. Semoga virus ini cepat berlalu. Sehingga semua masyarakat di dunia ini dapat melakukan aktifitasnya seperti biasa lagi.Yang bekerja, sekolah dan beribadah dapat beraktifitas lagi secara formal.

Dan saat ini adalah ujian terbesar kepada seluruh umat manusia. Tak memandang kaya miskin, tinggi rendah serta apa agamamu. Setiap orang rentan terkena virus ini. Cuci tangan pakai sabun, jauhi keramaian dan kenakan masker kemanapun pergi!

Penulis:  Angin, PJ Internal Bintang Inspirasi

Baca juga artikel Angin lainnya:

Virus Corona Seperti Buah Simalakama

Suasana di Titik Nol Kilometer Yogyakarta 

Pentingnya bagi Mahasiswa dalam Berorganisasi di Kampus 

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Membudayakan Menulis demi Perubahan Pendidikan Indonesia

Asmarainjogja.id-Menulis salah satu modal menggapai impian. Begitu yang sering kita dengar…