Home Belajar Menulis Menyebalkan, 5 Hal Ini Dibenci Penulis Pemula

Menyebalkan, 5 Hal Ini Dibenci Penulis Pemula

9 min read
0
0
338
Ilustrasi kesal saat menulis | Pexels.com

Asmarainjogja.id–Menjadi seorang penulis yang profesional tidaklah mudah, banyak tantangan dan duka citanya saat belajar. Dan dari proses belajar itulah seorang penulis belajar dari setiap kata yang tergores.

Hal itu pula yang membuktikan bahwa penulis tadi mampu melewati segala rintangan yang ada. Dia paham, kalau berhenti menulis karena halangan di depan, maka di situlah karirnya berakhir.

Begitulah setiap awal penulis masyur di dunia ini, punya cerita masing-masing. Dia tidak tumbuh langsung menjadi penulis, sebelum menjadi kupu-kupu bersayap indah, ia terlebih dahulu menjadi kepompong.

Tentu menjadi penulis pemula ada tantangan yang sangat menyebalkan, berikut ada lima hal yang layak diingatkan:

1. Tulisannya dibilang jelek

Ilustrasi saat tulisan dibilang jelek | Pexels.com

Sebagai penulis pemula harus sadar diri, saat pembaca bilang tulisannya jelek. Berarti memang jelek tulisannya. Kita tidak perlu membela diri bahwasanya karya kita bagus. Karena yang menilai tulisan itu pembaca, bukan penulisnya. Tugas penulis adalah menulis, dan tugas pembaca adalah menilainya.

Memang menyebalkan ketika tulisan dibilang jelek, tapi mau bagaimana lagi itulah hasil kerja keras selama ini belajar. Maka selanjutnya, mau tak mau harus mengasah lagi skil kepenulisannya, agar ke depan karyanya bisa lebih bagus lagi.

Nah, kalau tidak mau dibilang jelek tulisannya, mending mulai saat ini mengubur impian menjadi penulis. Jadi pembaca saja yang bisa mengomentari tulisan orang lain. Jelek atau bagus. Terserah, sesuka hati,

2. Sakit hati karena dikritik

Ilustrasi saat tulisan dikritik | Pexels.com

Sebenarnya kritikan itu ilmu kepenulisan gratis yang bisa didapatkan langsung. Karena mengeritik itu menguraikan kesalahan yang ada pada tulisan, lalu menjelaskan tulisan yang benar. Sehingga karya itu bisa direvisi oleh tuannya.

Coba kalau tidak dikritik tulisannya, memangnya siapa yang tahu di mana letak kesalahan dalam menulis? Terkadang penulis itu keliru atau lalai dalam menulis, karena terlalu fokus pada karya. Sehingga hal-hal kecil bisa ketinggalan, dan itu bisa memengaruhi karyanya keseluruhan.

Apalagi dikritik oleh penulis senior yang kejam nan sadis. Kritikus berdarah dingin istilahnya. Wajah penulis pemula bisa merah padam, kalau bisa keluar asap, keluar asap dari hidung. Menyebalkan memang kalau dikritik, seperti dimarah-marah, dan malunya minta ampun. Seolah-olah ditelanjangi di khalayak ramai.

3. Tulisannya dicuekin

Ilustrasi saat tulisan dicuekin | pexels.com

Menulis memang melelahkan. Mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan materi. Terlebih lagi menulis hal-hal yang serius, butuh riset yang mendalam. Jadi menulis itu bukan seperti asal bicara, apalagi bicaranya ngawur. Ada teknik-teknik tertentu yang harus diterapkan, dan ini hanya sesama penulis yang tahu.

Kecewanya setelah menjadi karya utuh, tulisan itu dicuekin. Sungguh menyebalkan! Tidak dianggap ada. Padahal boleh jadi saat proses pembuatan tulisan itu, sang penulis sampai guling-guling untuk menyelesaikannya. Ya, terkadang orang lain tidak tahu, dan memang tidak perlu harus tahu.

Sebagaimana kata sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Meskipun tulisan itu dicuekin, tapi ingatlah dia sudah menjadi dan menyatu pada keabadian itu sendiri.

4. Ditolak redaktur

Ilustrasi tulisan ditolak redaktur | Pexels.com

Penulis pemula itu sudah berandai-andai tulisannya akan dibaca banyak orang. Wah, tentu itu akan keren sekali. Bangganya bukan main karena bisa pamer kepada orang-orang terdekatnya. “Lihat tulisanku ada di sini!”, “Silahkan baca karya hebatku!”, dan lain-lain, kata-kata bangga untuk menyuruh orang lain membacanya.

Tak jarang pula tipe penulis pemula itu akan mengabadikan karyanya pada dinding kamarnya. Potongan tulisannya pada koran dipajang sebagai motivasinya untuk berkarya lebih keren lagi.

Sayangnya itu hanya khayalan penulis pemula saja. Padahal tulisannya ditolak redaktur. Menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi, sang redaktur ibarat tuhan yang bisa menentukan nasib penulis pemula tersebut. Seperti di pengadilan, hakim yang memutuskan segala perkara.

5. Tulisannya tak selesai

Ilustrasi tulisan tak selesai | Pexels.com

Huh, memang menyebalkan ketika kehabisan ide menulis. Naskah fakum begitu saja. Tidak ada tanda-tanda progresif, bahkan satu kata pun tak ditambah pada tulisannya. Memang saat-saat demikian penulis pemula biasanya merasa putus asa. Kecewa terhadap kondisi seperti itu bisa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Dan akhirnya karya itu pun tak selesai.

Di sinilah perbedaan penulis pemula dan penulis yang sudah mahir. Biasanya penulis yang sudah malang melintang di dunia tulisan dia akan tahu menyikapinya. Dengan menyegarkan kembali pikirannya seperti jalan-jalan, atau melakukan sesuatu di luar dunia menulis, akhirnya ide menulis pun bisa muncul.

Bahkan terkadang penulis yang mahir sering mendapatkan ide menulisnya di kamar mandi, dan boleh jadi saat buang air besar. Tampaknya memang sedikit konyol, tapi begitulah kenyataannya. Ide bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Tergantung bagaimana penulis itu menyikapinya.

Lalu bagaimana kalau memang mentok tidak bisa melanjutkan tulisannya? Jika demikian memang sang pennulis pemula itu belum bisa memantik ide menulisnya. Nah, cara-cara memunculkan ide atau mendapatkan ide ini memang perlu dipelajari. Karena di dunia penulisan hal itu sudah lumrah. Jadi sikapi dengan bijak, dan bisa keluar dari masalah itu.

Nah, itulah lima hal yang menyebalkan bagi penulis pemula yang baru terjun di dunia menulis. Masa-masa seperti itu sudah pernah dialami oleh penulis besar. Jadi dengan membaca artikel ini, penulis pemula bisa memahami persoalannya saat menghadapinya.

Setelah hal-hal menyebalkan bisa dilalui dengan santai, maka lihatlah ke depannya, akan ada hal-hal yang menyenangkan bagi penulis pemula menyambut hari esok. Karena sebagaimana kata Tan Malaka “Terbentur, terbentur, terbentuk”. Kalau sudah siap terbentur dengan persoalannya, maka penulis itu pun terbentuk. Menjadi penulis hebat.

Penulis: Asmara Dewo, aktivis literasi komunitas menulis Bintang Inspirasi

Baca juga artikel Asmara Dewo lainnya:

Tetap Berkarya di Musim Virus Corona

Cara Belajar Menulis yang Paling Mudah Diterapkan

Iman Kepenulisan saat Lebaran

Menemukan Bintang Inspirasi Menulis

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Belajar Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Terhindar dari Saudara Nyinyir, Ini 5 Hikmah Terbesar Tidak Kumpul Keluarga saat Lebaran

Ilustrasi kumpul keluarga saat lebaran | Photo by mentatdgt from Pexels Asmarainjogja.id-M…