Home Motivasi Tetaplah Hidup Walau Enggak Berguna

Tetaplah Hidup Walau Enggak Berguna

9 min read
0
0
583
Ilustrasi merasa hidup enggak berguna | Photo by Daan Mooij on Unsplash

Asmarainjogja.id–“Tetaplah hidup walau enggak berguna,” begitu ditulis Boy Candra. Kemudian quotes bijak itu viral, sampai-sampai menjadi imbauan warga saat lockdown.

Selama ini ada kekeliruan kita dalam berpikir. Berpikir keliru menentukan tindakan kita. Jadi berpikir bijak, akan bertindak bijak pula. Ini sederhana, hal yang remeh temeh sebenarnya.

Sebelum adanya wabah yang sangat mematikan ini, kita ingin sekali memaksa diri dan juga orang lain untuk menjadi manusia yang berguna. Alih-alih berguna, yang ada bumi semakin berat menampung anak manusia itu.

Kita dipaksa untuk menjadi manusia yang berguna, baik kepada keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan agama. Nah, jika gagal kita melakukannya, maka kita dicap menjadi “manusia yang enggak berguna”.

Sebenarnya siapa, sih, yang berhak menentukan manusia berguna atau tidak berguna?

Boleh jadi kita yang dianggap tidak berguna pada masyarakat sekitar, di tempat lain kita berguna. Dan mungkin juga dianggap tidak berguna oleh orang tua, namun berguna bagi sahabatnya. Pun begitu, dianggap tidak berguna alias “sampah masyarakat”, tapi berguna bagi alam dan lingkungannya.

Mahasiswa yang hedonis tidak perduli dengan mahasiswa lainnya, tidak perduli dengan atmosfir ekonomi, sosial, dan politik, dan hanya fokus terhadap kesenangannya. Maka tipe mahasiswa seperti itu dianggap tidak berguna oleh mahasiswa yang “sok paling berguna”.

Seorang pemuda yang tidurnya di siang hari, dan bergadang setiap malam, menghabiskan uang orangtua, mabuk-mabukan, pendidikannya terlantar, dan tidak punya kegiatan positif, pengngguran pula, dianggap tidak berguna.

Dan lebih kejam lagi, diancam diusir dari rumah. “Dasar anak enggak berguna!” begitu kata-kata pedas yang terlontar.

Seorang waria tua yang sudah tidak laku lagi menjajakan tubuhnya, akhirnya tertuduh mencuri, lalu dihakimi massa. Wajahnya babak belur dipukuli, dan lebih biadab lagi dibakar hidup-hidup.

Akhirnya meninggal kemudian hari. Warga sadis itu menganggap si waria tadi dinggap enggak berguna, jadi wajar jika diperlakukan begitu.

Pasien yang terbaring di rumah sakit tak bisa bergerak lagi, hanya bisa bernapas dan mengedipkan mata. Menghabiskan biaya berobat yang sangat mahal dan merepotkan sanak keluarga.

Dianggap sudah “enggak berguna” lagi, karena kerjanya hanya berbaring lemah tak berdaya.

Orang tidak waras berkeliaran di jalanan, terkadang tidak pakai baju, kelihatan anunya bergelantungan. Setiap lapar perutnya mengoreki sampah.

Berjalan lagi di sepanjang jalan tanpa tujuan. Ya, karena dia hidup memang mengalir begitu saja mengikuti instingnya. Dan dianggap manusia yang enggak berguna.

Sialnya, ada manusia berhati iblis yang tega meperkosanya. Sekarang kita jadi bingung sendiri, sebenarnya siapa yang enggak berguna? Orang yang dianggap kurang waras tadi atau yang memperkosanya? Bingung, toh?

Karena dianggap “manusia yang enggak berguna”, maka kasus-kasus seperti itu tidak pernah ditanggapi oleh “manusia yang merasa berguna”.

“Orang yang enggak berguna” dan “orang yang sok merasa berguna”, sebenarnya beda-beda tipis. Ini soal pengakuan saja, semakin kita memamerkan apa saja yang sudah dilakukan kepada publik, maka dianggap sudah menjadi manusia berguna.

Sebaliknya, orang yang dianggap “enggak berguna” terkadang tidak perlu diketahui oleh orang lain apa saja yang telah diperbuatnya. Itu urusan pribadi.

Orang yang paham hak orang lain, tentu tidak mudah memvonis “seseorang berguna atau enggak berguna”. Karena ini hanya persoalan eksistensi saja.

Menunjukkan dianggap ada, menyembunyikan dianggap tidak berbuat apa-apa.

Kita harus yakin setiap perbuatan anak manusia cepat atau lambat, sekarang atau lusa akan punya nilai guna.

Nah, ini bahayanya jika terbenam pada benak kita karena dianggap “manusia enggak berguna”, yaitu bunuh diri. Wihhh… mengerikan, toh?

Menurut penelitian, 56 persen orang dewasa ingin melakukan bunuh diri akibat adanya tekanan dari lingkungan dan orang sekitar untuk terlihat sempurna. Salah satu alasannya adalah depresi. Saat seseorang depresi, maka orang tersebut akan merasa bahwa hidupnya tidak lagi berguna (halodoc.com).

Berdasarkan data WHO (World Health Organization) 2019 lalu, setiap satu detik terdapat satu orang yang bunuh diri di seluruh dunia. Terdapat 800 ribu orang yang tercatat melakukan bunuh diri setiap tahun. Bunuh diri adalah penyebab utama kedua kematian di kalangan orang muda 15 sampai 29 tahun (cnnindonesia.com).

Coba bayangkan jika kita kerapa menganggap orang lain tidak berguna, dan mengatakan langsung kepadanya. Kemungkinan besar angka kematian bunuh diri akan semakin tinggi lagi setiap tahunnya.

Karena salah satu penyulut tindakan sadis itu adalah merasa dirinya tidak berguna di dunia ini lagi.

Jadi sebaiknya jangan merasa diri kita adalah orang yang berguna, lalu menghardik orang lain dengan kalimat “manusia enggak berguna!”.

Terlebih lagi saat pandemi Covid-19 ini. Sudah cukup banyak manusia yang meninggal di seluruh dunia.

Sebaliknya memberikan semangat kepada siapa saja agar tetap hidup walau enggak berguna. Karena ini soal kemanusiaan. Manusia yang hidup tentu berguna, meskipun kegunaan itu cukup abstrak untuk diraba.

Memahami itu tidak cukup hanya membaca banyak buku dan beberapa jengkal pengalaman.

Memahami persoalan manusia, maka jadilah manusia yang seutuhnya. Kita bisa memahaminya, sedikit demi sedikit. Ya, walaupun setetes pengetahuan dari luasnya samudera.

Sebagaimana kata Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia di bawah ini:

 “Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatan begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, peradabanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia tak akan bakal bisa kemput”. [Asmara Dewo]

Baca juga artikel lainnya:

Maaf Mak, Aku Tak Pulang Lagi Lebaran Tahun Ini

Si Penantang Sejati

Perjuangan Gadis Traveler Menjadi Mahasiswi Magister UGM

Masih Anak-anak Bekerja Pakai Otot, Sudah Dewasa Pakai Otak

Jatilan paling mengerikan |Asmara in Jogja
  • Tiga Motivasi Perjuangan

    Fajar Mubarok Asmarainjogja.id – Mengamati serangkaian peristiwa yang terjadi di negeri in…
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Motivasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Bagaimana Penegak Hukum Melanggar HAM terhadap Pelaku Tindak Pidana (Skizofrenia)?

Asmarainjogja.id-Siapa saja orang yang melakukan tindak pidana tentu mendapatkan ganjaran,…