Home Uncategorized Opini Budaya Pop Era Postmodern: Antara Tren atau Pemuja Kapitalis

Budaya Pop Era Postmodern: Antara Tren atau Pemuja Kapitalis

12 min read
2
0
311
Ilustrasi party | Photo by Efren Barahona on Unsplash

Budaya Pop Masa Kini

Budaya populer atau lebih dikenal dengan istilah budaya pop atau budaya massa adalah budaya otentik  yang melekat pada ”rakyat”. Budaya pop seperti halnya budaya daerah merupakan dari rakyat untuk rakyat.

Definisi pop dalam hal ini seringkali dikait-kaitkan dengan konsep romantisme budaya kelas buruh yang kemudian ditafsirkan sebagai sumber utama protes simbolik dalam kapitalisme kontemporer (Benet,1982). Artinya, budaya populer berasal dari rakyat dan diperuntukkan bagi rakyat pula sehingga terkesan bernilai rendah karena menjadi sasaran para kapitalis.

Kapitalis menjadi kaum elite atau kelas tinggi yang melahirkan budaya itu, sedangkan kaum bawah yang menjadi pengikut. Secara tidak sadar kaum bawah mengikuti selera massa dengan alasan sedang tren, padahal tidak tahu baik atau buruknya. Budaya pop ini tidak terlepas oleh kapitalis sebagai pemilik modal yang memproduksi kebudayaan tersebut.

Kapitalisme sebagai suatu sistem negara dan pemikirannya tampak karena kepiawaiannya melakukan suatu adaptasi yang cenderung terus mengubah dirinya ke dalam tatanan dunia yang terus berubah tersebut.  Budaya pop yang meliputi kesenian rakyat, sastra populer, drama pop, musik pop, makanan-minuman, dan lainnya, tampak tidak bisa lepas dari cengkeraman para kapitalis mutakhir ini. 

Bahkan, terus mengikuti pusaran zaman yang menawarkan berbagai kemewahan secara praktis sehingga masyarakat dituntut untuk mengikutinya. Jika terus dibiarkan, masyarakat yang lemah secara ekonomi, tidak berdaya.

Budaya populer masa kini dapat dilihat dari gaya hidup masyarakat, khususnya kaum muda yang menjadi sasaran, di antaranya cara berpakaian dan mengonsumsi makanan yang mengikuti orang Korea. Selain itu, pemuda lebih senang nongkrong di kafe-kafe bersama teman-temannya untuk menunjukkan status sosial mereka.

Mereka tidak ingin disebut sebagai pemuda yang ketinggalan zaman. Oleh karena itu, kafe-kafe di wilayah perkotaan mulai menjamur dengan menawarkan berbagai konsep dan menu demi kenyamanan para pengunjung, khususnya kaum muda.

Budaya populer dan bidang ekonomi adalah dua hal yang memiliki hubungan erat. Budaya populer diibaratkan sebagai pelaku, sedangkan ekonomi atau nilai komersial adalah alat gerak atau modal yang digunakan untuk  berkembang. Hal itu dapat ditemukan di media massa baik cetak, maupun elektronik, khususnya televisi. Keduanya saling melengkapi sebab tanpa modal ekonomi, budaya pop sulit untuk diikuti.

Kaum muda dengan mudah terbius wabah budaya populer seperti Korea, Jepang, Thailand, India, dan Amerika. Mulai dari cara berbusana, mengonsumsi makanan-minuman, menggunakan mainan hingga penggunaan bahasa campuran. Akibatnya, muncul tren baru yang kemudian diikuti oleh berbagai kalangan. Berdasarkan fenomena tersebut, geliat budaya populer yang merakyat ini semakin tidak bisa dicegah sehingga perlu penyaringan.

Tidak bisa dipungkiri, melahirkan dilema tersendiri bagi generasi muda. Jika menimbulkan dampak positif bagi kaum muda, dapat diterima. Sebaliknya, jika dikhawatirkan menimbulkan dampak negatif, apalagi sampai mengakibatkan tergerusnya budaya asli bangsa Indonesia, segera ditolak.

Era Posmodernisme

Postmodernisme atau pascamodernisme secara etimologi berasal dari kata post (pasca)-modern-isme. Post dapat diartikan setelah, modern diartikan terbaru atau mutakhir, dan isme diartikan sebuah paham. Jadi, postmodernisme dapat diartikan sebagai sebuah paham yang berkembang setelah masa modern.

Strinati (2016) menyatakan bahwa posmodernisme memiliki keterkaitan dengan gagasan-gagasan jangka panjang mengenai jangkauan maupun dampak konsumerisme dan penjenuhan media sebagai apek utama perkembangan modern masyarakat industri kapitalis. Lebih lanjut Gramsci (1977), menegaskan bahwa perkembangan masyarakat postindustri dan kebudayaan postmodern tidak dapat dipisahkan dari perkembangan konsumerisme di dalam diskursus kapitalisme.

Thwaites, dkk. (2016) mendefinisikan penggunaan istilah modern yang paling lumrah adalah semata-mata sebagai sinonim dengan masa kini (kontemporer): modernitas tepatnya adalah tempat seseorang berada sekarang, kapan pun itu adanya.

Cara yang agak lebih menarik dalam menggunakan istilah itu adalah sebagai deskripsi tentang periode tertentu yang melihat dirinya sendiri sebagai berbeda dari apa yang telah berlalu sebelumnya. Dalam pngertian ini, modernitas akan berarti masalah kemajuan dan pelampauan.

Dalam perkembangannya saat ini, posmodern telah memasuki berbagai ruang kehidupan, termasuk budaya baik di kalangan remaja, maupun orang dewasa yang hampir tidak bisa dibendung. Budaya populer menjadi produk posmodern yang famous yang mencakup kebiasaan, pola, proses, daya pikir, kreasi, dan hasil yang diciptakan oleh manusia. 

Semua anasir itu saling berkaitan membentuk persepsi baru yang sifatnya dinamis. Oleh sebab itu, tidak dapat dipisahkan antara budaya populer dengan masa sekarang (posmodern).

Bagaimana Menghadapi Budaya Pop Era Postmodern?

Kemajuan zaman yang sampai pada revolusi industri 4.0 (bahkan Jepang sudah memasuki era revolusi industri 5.0) banyak menimbulkan sesuatu yang baru dari segi budaya. Terlebih saat ini masyarakat sudah dimanjakan dengan aplikasi instan seperti ol shop dan kendaraan on line yang multifungsi.

Masyarakat bisa memesan makanan atau barang belanjaan sesuai dengan perkembangan zaman tanpa harus repot-repot ke luar rumah dengan bantuan driver ojek online atau kurir. Biaya yang dikeluarkan juga terjangkau. Akibatnya, masyarakat malas bergerak sebab semua serba praktis dan ekonomis.

Selain mendapatkan fasilitas superinstan, masyarakat juga telah dimanjakan oleh tayangan televisi yang bersifat hedonis, misalnya sinetron remaja, masih usia remaja sudah pacaran dan materealistis. Si tokoh utama pergi ke sekolah membawa mobil pribadi dan digandrungi oleh perempuan-perempuan cantik.

Padahal, dalam kehidupan nyata, sangat tidak dianjurkan pergi ke sekolah mengendarai mobil sendiri sebab sekolah bukan ajang pamer harta. Selain itu, dandanan para pemeran pun terkesan mencolok, ada yang menyebutkan dewasa sebelum waktunya.

Sebagai masyarakat harus pandai memilah-milah mana yang sesuai dan tidak. Kepopuleran suatu budaya bisa menjadi sumber keuangan jika dipandang dari kacamata ekonomi. Sebaliknya, bisa juga menjadi momok yang menakutkan jika tidak pandai menempatkannya atau melawan arus global yang melunturkan citra asli budaya bangsa.

Jika budaya luar bisa menginternasional, sudah seharusnya pula budaya nasional yang dikenal secara internasional agar tidak kalah saing, misalnya dengan memperkenalkan batik asli, makanan khas, dan permainan atau tradisi lisan yang masih kental di masyarakat.

Jangan sampai masyarakat luas menjadi pemuja kapitalis yang terus menawarkan beragam pesona dunia elwat produk-produk yang mereka tawarkan. Dengan demikian, budaya populer asing tidak akan terus mewabah pada era posmodern ini. [Asmarainjogja.id]

Penulis: Yulaika Ranu Sastra, pecinta kajian budaya dan literasi menetap di Sumatera Utara.

Baca juga artikel lainnya:

Kartu Pra Kerja dan Nasib Pekerja yang Tak Kunjung Usai

Meraba Bahayanya Gerakan Anarko Sindikalis

PSBB Bagaikan Burung dalam Sangkar

Lagi butuh masker atau hazmat? Cek di bawah ini!

Spesifikasi Produk:

1) Hazmat berbahan spunbond 75gsm, harga Rp80ribu bisa nego.

2) Hazmat berbahan parasut lembut (bisa untuk mantel, pakaian penyemprot, APD nakes), harga net Rp150rb.

3) Masker katun batik 1 lapis-bertali harga Rp8.000/satuan, Rp15.000/2 item. ( Kalau beli banyak bisa lebih murah/nego).

4) Masker 2 lapis (bisa kain katun/yang menyerap & kain spunbond berlogo Aika), bertali, harga Rp13.000/satuan, bisa nego jika beli banyak.

Ready hazmat 200 pcs.
Pengiriman dari Pematangsiantar, Sumatera Utara.
WA: 085362222630 (Aika)

Stock banyak, guys 🙂
Contoh dipakai 🙂
Masker by Aika
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

2 Comments

  1. […] Budaya Pop Era Postmodern: Antara Tren atau Pemuja Kapitalis […]

    Reply

  2. […] Budaya Pop Era Postmodern: Antara Tren atau Pemuja Kapitalis […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Ara dan Kota Kenangan

Asmarainjogja.id-Matahari kian ganas menunjukkan panasnya, seakan-akan berada di atas kepa…