Home Uncategorized Opini Jika “Nasi Anjing” di Hadapan Orang Miskin, Dimakan atau Tidak?

Jika “Nasi Anjing” di Hadapan Orang Miskin, Dimakan atau Tidak?

9 min read
4
0
490
Ilustrasi makan di jalanan | unsplash.com/@trilatori

Asmarainjogja.id-Bagi umat Islam, daging anjing haram dimakan. Liurnya pun najis bila tersentuh. Jadi kasus nasi anjing yang sempat menghebohkan netizen, tentu bisa dipahami. Terlebih lagi sekarang bulan puasa Ramadhan, umat Muslim ingin beribadah lebih baik lagi, dan tentunya memperbaiki akhlak pada bulan suci ini.

Sebenarnya seperti apa nasi anjing tersebut? Nasi itu tak ubahnya nasi bungkus yang biasa dibagi-bagikan oleh dermawan kepada orang-orang yang dianggap kurang beruntung. Namun, pada bungkusnya terdapat cap “Nasi Anjing”.

Mungkin sebagian yang marah-marah itu terlalu sensitif menanggapi isu yang beredar, dan boleh jadi belum mencari data akurat terlebih dahulu. Apakah ini bentuk penghinaan atau merendahkan? Sulit untuk menjawabnya. Karena pada bungkusan itu hanya bertulis Nasi Anjing.

Sekarang warga jelas kesulitan untuk mengais rezeki. Bahkan kita mendengar seorang warga yang mati kelaparan karena sudah beberapa hari tidak makan. Jadi ketika warga yang hidup sulit saat ini diberikan nasi bungkus, tentu senangnya bukan main. Setidaknya sang dermawan sudah membantu orang-orang kecil yang kelaparan.

Meskipun cara kedermawanannya ke depan perlu dievaluasi lagi. Jika niat untuk membantu orang lain, sebaiknya jauhi hal-hal yang bisa mengundang kontroversi. Apalagi sudah berhubungan dengan warga Muslim yang sensitif.

Nah, kalau ada yang menganggap nasi anjing itu adalah penghinaan, ya, sah-sah saja. Mengingat setiap orang boleh berpendapat, dan memang dilindungi oleh hukum.

Nasi Kucing Yogyakarta

Kalau pernah berkunjung ke Yogyakarta, tentu pernah makan nasi kucing. Nasi yang dibungkus oleh daun pisang dan bungkusan koran besarnya cuma sekepalan tangan. Lauknya sambal teri, sambal dendeng, tempe, dan masih banyak lagi. Harganya murah, rata-rata Rp.2.500. Rasanya enak dan insya Allah halal.

Pada bungkusan nasi kucing tidak perlu dituliskan “Nasi Kucing”, karena warga Yogyakarta sudah tahu itu nasi apa. Yang tertulis biasanya jenis lauk pada bungkusan nasi tersebut.

Bagi yang belum pernah makan nasi kucing tentu penasaran. Mungkin juga merasa direndahkan, karena disamakan dengan seekor kucing. Lagi-lagi tipe orang sensitif akan selalu mengaitkan satu hal ke hal lainnya.

Nasi-kucing-manusia. Nasi kucing dimakan manusia. Manusia makan nasi kucing. Manusia dan kucing makan nasi. Manusia dan kucing artinya sama rasa. Begitulah pengalaman kita pertama kali di hadapan nasi kucing.

Padahal diberi nasi kucing bukan bermaksud merendahkan manusia. Tapi menurut keterangan dari pedagang angkringan yang pernah penulis tanya karena nasinya sedikit. Seperti kucing kalau makan porsinya sedikit. Jadi diberi nama nasi kucing. Sesimple itu membuat nama makanan.

Jika Nasi Anjing di Hadapan Orang Miskin?

Seperti yang sudah kita ketahui, karena corona setiap warga mengalami perekonomian yang buruk. Terlebih lagi kaum miskin kota. Yang mengandalkan rezeki sehari-hari untuk makan. Tidak bekerja sehari artinya menahan perut selama sehari itu juga.

Persoalan kemiskinan dan kelaparan memang menjadi momok terbesar pada bangsa ini. Setiap rezim yang berganti belum pernah serius menangani kemiskinan. Rezim lebih mementingkan investor daripada warga miskin. Karena bagi penguasa, kaum miskin hanya objek yang kapan bisa dibutuhkan dan kapan bisa dicampakkan.

Kita bisa lihat ada bupati yang masih sempat-sempatnya memanfaatkan keadaan untuk berkampanye. Dia membagi-bagikan hand sanitizer yang sudah ditempeli fotonya. Maksudnya apa? Jelas itu untuk kepentingan politiknya nanti, Pemilihan Bupati. Dia perduli tidak dengan warga yang kelaparan? Dan tetap masih perduli tidak jika sudah menjabat nanti?

Meskipun hand sanitizer itu dari uang kantongnya sendiri, tapi tetap saja itu kurang beretika. Mengingat warga berusaha untuk terlepas dari bahaya virus corona yang mematikan. Pada masa darurat demikian, sungguh tak elok mengambil kesempatan untuk kepentingan pribadi.

Warga miskin berprinsip yang penting makan. Mereka tidak terlalu perduli dengan urusan politik. Karena pendidikan yang rendah itu pula, kaum papa itu kerap menjadi tumbal kekuasaan.

Sekarang pertanyaannya siapa yang berani mengorbankan dirinya untuk berada di tengah-tengah kehidupan kaum miskin kota? Berani mengambil risiko untuk mengubah perekonomian mereka. Karena jika hanya marah-marah melulu, itu bukan solusi penangangan orang-orang miskin seperti mereka.

Sebagai ilustrasi, seharian bapak tua tidak mendapatkan rezeki, lalu dihadapannya disuguhkan nasi bungkus. Pada saat itu perut keroncongan, karena seharian menahan lapar. Padahal belum tahu kandungan dalam masakan itu apa. Boleh jadi ada minyak babi, kulit biawak, dan mungkin juga ada kuah rebusan ular. Dimakan ternyata enak.

Dalam posisi kelaparan terkadang kita lupa menanyakan, ini halal atau haram? Apalagi yang memberikan berpakaian layaknya seorang Muslim. Ya, percaya saja, karena dari penampilannya tentulah makanan itu halal. Dan yang paling penting adalah makanan itu bisa mengenyangkan.

Setelah bersendawa dan minum es teh, ternyata pada bungkusan makanan itu tertulis “Makanan Anjing”. Kira-kira apa yang ada dalam pikiran bapak tadi? Yang pasti si bapak sudah kenyang, nyawanya hari ini terselamatkan oleh si dermawan. Walaupun yang dimakannya itu tidak tahu pasti apa isinya.

Bagi kaum miskin, bisa makan itu sudah cukup. Kenikmatan yang luar biasa dari Tuhannya.

Hidup ini bukan hanya soal haram dan halal saja. Tapi juga persoalan penindas dan ditindas. Orang-orang miskin yang kerap jadi sasaran nasi bungkus adalah kaum yang ditindas/tertindas. Jika mereka bukan posisi di bawah, tentu tidak butuh nasi bungkus. Sayangnya mereka belum mendapatkan pendidikan ekonomi, politik, dan sosial yang progresif.

Menjauhkan diri dari makanan haram lebih mudah kalau hidup kita terpenuhi (baca: kaya raya). Lain cerita dengan kaum miskin yang masih nanar menatap makanan anjing dan makanan kucing. Karena yang penting bisa bertahan hidup. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Budaya Pop Era Postmodern: Antara Tren atau Pemuja Kapitalis

Kartu Pra Kerja dan Nasib Pekerja yang Tak Kunjung Usai

Meraba Bahayanya Gerakan Anarko Sindikalis

Jatilan Paling Mengerikan
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

4 Comments

  1. […] Jika “Nasi Anjing” di Hadapan Orang Miskin, Dimakan atau Tidak? […]

    Reply

  2. […] Jika “Nasi Anjing” di Hadapan Orang Miskin, Dimakan atau Tidak? […]

    Reply

  3. […] Jika “Nasi Anjing” di Hadapan Orang Miskin, Dimakan atau Tidak? […]

    Reply

  4. […] Baca berikutnya: Jika “Nasi Anjing” di Hadapan Orang Miskin, Dimakan atau Tidak? […]

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Berikut 7 Tips ke Wisata Nampan Sukomakmur yang Lagi Hits di Magelang

Asmarainjogja.id-Wisata Nampan Sukomakmur sedang naik daun. Membawa konsep wisata teraseri…