Home Pendidikan Mengenalkan Kembali Permainan Rakyat di Tengah Era Digital

Mengenalkan Kembali Permainan Rakyat di Tengah Era Digital

18 min read
1
0
336
Ilustrasi main engklek |flickr.com/photos/gedelila

Asmarainjogja.id-Folklor meliputi legenda, musik, sejarah lisan, pepatah, lelucon, tahayul, dongeng, dan kebiasaan yang menjadi tradisi dalam suatu budaya, subkultur, atau kelompok. Folklor juga merupakan serangkaian praktik yang menjadi sarana penyebaran berbagai tradisi budaya.

Bidang studi yang mempelajari folklor disebut Foklroristika. Istilah folklor berasal dari bahasa Inggris. Folklor pertama kali ditemukan oleh sejarawan Inggris, William Thoms, dalam sebuah surat yang diterbitkan oleh London Journal pada tahun 1846 (George:1998).

Lebih lanjut Danandjaja (dalam Emzir, 2016: 209) mengelompokkan tradisi lisan yang berbentuk murni lisan di dalamnya adalah (1) bahasa rakyat (foklspeech) seperti logat, julukan, pangkat, tradisional, dan gelar kebangsawanan; (2) ungkapan seperti peribahasa, pepatah, pemeo; (3) pertanyaan tradisional (teka-teki); (4) puisi rakyat seperti pantun, gurindam, dan syair; (5) cerita prosa rakyat seperti mite, legenda, dan dongeng; dan (6) nyanyian rakyat.

Tradisi lisan sebagian lisan berbentuk campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan. Yang termasuk ke dalam kelompok ini antara lain: (1) kepercayaan tradisional, permainan rakyat; (2) adat istiadat; (3) upacara; (4) teater; (5) tarian rakyat; dan (6) nyanyian rakyat.

Salah satu produk folklor yang sudah mulai ditinggalkan adalah permainan rakyat. Dewasa ini permainan rakyat yang dahulu menjadi kegemaran anak-anak saat memiliki banyak waktu luang telah tergerus oleh kemajuan teknologi digital seperti gadget dan komputer yang di dalamnya terdapat banyak fitur canggih.

Di wilayah perkotaan khususnya, sudah tidak pernah terlihat lagi anak-anak bermain lompat tali, kelereng, pecah piring, engklek, patok lele, gobag sodor, petak umpet, dan sebagainya. Di sebagian wilayah perdesaan masih dapat ditemukan permainan semacam ini sebab fasilitas internet belum menjangkau tempat tinggal mereka.

Di sejumlah wilayah perdesaan yang sudah terkena imbas pembangunan yang sebelumnya tertinggal telah mendapat sentuhan teknologi pun mengalami perubahan secara signifikan, sehingga anak-anak yang hobi bermain di lapangan, sawah, dan lahan kosong lainnya, beranjak meninggalkan kebiasaan tersebut demi mengikuti tren masa kini. Mereka lebih senang duduk berlama-lama bermain di depan komputer di warung internet (warnet) untuk bermain game on line.

Di satu sisi, kemajuan teknologi digital memiliki dampak positif. Anak-anak tidak lagi gagap teknologi (gaptek) atau menjadi lebih modern. Namun, ternyata tersimpan hal negatif, antara lain anak menjadi malas belajar karena kecanduan, menghabiskan waktu secara sia-sia, membuang uang orang tua jika terlalu asyik, dan kesehatan otak serta mata menjadi terganggu. Hal ini tentu akan menambah beban para orang tua.

Dampak Kemajuan Teknologi terhadap Anak

Ilustrasi anak-anak menonto di laptop | Fexels.com/
Agung Pandit Wiguna

Kemajuan teknologi digital yang telah memasuki berbagai lini kehidupan masyarakat, berhasil membawa dampak positif, yakni mempermudah para anak mencari informasi teraktual dan menemukan referensi ketika mendapat tugas dari sekolah. Selain itu, mereka tidak ketinggalan dengan bangsa luar.

Mereka juga akan mudah memeroleh teman baru atau mengundang saat ada acara melalui akun media sosial. Ada juga yang gemar mengabadikan momen perjalanan hidupnya di Istagram dan Youtube agar tersimpan rapi yang suatu saat menjadi kenang-kenangan. Tidak heran jika siswa sekolah dasar saat ini sudah memiliki gadget dan pandai mengoperasikannya.

Sayangnya, jika bertanya kepada anak-anak sekarang yang hidup di kota besar atau di wilayah perdesaan yang sudah menjadi semikota, “Tahukah kamu jenis permainan rakyat dan bagaimana cara memainkannya?” Kebanyakan mereka tidak tahu sebab setiap hari sudah dijejali dengan gadget.

Apalagi saat ini harga gadget mudah dijangkau oleh kantong orangtua sebab sudah banyak merek dan tipe yang sangat menarik dan menawarkan beragam fasilitas.

Para orangtua yang semakin sibuk dengan pekerjaan dan mengabaikan kebutuhan pendekatan emosional terhadap anak. Dan membiarkannya bermain gadget sepuasnya. Oleh sebab itu, saat ini sudah sangat langka ada ibu yang masih mendongengkan anaknya sebelum tidur.

Tampaknya kebiasaan itu hanya berlaku pada masa dahulu. Para ibu membebaskan anak berselancar di dunia maya sendiri sebab sudah bisa mengakses berbagai situs yang memuat cerita anak di kanal Youtube, seperti dongeng Si Kancil dan Buaya, legenda Danau Toba, Situ Bagenit, Tangkuban Perahu, Terjadinya Gunung Batok, Asal-Usul Padi Pulut, dan lain-lain.

Ketika para orangtua menyadari tentang kultur masa kecilnya yang hanya tinggal menjadi cerita sejarah, mereka tidak akan membiarkan sang anak terlalu asyik dengan gadget-nya.

Mereka akan mengajari permainan rakyat yang dahulu dimainkan semasa kecil atau akan tetap mendongengkan kepada generasi emas sebelum tidur agar tersampaikan nilai-nilai edukatif di dalam cerita tersebut. Dengan demikan, anak akan menjadi pribadi yang mudah mengingat, menghargai warisan budaya, dan cepat tertidur karena terbuai oleh penuturan orang tua.

Kebersamaan dengan teman-teman atau tetangga pun akan terjalin melalui permainan rakyat sehingga nilai-nilai sosial yang luhur tetap terjalin. Selain itu, akan menjadi kenangan manis tersendiri ketika mereka dewasa nanti.

Bandingkan jika mereka hanya sibuk dengan gadget sendiri? Dengan tetangga samping kanan-kiri, depan atau belakang rumah pun sudah tidak saling mengenal. Dengan demikian, mereka akan menjadi generasi individualis. Lunturlah kebersamaan dan persaudaraan yang dahulu sangat diagungkan oleh para leluhur.

Ironisnya, hal ini akan berdampak buruk pada masa yang akan datang. Mereka terbiasa dengan sikap apatis. Rasa sombong pun akan muncul sebab tidak saling mengenal. Akan sulit mengubah kebiasaan semacam ini bila sejak kecil tidak diajarkan.

Mereka juga akan menjadi pribadi yang takut dengan lingkungan sekitar atau alam, sebab hanya terbiasa duduk manis di dalam rumah dengan gadget canggih. Ketika dibaurkan dengan alam seperti kegiatan perkemahan, jelajah alam, mandi di sungai, bermain atau melakukan penelitian di lahan persawahan atau perkebunan, mereka akan mengeluh.

Berbeda dengan anak yang sedari kecil bersahabat dengan alam. Mereka terbiasa mandi hujan mengenakan kaos dalam dan celana pendek sambil tetap bermain bersama teman-teman senasib. Merek berenang di sungai yang keruh, memancing, mencari gelagah, menjebak burung, bermain layang-layang, dan beragam permainan yang dekat dengan alam lainnya.

 Dengan begitu, mereka menjadi sosok yang tangguh mengahadapi segala cuaca dan kondisi yang akan terbawa hingga dewasa. Mereka bukanlah generasi yang bermental lemah.

Biasanya anak yang terbiasa bereksperimen dengan alam sekitar, imajinasi dan daya tahan tubuhnya akan lebih kuat karena terbiasa menghadapi segala hal di luar. Mereka tidak manja, cengeng, dan menghargai nilai solidaritas. Oleh sebab itu, para orang tua jangan suka melarang anak yang suka menjelajah atau bereksplorasi dengan hal yang kotor-kotor.

Itulah bukti bahwa anak mereka tangguh dan cerdas. Ketika mereka tumbuh remaja dan harus merantau karena keperluan studi atau bekerja, sudah tidak mengeluh lagi.

Tentu akan berbeda dengan “anak mami” sebutan untuk anak rumahan yang manja ketika berada di rumah, mereka akan menjadikan rumah sebagai surga terindah dan ternyaman sebab tidak boleh keluar. Mereka sudah difasilitasi dengan beragam permainan modern beserta gadget mahal.

Jika ke luar dari rumah selangkah saja sudah diawasi dan ditegur sehingga ruang geraknya stagnan, serta tidak mengenal alam yang begitu indah. Kulit mereka menjadi putih mulus tanpa gigitan serangga. Sayangnya, kebiasaan seperti ini akan berdampak buruk terhadap masa depannya.

Ketika anak mami merantau untuk keperluan studi, mereka akan kesulitan beradaptasi, terlebih mengurus dirinya sendiri. Mereka juga akan kesulitan menjawab pertanyaan yang bisa saja muncul ketika belajar ilmu sosial, bahasa Indonesia, atau sejarah mengenai tadisi lisan dan permainan rakyat yang pernah ada.

Mengenalkan Kembali Warisan Budaya Lewat Studi Sastra di Sekolah

Ilustrasi mengajar di kelas | Flickr.com/Program Pintar

Melalui pembelajaran studi sastra  di sekolah yang mempelajari tradisi lisan atau folklor dan pembiasaan orang tua mengajarkan permainan rakyat dan tradisi lisan, diharapkan anak-anak akan mencintai warisan budaya bangsa agar tetap lestari.

Sayangnya, jika warisan leluhur ini diakui sebagai warisan budaya oleh bangsa lain, sedangkan bangsa sendiri sangat acuh dan sibuk mengurusi hal yang kurang bermanfaat. Ketika sudah muncul hak patennya barulah seperti cacing kepanasan.

Pada hakikatnya, siapa saja boleh menggunakan teknologi digital agar tidak tertinggal jauh dengan bangsa lain serta mempermudah mencari informasi teraktual, referensi, alamat, pelajaran, dan lain-lain. Asalkan tetap pada ukuran yang proporsional dan mengutamakan kultur asli bangsa Indonesia yang nyaris punah akibat tergerus oleh kemajuan teknologi itu sendiri.

Di satu sisi, kemajuan teknologi digital berdampak positif terhadap kemajuan bangsa, tetapi di sisi lain menyisakan kepedihan mendalam. Generasi yang seharusnya peduli terhadap warisan budaya yang teramat mahal dan bernilai seni tinggi, sebaliknya merasa malu jika bersifat ketradisionalan.

Mereka lebih bangga menggunakan gadget dan berpenampilan kebarat-baratan atau kekorea-koreaan sebab sudah terjangkit virus westernisasi. Mereka meninggalkan kecintaannya terhadap permainan rakyat dan tradisi lisan yang pada masa dahulu menjadi sarana pembelajaran yang dilakukan oleh nenek moyang.

Lantas, akankah hal ini diabaikan dan membiarkan keapatisan itu terjadi begitu saja? Jawabannya ada di hati masing-masing. Sudah sepantasnya beramai-ramai merangkul sesama untuk tetap melestarikan peninggalan budaya yang menjadi ciri khas bangsa yang besar ini.

Bila perlu mengesahkan undang-undang dan memberikan hak paten terhadap hasil kreatif leluhur. Kemudian, berani memperkenalkannnya di kancah nasional maupun internasional, serta tidak malu. Jika bukan kita, siapa lagi? Haruskah bangsa lain?

Penulis: Yulaika Ranu Sastra, pecinta kajian budaya, sosiologi, literasi, dan penyuka dunia fesyen menetap di Sumatera Utara

Baca juga:

Budaya Pop Era Postmodern: Antara Tren atau Pemuja Kapitalis

Jika “Nasi Anjing” di Hadapan Orang Miskin, Dimakan atau Tidak?

Kartu Pra Kerja dan Nasib Pekerja yang Tak Kunjung Usai

Meraba Bahayanya Gerakan Anarko Sindikalis

Rekomendasi novel dan cerpen

Novel Bidadari-Biadari Penepis Sunyi dan Kumcer Dosa Pembawa Lentera

Novel Bidadari-Bidadari Penepis Sunyi karya Aika Ranu sastra mengisahkan perjalanan asmara tiga tokoh wanita yang penuh lika-liku. Berbagai problematika kehidupan mereka hadapi hingga dua tokohnya menemukan tambatan hati.

Bagaimana alur cerita asmara ketiganya? Lalu, bagaimana pula kisah pencarian teman hidup Kirani (tokoh utamanya)? Akankah dia seperti kedua temannya? Novel ini sarat akan nilai religius, spiritual, dan emosional. Sayang jika tidak dimiliki. Harga hanya Rp50.000 (belum ongkir).

Kumcer Dosa Pembawa Lentera merupakan potongan kisah yang banyak diilhami dari kisah nyata. Tidak selamanya dosa itu buruk, tetapi sebaliknya, dosalah yang mampu membawa manusia kepada cahaya ilahi (lentera).

Banyak kisah menakjubkan dalam kumpulan cerita pendek ini yang menggugah semangat, pantang berputus asa, dan mengerti arti cinta-kasih-sayang-persahabatan serta perjuangan.

Disampaikan dengan gaya bahasa sederhana sehingga mudah dipahami. Silakan dimiliki, hanya seharga Rp40.000 (belum ongkir).
Pemesanan: WA 085362222630 (Aika Ranu Sastra)

Jatilan Paling Mengerikan | Asmara in Jogja
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Pendidikan

One Comment

  1. […] Baca berikutnya: Mengenalkan Kembali Permainan Rakyat di Tengah Era Digital […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Ara dan Kota Kenangan

Asmarainjogja.id-Matahari kian ganas menunjukkan panasnya, seakan-akan berada di atas kepa…