Home Pendidikan Pendidikan sebagai Pondasi Suatu Peradaban (Refleksi Memperingati Hardiknas 2 Mei 2020)

Pendidikan sebagai Pondasi Suatu Peradaban (Refleksi Memperingati Hardiknas 2 Mei 2020)

12 min read
0
0
229
Anak SD Papua | Flickr.com/Unicef Indonesia

Memeroleh pendidikan tinggi—mulai dari jenjang sarjana, magister, doktoral, hingga professor –  merupakan suatu impian yang terpatri dalam diri setiap  manusia di seluruh dunia. Dengan pendidikan yang tinggi, seseorang berharap hidupnya berubah menjadi lebih baik untuk dirinya, keluarga, dan masyarakat.

Selain itu, pendidikan dianggap sebagai suatu pondasi yang mampu mengubah peradaban bangsa. Melalui pendidikan, suatu bangsa menjadi cerdas, maju, dan disegani oleh bangsa lain sehingga menjadi negara yang makmur dan kuat. Jika suatu bangsa tertinggal, merosot, dan apatis terhadap pendidikan, kemungkinan bangsa tersebut akan tergerus atau tertinggal dengan bangsa lain.

Dunia pendidikan tidak kalah penting dan menarik di samping dunia ekonomi dan politik. Pendidikan memegang peranan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, di dalamnya terdapat berbagai cabang ilmu, termasuk ekonomi dan politik. Dengan demikian, masalah pendidikan jauh lebih penting daripada masalah lainnya, sebab segala bidang ilmu ada di dunia pendidikan karena pendidikan merupakan pondasi suatu kehidupan bangsa.

Pendidikanlah yang menguasai berbagai aspek kehidupan. Pendidikan juga yang mengarahkan manusia mengatur ekonomi, politik, sosial, hukum, dan sebagainya.

Masalah Krusial Pendidikan dari Waktu ke Waktu

1. Putus Sekolah

Ada beberapa faktor terjadinya putus sekolah menurut pengamatan dan pengakuan masyarakat, antara lain (1) lemahnya ekonomi (terjadi di kalangan masyarakat miskin), (2) kurang perhatian orangtua terhadap anak, (3) kurangnya kesadaran anak itu sendiri mengenai pentingnya pendidikan, (4) tidak memeroleh beasiswa dan uang saku.

Kemudian (5) jauhnya tempat sekolah (khusus daerah terpencil), (5) tingkat kriminal yang semakin meninggi (di kota-kota besar), (6) pengaruh teman dan lingkungan yang tidak mendukung, (7) minimnya sarana dan prasarana di sekolah, (8) kurang perhatian guru di sekolah, (9) dan lemahnya mental anak.

Faktor-faktor di atas yang menjadi penghalang tercapainya tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Itu menjadi bumerang bagi kita selaku bangsa Indonesia yang memiliki amanah besar.

Anak usia sekolah yang seharusnya duduk manis di bangku sekolah telah banyak dijumpai di perempatan lampu merah, mengamen, mengais-ngais sampah, mengojek, berdagang, yang sangat disayangkan adalah maling dan merampok. Di sini yang memegang tanggung jawab serta turut andil adalah pemerintah, orang tua, dan guru/dosen.

2. Mahalnya Biaya Pendidikan Masuk Universitas

Untuk dapat masuk di universitas telah diberlakukan komersialisasi pendidikan sejak tahun 2013.  Pendidikan tinggi yang ditawarkan dengan berbagai variasi harga. Berikut paket ujian masuk PTN yang sudah diberlakukan oleh PTN-PTN di Indonesia: (1) Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) sekarang telah berubah menjadi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Selanjutnya, (2) Ujian Masuk Bersama-Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (UMB-SPMB) sekarang telah berubah menjadi Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). (3) Ujian Saringan Masuk (USM) dan Mandiri. Semua paket tersebut memiliki biaya bervariasi. Jika jalur reguler, UKT yang disyaratkan sesuai dengan penghasilan orang tua.

Akan tetapi, jika jalur mandiri, sudah pastilah lebih mahal, berkisar puluhan hingga ratusan juta rupiah. Tentu hanya orang-orang beruang saja yang bisa menembus jalur ini. Adapun alasan PTN seolah-olah berstatus “swasta” karena kampus harus mengelola kebutuhannya sendiri atau berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) atau Badan Hukum Pendidikan (BHP).

Pemberlakuan BHP yang menjadikan kampus negeri berdiri secara otonomi seolah-olah mengalihstatuskan yang tadinya “negeri” menjadi “swasta”. Statusnya saja negeri, namun pengelolaan keuangan seperti swasta. Hal ini membuat uang kuliah meningkat 100% sehingga menciutkan nyali calon mahasiswa yang hendak mendaftar ke PTN.

Akibatnya, diurungkanlah niat untuk menyambung kuliah dan lebih memilih bekerja, hanya cukup menamatkan di bangku SMA saja. Para orangtua dari kalangan ekonomi menengah ke bawah yang keberatan dan tidak tahu-menahu soal pendidikan hanya menggerutu, bahkan mematahkan semangat anaknya utuk bisa mencicipi bangku kuliah. Belum lagi biaya studi magister dan doktor yang begitu mahal.

Semua hambatan tersebut ternyata turut mempersempit kesempatan terhadap pendidikan tinggi itu sendiri. Banyak calon mahasiswa yang berasal dari daerah dan kalangan ekonomi menengah ke bawah mengurungkan niatnya untuk belajar di PTN. Muncullah dugaan-dugaan bahwa pendidikan hanya diberikan dan bisa dirasakan bagi orang-orang kaya saja.

Pendidikan yang didapatkan di perguruan tinggi juga seharusnya bukan hanya berupa pendidikan yang berasal dari bangku kuliah saja, melainkan juga pendidikan-pendidikan lain tentang organisasi.

Penutup

Ada sebuah pesan yang disampaikan oleh Nabi Muhamad, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat!” Maksudnya ialah kita berkewajiban menutut ilmu sejak lahir ke dunia sampai meninggal. Mencari ilmu ke mana, di mana, dan kepada siapa saja selagi itu baik, karena ilmu adalah bekal bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Dengan ilmu kita mengenal kebaikan, dengan ilmu pula kita mengenal keburukan. Dengan ilmu hidup terasa bermakna. Ilmu adalah kekayaan yang tidak ternilai harganya dibandingkan dengan harta benda. Mencari dan mengejar ilmu juga tidak mengenal batas usia. Tua, muda, lelaki, perempuan, kaya, miskin, cantik, jelek, normal, memikili kekurangan. Semua berhak mengenal dan mengamalkan ilmu.

Kita patut mengapresiasi kebijakan pemerintah mulai Era Presiden SBY yang telah memberikan kesempatan putra-putri bangsa untuk dapat melanjutkan studi melalui beasiswa bidikmisi, LPDP, dan BUDI. Program ini masih berjalan hingga sekarang.

Selain itu, beberapa pengusaha dan BUMN juga berpartisipasi memberikan beasiswa bagi mahasiswa, seperti Tanoto Foundation, Djarum, BCA, dan Mandiri. Untuk jenjang SD, SMP, dan SMA juga sudah diberikan dana BOS. Dengan melakukan berbagai upaya perbaikan di bidang pendidikan, diharapkan tidak ada lagi anak yang putus sekolah dan perbedaan status sosial seperti pepatah “Berdiri sama tinggi, duduk sama rata”.

Tidak ada perbedaan antara Si Kaya dengan Si Miskin. Hal ini juga demi kepentingan bangsa Indonesia: menciptakan generasi intelektual yang tangguh dan peradaban yang maju.

Kita tidak lagi berperang dengan musuh, tetapi kita berperang memberangus kebodohan. Tidak ada kata terlambat dan malas untuk sebuah perjuangan agar nama bangsa ini harum di mata dunia, tidak ketinggalan dengan bangsa Eropa, Australia, dan Amerika dari segi pendidikan.

Terpenting, agar bangsa asing tidak merampas hasil kekayaan alam yang melimpah dari Sabang sampai Merauke. Kita adalah sama, memiliki tanggung jawab mengukuhkan pondasi besar bangsa ini lewat pendidikan untuk diri sendiri dan anak-cucu kelak. [Asmarainjogja.id] 

Penulis: Yulaika Ranu Sastra, penulis adalah tenaga pendidik menetap di Sumatera Utara.

Baca juga artikel Aika lainnya:

Budaya Pop Era Postmodern: Antara Tren atau Pemuja Kapitalis

Mengenalkan Kembali Permainan Rakyat di Tengah Era Digital

Hijab segiempat jumbo by Aika

Hai…hai… masih bingung nih mengenakan khimar/kerudung seperti apa?

Hijab Aika punya solusi. Berbahan chiffon-cerruti lembut dan tebal, beraneka warna, berukuran lebar, sangat cocok melengkapi hari-hari Aikakers, Fleksibel alias cocok digunakan di momen apa pun.

Hanya Rp35.000,- loh per item (belum ongkir). Yuk diorder di nomor WA 085362222630 (Aika). Pengiriman dari Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Hijab Aika, pilihan wanita milenial
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Ara dan Kota Kenangan

Asmarainjogja.id-Matahari kian ganas menunjukkan panasnya, seakan-akan berada di atas kepa…