Home Pendidikan Sekolah Adalah Penjara yang Sesungguhnya

Sekolah Adalah Penjara yang Sesungguhnya

9 min read
0
0
563

Orangtua berharap anaknya disekolahkan nanti kelak menjadi orang yang sukses. Sukses di sini tentu soal materi, terpandang, berpengaruh, dan terkenal. Lebih sukses lagi kalau banyak followers-nya, pemujanya. Itulah harapan orangtua pada pendidikan kita tercinta.

Seorang anak dijejali materi pelajaran yang tidak diminatinya. Padahal si anak minatnya ke seni, tepatnya seni gambar. Dia saban waktu mencoret-coret buku tulis dengan gambar yang menurut orang lain aneh. Tapi bagi anak itu adalah ekspresi jiwa melalui gambar. Setiap kali gambar selesai, dia senang sekali. Tersenyum, bangga, dan memamerkan kepada teman-temannya. Meskipun terkadang teman-temannya juga bingung itu gambar apa.

“Wah.. wah… bagus ini. Seninya tinggi sekali,” puji salah satu temannya. Mungkin kalau ditanya seni itu apa, dia juga gelagapan menjawab.

Demi menghargai teman dan menjaga hubungan karib, para teman tadi tetap memujinya bangga. Hal-hal seperti ini memang dibutuhkan “tidak semua harus dikatakan” agar seseorang tidak patah semangat. Si anak yang hobi menggambar tadi pun terus menggambar dan menggambar.

Suatu waktu guru yang mengetahui anak itu suka menggambar menegurnya. “Nilai matematikamu buruk, Bahasa Inggris juga buruk, sejarah juga begitu. Rata-rata mata pelajaranmu buruk, satu-satunya nilai tinggi cuma menggambar. Ibu tidak ingin kamu seperti ini terus, ibu mau pelajaran lain juga nilainya tinggi. Kamu mau tinggal kelas? Kalau kamu begini terus kamu tidak akan pernah menjadi orang yang sukses.”

Anak itu hanya diam saja, matanya nanar. Sebenarnya dia tidak mengubbris apa yang disampaikan gurunya, karena sudah bosan mendengar ceramah dari guru. Temanya itu-itu saja, nilai… nilai… nilai.. tinggal kelas… tidak sukses. Karena gurunya jengkel, akhirnya menyuruh si anak untuk mendatangkan orangtuanya ke sekolah.

Lusa si anak tidak mau sekolah lagi, karena ia bosan dimarah oleh guru dan orangtuanya. Satu-satunya yang membuat rindu dan senang di sekolah adalah teman-temannya. Karena teman-temannya itulah yang membuatnya betah dan mendukung hobi menggambarnya. Lainnya tidak, karena dia selalu salah di mata sekolah.

Suatu malam ibu si anak itu mendatanginya ke kamar, “Nak, kamu harus sekolah. Kalau kamu di rumah saja, kamu mau jadi apa kalau sudah besar nanti? Mau jadi pengangguran? Kamu adalah harapan keluarga kita. Ibu selalu mendoakanmu agar menjadi orang sukses, agar bisa mengangkat harkat martabat keluarga kita.”

Si anak membisu. Seperti kebiasannya, ceramah yang meramalkan masa depan dianggapnya angin lalu. Tidak penting.

“Baiklah, kami sebagai orangtua sudah berkali-kali mengingatkan. Tapi kalau memang itu keputusanmu, ya, sudah, terserah. Ibu lepas tangan! Semoga kamu tidak menyesal di kemudian hari. Karena penyesalan datang belakangan,” suara ibunya bergetar. Kedua pipinya tiba-tiba basah.

Dasar anak ini memang kepala batu. Dia tetap tak perduli. Hatinya bagaikan karang. Tak goyang diterjang ombak. Kokoh pada sifatnya. Dalam benaknya, hanya menggambar dan berimajinasi menciptakan visual yang tidak pernah dilihat manusia di bumi. Itulah ambisinya selama ini.

Dari Awal Sudah Keliru Memahami Pendidikan

Kita menganggap pendidikan sebagai tempat untuk melahirkan orang-orang sukses. Sehingga orangtua yang mengantarkan anaknya ke sekolah berharap anaknya jadi orang sukses juga. Orangtua menyerahkan begitu saja anaknya kepada pihak sekolah, tanpa memahami sistem belajar seperti apa yang diterapkan di sekolah. Orangtua tidak perduli, yang penting anaknya sekolah. Toh, sudah dibayar uang sekolahnya. Mahal lagi.

Pihak sekolah yang sudah diberi mandat oleh orangtua dan pemerintah tentu dengan semangat membentuk karakter anak. Bayangkan sejak Paud sampai perguruan tinggi, semua diserahkan oleh pendidik. Orangtua tidak tahu menahu soal perkembangan anaknya. Tiba-tiba di kemudian hari orangtua terkejut melihat perkembangan sang anak.

Memang, sih, sukses, tapi anaknya seperti robot. Dingin, cuek, kurang simpati apalagi empati, individualistik, menilai hanya dari segi materi (baca: uang). Keluarga cukup bingung menghadapi anaknya. Akhirnya si anak dianggap kurang berbakti karena tidak sesuai harapan orangtua.

Kita lupa seperti apa pendidikan sekarang? Pendidikan kita sudah jauh melampaui nilai-nilai kemanusian. Komersiliasi pendidikan mengubah tatanan pendidikan humanis yang selama ini diperjuangakan oleh Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan sistem kapitalisme sudah berakar sejak rezim Soeharto. Sekarang kita bisa lihat hasil pendidikan itu?

Selama ini anak-anak belajar mengikuti kurikulum yang dibuat berdasarkan versi penguasa. Jika penguasa dehumanisasi maka pendidikan yang diciptakan pun jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Kacaunya penguasa ditekan politik dan ekonomi, baik dari dalam maupun dari luar. Maka mau tak mau pendidikan kita harus mencetak tenaga kerja untuk kebutuhan kaum pemodal.

Maka tak heran kita melihat pendidik memaksa muridnya mempelajari kurikulum yang ada. Tidak bisa hanya mempelajari apa yang diminati saja. Padahal kalau kita berlandaskan pendidikan Ki Hajar Dewantara seperti ini: “Amongsystem kita yaitu menyokong kodrat alamnya anak-anak yang kita didik, agar dapat mengembangkan hidupnya lahir bathin menurut kodratnya sendiri-sendiri.”

Lebih dijelaskan lagi, “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya merawat dan menuntun kodratnya itu.”

Kalau pendidikan kita berlandaskan cita-cita beliau tentu kita tidak boleh mematahkan semangat anak, jika dia minat belajarnya hanya menggambar. Tidak perlu kita menakut-nakuti anak soal masa depannya. Dan seolah-olah kita Penguasa Semesta yang bisa menentukan jalan hidup anak manusia.

Biarkan anak memilih apa yang ingin dipelajarinya, jangan dipaksa. Apalagi memberikan sanksi, tentu ini akan memberikan trauma pada anak suatu hari nanti. Bebaskan anak belajar apa yang dipilihnya, karena memang itulah wasiat dari Bapak Pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, “Pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekan manusia atas hidupnya lahir, sedangkan merdekanya bathin terdapat dari pendidikan”.  [Asmara Dewo]

Baca juga:

1 Mei, Hari yang Paling Ditakuti Penguasa dan Pengusaha

Virus Corona Menurut “Pakar” Teori Konspirasi, Young Lex, Deddy Corbuzier, dan Jerinx SID

Jika “Nasi Anjing” di Hadapan Orang Miskin, Dimakan atau Tidak?





Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Bagaimana Penegak Hukum Melanggar HAM terhadap Pelaku Tindak Pidana (Skizofrenia)?

Asmarainjogja.id-Siapa saja orang yang melakukan tindak pidana tentu mendapatkan ganjaran,…