Home Kesehatan Tak Hanya Patah Hati, Menulis Juga Efektif Mengobati Trauma

Tak Hanya Patah Hati, Menulis Juga Efektif Mengobati Trauma

9 min read
0
0
234
Ilustrasi menulis | Photo by Liam Anderson from Pexels

Asmarainjogja.id-Menulis tak hanya menginspirasi pembaca, tapi juga sangat baik bagi penulis itu sendiri. Dari berbagai penelitian dan pakar psikolog, menulis sebagai terapi pengobat patah hati dan trauma yang berkepanjangan.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di jurnal Psychometrik Medicen: Journal of Biobehavioral Medicine, bentuk penulisan khusus yang menceritakan pengalaman pahit dan menyedihkan dapat membantu kesehatan postdivorce (perceraian).

Penelitian tersebut juga menemukan tulisan ekspresift setelah selesai putus cinta membantu memperbaiki kesehatan kardiovaskular, itu pun jika jurnal si penderita menceritakan secara lengkap dan detail.

Peneliti Kyle Bourassa yang menyelesaikan studinya di University of Arizona mengatakan, menulis cerita dengan terstruktur, tidak hanya mengalami kembali emosi, tapi juga memberi makna pada cerita tersebut. Sebab cara ini memungkinkan memproses perasaan tersebut dengan cara yang lebih fisiologis.

“Struktur ini dapat membantu orang memahami pengalaman mereka, sehingga memungkin mereka move on daripada sekadar berputar dan mengulangi kembali emosi negatif berulang-ulang,” ungkap Kyle Bourossa, tulis suara.com mengutip dari Pop Sugar.

Ada pengalaman menarik yang ditulis oleh Siti Rubaidah di laman jurnalperempuan.org. Siti mengaku punya pengalaman buruk saat berumah tangga, ia mengalami kekerasan fisik dan verbal dari suaminya.

“Trauma berkepanjangan tentulah menghantui. Bagaimana tidak, kesakitan yang aku alami akibat pukulan fisik, sumpah serapah dan makian yang harus aku terima begitu dalam membekas,” tulis Siti.

Dalam cerita Siti tersebut, anak sulungnya juga mengalami trauma karena menyaksikan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang menimpa ibunya. Berdasarkan diagnosis dari tim dokter RSJ Soerojo Magelang, si sulung dinyatakan depresi dan mendapat terapi obat.

“Aku dan anak sulungku punya hobi yang sama dalam hal menulis. Bedanya aku suka menulis non fiksi, seperti artikel, opini, memoar, dan lain lain. Sedangkan anakku lebih suka menulis fiksi terutama cerpen dan novel. Dengan menulis non fiksi kita butuh membaca, merenung, dan berpikir. Hal ini sedikit melenakan beban yang tak tertanggungkan.

Di momen lain aku menangis, meratap, dan mengumpat lewat tulisan untuk diri sendiri. Belum ada rencana soal tulisan, tapi kami menikmatinya sebagai sebuah obat hati. Dari hobi menulis kami melewati masa-masa sulit saat trauma,” ungkap Siti dalam penulisannya itu.

Tanpa menapikkan peran dokter, psikolog, teman dan keluaraga yang mendukung Siti dari pengalaman buruknya, dia mengaku, “Aku sangat merasakan bagaimana energi negatif akibat kesedihan yang mendera bisa terlepaskan dengan menulis. Dan setelah itu muncul sebuah kelegaan yang luar biasa. Sementara bagi anakku dunia imaji dan ideal yang menjadi harapannya bisa menjadi sumber ide yang tak pernah kering dalam ceritanya.”

Siti juga khawatir atas terapi obat yang dikonsumsi si sulung yang berusia 12 tahun itu akan berdampak pada pertumbuhan dan syarafnya. Akhirnya Siti bertekat untuk menghentikan terapi obat anaknya.

“Awalnya aku khawatir bagaimana mengatasi depresi anakku tanpa obat, akan tetapi cara ini cukup ampuh. Setelah membiasakan diri dan memotivasi anak menulis bersama, kini anakku tak perlu meminum obat lagi. Memang harus diakui, selain menulis faktor yang kuat membuat anakku terlepas dari depresi dan stres adalah bersatunya kembali antara anak dan ibu yang lama dipisahkan,” ungkap Siti.

Tak hanya Siti dan si sulung mengisi masa-masa trauma dengan menulis, penulis ‘Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini’, Marchella FP (Cecel), mengatakan menulis adalah cara penyembuhan stres terbaik.

“Ini tuh kayak terapi aku, orang tuh butuh oulet di kepala kita. Ada yang berupa karya, curhat ke teman, setiap orang cara mengeluarkannya kan beda-beda. Yang saya lakukan, menulis adalah cara berproses,” terang Cecel pada Detik.com.

Dr. James Pannebaker PhD dan tim dari Universitas Texas mengungkapkan hasil penelitiannya. Mahasiswa yang menulis pengalaman traumatik lebih jarang mengunjungi pusat kesehatan.

Baca juga:

Berdasarkan Studi, 14 Alasan Inilah Seseorang Menolak Menikah

Menyebalkan, 5 Hal Ini Dibenci Penulis Pemula

Semoga Mereka Kembali ke Jalan yang Benar, Jalan Literasi

“Menulis tidak hanya mengulangi kejadian yang kita alami, tetapi membantu kita memahami dan menempatkannya sesuai konteks. Kita tidak hanya menulis apa yang terjadi tapi juga menemukan makna dari ingatan traumatik dan mengalami emosi sekitarnya,” kata Pannebaker, sebagaimana yang ditulis kompas.com.

Ini tips menulis untuk mengobati patah hati dan trauma, dikutip dari Liputan6.com, “Meski menulis bisa menjadi terapi penyembuhan, hal itu tak bisa dilakukan sembarangan. Ada hal-hal yang harus dicermati ketika seseorang hendak melakukan terapi tersebut,” psikolog Oktina Burlianti mengingatkan.

Langkah pertama yang harus disadari oleh seseorang ketika akan menulis adalah mengetahui tujuan dari aktivitas tersebut. Bila tujuan menulis untuk penyembuhan maka sebaiknya dilakukan secara pribadi, tidak usah diunggah ke media sosial sehingga menjadi konsumsi publik.

Menulis untuk healing (proses penyembuhan) harus mencakup tiga hal, yakin pikiran, perasaan, dan harapan. Mengawali tulisan dengan “Saya pikir…”, “Saya merasa…”, “Saya berharap…” akan membantu seseorang menyadari apa yang tengah dia pikirkan, rasakan, dan harapkan terkait suatu masalah.

“Menulis dalam fungsi psikologi, kan, untuk self healing, bukan mengorek luka,” kata Ulie, sapaan akrab psikolog itu.

Ulie menyarankan menulis ketiga hal itu masing-masing 20 hingga 50 kali, dengan semakin banyak dan sering menulis apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diharapkan, seseorang akan lebih mudah melepas emosi yang selama ini diganjal. [Asmara Dewo]

Baca selanjutnya: Inilah Alasan Seseorang yang Ditinggal Menikah Sulit Move On

Iklan gratis di www.asmarainjogja.id
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Kesehatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Ara dan Kota Kenangan

Asmarainjogja.id-Matahari kian ganas menunjukkan panasnya, seakan-akan berada di atas kepa…