Home Uncategorized Opini Ketika Putri AHY Jadi Objek Olokan Denny Siregar

Ketika Putri AHY Jadi Objek Olokan Denny Siregar

11 min read
4
0
160
Ilustrasi anak-anak sedang belajar | Pexels.com/Pixabay

Asmarainjogja.id-Sebagai orangtua tentunya menjaga pertumbuhan dan perkembangan anaknya dengan baik. Selain itu juga melindungi anak dari pergaulan, memantau seperti apa pergaulannya di sekolah. Dan tak kalah penting apakah si anak ada masalah di sekolahnya? Mungkin masalah dengan teman-temannya?

Anak dan teman-temannya bisa memengaruhi tumbuh dan kembang anak. Apalagi si anak ternyata menjadi korban olok-olokan temannya selama ini. Dampaknya adalah si anak akan merasa minder, hilang kepercayaan diri, menjadi tertutup, lebih suka menyendiri, keceriaanya bisa pudar secara permanen. Yang terakhir itu paling berbahaya.

Pudarnya keceriaan anak, akan sangat sulit mengembalikannya. Atau boleh jadi keceriaan itu tak akan kembali lagi selamanya. Sepertinya ini butuh penelitian lebih lanjut. Tapi yang pasti sebagai orangtua dan keluarga menjaga dan melindungi pertumbuhan anak dengan sebaik-baiknya.

Karena masa anak-anak adalah masa keemasaanya. Salah mendidik, atau kelalaian orangtua akan berdampak sampai kelak ia dewasa. Tentu kita tidak menginginkan itu, bukan?

“Kebahagiaan masa kanak-kanak telah diakui sebagai sumber faktor paling berpengaruh terhadap kebahagiaan saat dewasa dibandingkan dengan sumber kebahagiaan lain, seperti keberhasilan akademik, jabatan pekerjaan ataupun kekayaan,” kata Psikolog Elizabeth Sentosa, (Bisnis.com, 2018).

Kita bisa menarik kesimpulan dari psikolog di atas bahwasanya untuk menjamin kebahagiaan anak ketika dewasa nanti, maka pada masa pertumbuhan dan perkembangan, kebahagiaannya harus tetap dijaga. Jadi seorang dewasa yang bahagia dilatarbelakangi dengan kehidupan bahagia. Begitu juga sebaliknya.

Beberapa bulan lalu, saya telponan dengan keluarga di kampung. Kebetulan saat itu keponakan saya ikut nimbrung obrolan kami. Kalau tidak keliru, dia saat ini sudah masuk TK.

Jadi waktu itu dia sedang makan. Kakaknya di samping melapor, “Paman-paman, lihat Nila (nama samaran) minumannya segentong!”. Pas ketika Nila meminum air es dari gelas kaleng yang ukurannya memang cukup besar.

Nila langsung membela diri, “Mana ada, cuma sedikit, kok.”

“Nila jangan banyak-banyak minum es,” lanjut saya lagi, “apalagi yang manis-manis.”

“Ngggak ada kok, Paman. Itu kan gelas bapak,” kata dia dengan bahasa yang cadel. Raut wajahnya langsung berubah, dia sudah hambar ikut nimbrung di obrolan. Setelah itu dia tidak bicara sama sekali, mulutnya cemberut. Lancip.

Dalam hati saya, oh, anak ini ngambek. Saya jadi berpikir, ternyata anak-anak itu perasanya bukan main. Padahal saya cuma bilang jangan banyak-banyak minum es. Lha, dia langsung ngambek, hahaha. Mungkin dia ngambek juga sama kakaknya, karena kakaknya yang lapor. Dan saya turut menanggapi. Atau di rumah, Nila sering dikata-katai begitu oleh kakak-kakaknya. Jadi saya yang tidak tahu apa-apa, cuma bilang begitu langsung kena cemberutnya.

Baiklah, memang dalam keluarga biasa seperti itu. Si adik ngambek, atau si kakak yang ngambek. Tapi yang pasti sebagai orangtua kita tahu mana batasan yang tidak boleh diucapkan. Karena bisa menjadi kebiasaan buruk yang terus bergulir. Saya sendiri tampaknya akan lebih hati-hati lagi berbicara dengan Nila. Takutnya dia ngambek lagi, tuh. Hahaha.

Baca juga:

Jika “Nasi Anjing” di Hadapan Orang Miskin, Dimakan atau Tidak?

1 Mei, Hari yang Paling Ditakuti Penguasa dan Pengusaha

Denny Siregar yang Tak Cakap Mengkritik

Akhir-akhir ini nama Almira Tunggadewi Yudhoyono, cucu dari mantan Presiden SBY itu ramai dibicangkan karena kicauan dari Denny Siregar (DS). Pasalnya Denny membuat caption, “Bapak udah. Anak udah juga. Sekarang cucu juga dikerahkan. Kalo ada cicit, cicit juga bisa ikutan minta lockdown,” sembari menyebarkan link soal tugas sekolah Aira, nama panggilan dari putri AHY dan Annisa tersebut.

DS selama ini dikenal simpatisan rezim Jokowi. Aktif di media sosial untuk menjaga kewibawaan pendukungnya (Jokowi CS), dan menyerang lawan-lawan (Jokowi CS). Gemar mengkritik yang bersebrangan politik dengan pemerintah, dan menjadi benteng Jokowi. Bak pahlawan medsos dari kalangan pendukung Jokowi CS.

Tapi kali ini dia keliru dalam mengkritik, boleh kata lidahnya terpeleset. Dia menyeret putri AHY dan Annisa, dan itu berbuntut panjang dari bullying netizen terhadap putri mereka. Wajar saja seorang ibu berang. Annisa langsung mencak-mencak membela anaknya. Tak hanya perang twit dengan DS, Annisa juga langsung membuat laporan (melalui Twitter) ke Presiden Jokowi.

“Pak Jokowi, saya sebagai seorang ibu dan warga negara Bapak, saya protes terhadap tindakan akun ini, yang saya dengar seorang simpatisan Bapak tapi membawa anak saya yang di bawah umur untuk dijadikan bahan olokan politik dia,” Cuit Annisa dengan memention akun Twitter Jokowi.

Beberapa politikus Demokrat juga sudah mengingatkan DS agar segera menghapus postingan itu agar tidak jadi bullying berkelanjutan. Dan juga meminta agar DS meminta maaf kepada putri AHY tersebut. Tapi tampaknya DS enggan, karena merasa dirinya benar. DS hanya mengkritik Demokrat yang selama ini gencar mengkampanyekan lockdown.

Terlepas dari pandangan politik, DS jelas salah. Karena Aira hanya seorang anak yang diberi tugas sekolah tentang lockdown yang langsung ditujukan ke presiden dan jajarannya. Aira tidak paham soal politik, apakah tugas sekolahnya itu juga turut sebagai campaign politik keluarganya atau tidak. Yang dia tahu hanya menikmati masa-masa keemasaanya dengan belajar, bermain, perhatian orangtua, dan pastinya perlindungan keluarga dari orang-orang usil.

Jadi saat DS menyebut, “… Sekarang cucu juga dikerahkan.” Ini sungguh tidak elok sebagai kritikus sosial atau politik. Apalagi pada link tersebut ada foto Aira dan kedua orangtuanya. Mungkin kedua orangtuanya tidak masalah, tapi yang masalah ada Aira, dia masih anak-anak. Dia jadi sasaran empuk bullying netizen liar.

Aira tak tahu menahu kenapa dia lahir dari keluarga politikus. Aira juga tidak paham kenapa keluarganya berprofesi sebagai politikus. Dia juga tidak tahu kenapa demokrat tidak berteman saja dengan PDI P. Dan dia juga bingung kenapa dia bisa jadi sasaran bullying dari netizen karena dia anak dari Ketua Umum Demokrat.

Nah, DS yang merasa tidak bersalah, padahal memancing bullying terhadap anak-anak. Kalaun keukeh, itu hanya urusan dia dengan Demokrat. Oke, boleh-boleh saja. Tapi ingat, DS akan berhadapan dengan orang-orang yang berdiri untuk pembelaan dan perlindungan anak-anak.

Terlepas urusan politik, karena ini fokus pada menjaga anak-anak dari orang-orang liar. Siapapun anak itu, dari rahim mana, kah, dia lahir. Tidak perduli dia lahir di kolong jembatan, atau di Cikeas. Anak tetaplah seorang anak yang wajib kita jaga pertumbuhan dan perkembangan mentalnya. [Asmara Dewo]

Baca berikutnya: Mengenalkan Kembali Permainan Rakyat di Tengah Era Digital

Iklan gratis di www.asmarainjogja.id
Putri Gimbal Dieng
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

4 Comments

  1. […] Ketika Putri AHY Jadi Objek Olokan Denny Siregar […]

    Reply

  2. […] Baca berikutnya: Ketika Putri AHY Jadi Objek Olokan Denny Siregar […]

    Reply

  3. […] Ketika Putri AHY Jadi Objek Olokan Denny Siregar […]

    Reply

  4. […] Ketika Putri AHY Jadi Objek Olokan Denny Siregar […]

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Kolonialisme Israel dan Dana Militernya

Asmarainjogja.id-Pada hari pertama lebaran warga Palestina dibombardir oleh pasukan Israel…