Home Uncategorized Opini Antara Pahlawan dan Transpuan, Belajar dari Kasus YouTuber Ferdian Paleka

Antara Pahlawan dan Transpuan, Belajar dari Kasus YouTuber Ferdian Paleka

9 min read
3
0
262
Instagram.com/Ferdianpalekaaa via IDN Times

Asmarainjogja.id-Warganet yang sebelumnya geram atas tindakan dehumanisasi YouTuber Ferdian Paleka (FP) kini mulai merasa lega. Sebab FP kini sudah dijebloskan ke penjara atas video prank bagi-bagikan sembako kepada transpuan yang isinya adalah sampah dan batu bata.

Pengakuan FP aksi prank itu hanya untuk hiburan semata. Tapi ada yang tak sedap didengar atas permintaan maaf dan pengakuan FP. Menurut FP transpuan tak boleh mangkal saat bulan ramadhan, karena itulah dia membuat konten prank.

Sekilas tampak baik, seperti pahlawan yang memberangus penyakit masyarakat. Tak heran, ada dua bocil (bocah kecil) yang membelanya di Youtube. Bocil itu bilang kelakuan FP itu tidak masalah. Dan yang lebih parah lagi sang bocil malah mengatakan bahwa transpuan pun dibunuh tidak masalah. Jadi kalau hanya di-prank saja tidak apa-apa.

Wihhh… ngeri, ya? Membunuh manusia saja tidak masalah, meskipun itu transpuan. Sadis, ah. Atau jangan-jangan membuat tulisan ini yang bisa “dianggap membela” transpuan darahnya halal.

Terlepas transpuan itu dilaknat oleh Allah, terlepas transpuan itu tidak dibenarkan dalam Islam, yang jelas mereka adalah manusia. Manusia yang punya hak untuk membela diri atas perlakuan FP yang dianggap sudah menghinakan sesama manusia.

Kalaupun ingin berdakwah bisa belajar dari Gus Miftah, dakwah yang lembut. Dan tak sungkan-sungkan langsung terjun ke tempat-tempat maksiat, seperti di Sarkem Yogyakarta. Apa itu Sarkem? Silahkan cari sendiri. Begitu juga belajar dari Cak Nun, yang menerima diskusi dengan waria di acara Maiyah. Atau juga seperti Ustadz Jefry Al Buqhori yang berdakwah ke diskotik-diskotik.

Orang yang ilmu agamanya sudah tinggi punya magnet sendiri untuk berdakwah. Dengan senyuman, kewibawaan, ilmu pengetahuan yang mumpuni, nah, orang-orang yang didakwahi pun betah mendengar nasihatnya. Tak jarang pula dakwah seperti itu banyak yang berhasil dibandingkan dengan ancaman yang menakutkan seperti kedua bocil tersebut.

Jadi tidak serta merta menjadi pahlawan kesiangan untuk FP yang jelas-jelas menghinakan sesama manusia. Coba bayangkan seseorang yang diberi sesuatu tentu senangnya bukan main, bukan? Apalagi sekarang masa pandemi Covid-19 yang bertepatan pada bulan Ramadhan, banyak dermawan yang membagi-bagikan sembako. Tapi setelah dibuka isinya tauge busuk dan batu bata. Kan melecehkan dan menghinakan orang lain seperti itu?

Baca juga:

Berdamai Menurut Tereliye dan Jokowi, Mana yang Konsisten?

Ketika Putri AHY Jadi Objek Olokan Denny Siregar

Sudahlah hentikan berlagak pahlawan dengan memakai dalih agama. Tidak baik, cukup menjadi “manusia biasa saja”, tapi mencerminkan nilai-nilai agama. Ingat kata Gusdur, “Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, merendahkan manusia berarti menistakan penciptanya”. Kasus prank yang dilakukan FP sudah merendahkan manusia (meskipun manusia itu transpuan).

Belajar dari Kasus YouTuber Ferdian Paleka

Ferdian Paleka dan kawan-kawan saat konfrensi pers | Foto Vivanews.com

Sah-sah saja terinspirasi dari ‘Youtuber Asiappp” yang banyak suscriber-nya. Pun boleh juga termotivasi dari penghasilan Youtube yang mencapai milyaran dari Kakak Icis. Tapi kita juga harus ingat ada batas-batasnya, mana yang layak dijadikan konten, dan mana yang tidak layak. Tidak asal terobos saja demi beternak suscriber.

Sekarang kita bisa menyaksikan bahayanya buat konten prank, sekarang nasib FP di ujung tanduk. Polisi menjerat FP dengan Undang-Undang Informasi dan Teknologi (ITE) dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun dan denda dua milyar rupiah. Ngeri juga, ya, karena nge-prank, bisa dipenjara?

Baca juga:

1 Mei, Hari yang Paling Ditakuti Penguasa dan Pengusaha

Virus Corona Menurut “Pakar” Teori Konspirasi, Young Lex, Deddy Corbuzier, dan Jerinx SID

Kasus prank yang berujung penjara ini tentunya akan membuat FP dan kawan-kawannya jera. Selain itu YouTuber lain yang isi kontennya prank. Ini bisa jadi pembatas pembuatan konten yang isinya tidak jelas. Agar berpikir ulang apakah kontennya bisa ditindak pidana. Mengingat YouTuber Indonesia sekarang ini suka sekali buat konten prank.

Kalau mau mau jadi YouTuber, coba tiru YouTuber Agung Hapsah yang menginspirasi. Tak hanya pundi-pundi rupiah yang didapatkannya, tapi juga terkenal sejagad maya. Masuk TV juga di acara Kick Andy dan Hitam-Putih. Dipuja-puji oleh netizen Indonesia, karena kontennya bermanfaat.

Kebalikan dari FP yang dihujat oleh netizen, alih-alih dapat uang dari YouTube, yang ada didenda. Bukan masuk di acara TV, malah masuk ke jeruji besi. Bukan malah banyak fansya, tapi dimusuhi netizen. Ya, karena konten sampahnya. Kita berharap ini kasus terakhir soal konten-konten prank atau sampah.

Netizen yang saat ini hanya rebahan saja (dampak corona) butuh tontonan yang menginspirasi, paling tidak konten informasi yang berguna. Bukan konten FP CS yang dehumanisasi.

Sudah Saatnya Berhenti Berlagak Pahlawan

Kalau bertindak seolah-olah kita yang berhak menghakimi seseorang atau kelompok, padahal ada penegak hukum, itu artinya kita tidak percaya lagi terhadap pemerintah. FP seolah-olah orang yang berhak mengurus transpuan di pangkalannya. Memangnya tidak ada Satpol PP, Polri, Pemkot di Bandung?

Pun begitu kepada para bocil yang begitu enteng mengatakan tidak masalah transpuan dibunuh. Ini pernyataan yang sangat berbahaya dan tidak etis jika dibenturkan dengan Sila Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Kita bukan malaikat yang diperintah Tuhan untuk mengeksekusi orang lain, hanya cuma beralasan transpuan.

Jadi yang merasa dirinya pahlawan sudahkah mengetahui langsung latar belakang kenapa seseorang itu menjadi transpuan? Apa sebenarnya motivasinya? Apakah ini murni cuma ikut-ikutan, atau hanya persoalan mengisi perut? Sudahkah mendakwahi mereka dengan berdiskusi? Kalau belum pernah terjun langsung menangani persoalan yang demikian, tidak perlu banyak bicara.

Kita butuh generasi yang mengakar rumput, bukan sekadar berteori keagamaan di depan sosial media. Karena perubahan itu ada di tengah-tengah kehidupan yang sulit. [Asmara Dewo]

Baca berikutnya: Jika “Nasi Anjing” di Hadapan Orang Miskin, Dimakan atau Tidak?

Iklan gratis di www.asmarainjogja.id
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

3 Comments

  1. […] Antara Pahlawan dan Transpuan, Belajar dari Kasus YouTuber Ferdian Paleka […]

    Reply

  2. […] Antara Pahlawan dan Transpuan, Belajar dari Kasus YouTuber Ferdian Paleka […]

    Reply

  3. […] Antara Pahlawan dan Transpuan, Belajar dari Kasus YouTuber Ferdian Paleka […]

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Kolonialisme Israel dan Dana Militernya

Asmarainjogja.id-Pada hari pertama lebaran warga Palestina dibombardir oleh pasukan Israel…