Home Pendidikan Bukan Kualitas Guru Rendah, tapi Sistem Pendidikan yang Salah

Bukan Kualitas Guru Rendah, tapi Sistem Pendidikan yang Salah

24 min read
2
0
530
Ilustrasi anak sekolah | Photo by Iqwan Alif from Pexels

Asmarainjogja.id-“Bagaimana bisa meningkatkan mutu pendidikan Indonesia kalau kualitas gurunya rendah,” kata pengamat pendidikan dan praktisi pendidikan CERDAS (Center for Education Regulation & Development Analysis) Indra Casmiadji ke salah satu media arus utama.

“Bagaimana bisa maju pendidikan kita kalau guru di Indonesia anti-kritik, maunya gaji besar, tetapi kualitasnya rendah,” ujar Indra lagi.

Sepintas memang tampak benar apa yang disampaikan si pengamat Indra Casmidaji, selanjutnya dibaca IC. Sebagai pengamat dan juga praktisi pendidikan kita tentu paham dia punya data yang bisa dibeberkannya ke publik. Namun, kita juga tidak bisa menelan mentah-mentah pernyataannya yang melukai hati para guru karena dinilai berkualitas rendah.

Kalau tolok ukur pendidikan rendah dari rujukan PISA 2018 lalu maka ada yang tertinggal. Guru bukan faktor utama pendidikan kita rendah. Jadi kita berani mengatakan si beliau itu menganilisis pendidikan Indonesia dengan kualitas berpikir yang rendah juga.

PISA (Programme for International Student Assesment) diselenggarakan oleh OECD (Organisation for Economic and Development) beserta konsorsium internasional yang membidangi masalah sampling, instrument, data, pelaporan, dan sekretariat.

Untuk diketahui PISA adalah survei evaluasi sistem pendidikan di dunia yang mengukur kinerja siswa kelas pendidikan menengah. Penilaian ini dilakukan setiap tiga tahun sekali dan dibagi menjadi tiga poin utama, yaitu literasi, matematika, dan sains. Hasil pada tahun 2018 mengukur kemampuan 600 ribu anak berusia 15 tahun dari 79 negara (Tirto.id, 2019).

Lebih lanjut Tirto menuliskan, survei itu lagi-lagi menempatkan siswa Indonesia di jajaran nilai terendah terhadap pengukuran membaca, matematika, dan sains. Pada keterangan kemampuan membaca, Indonesia menempati peringkat ke-6 dari bawah (74) dengan skor rata-rata 371. Turun dari peringkat 64 pada tahun 2015.

Pada matematika, Indonesia berada pada peringkat ke-7 dari bawah (73), skor 379. Turun dari peringkat 63 pada tahun 2015. Kategori sains Indonesia pada peringkat ke-9 dari bawah (71), skor 391. Turun dari peringkat 62 pada tahun 2015, tulis Tirto.id.

Nah, apakah penilaian rendah pendidikan Indonesia versi PISA itu bisa kita ambil kesimpulan bahwa guru penyebabnya? Tentu tidak, kan? Guru sebagaimana dimaksud IC yang anti-kritik itu hanya riak kecil pada gelombang lautan pendidikan Indonesia. Tapi kita juga harus mencari penyebab apa yang sebenarnya menimbulkan gelombang itu? Artinya kita harus bepikir secara radikal, menganilisis pendidikan Indonesia lebih tajam lagi.

Ilustrasi siswa China | VCG VIA GETTY IMAGES

Jika kita ingin membandingkan pendidikan Indonesia dengan China, sebagai negara yang berada di urutan teratas menurut PISA 2018. Maka penerapan pendidikannya sangat berbeda. Pada tingkat sekolah dasar, 60 persen siswa menghabiskan waktu belajar bahasa mandarin dan matematika. Selebihnya siswa belajar musik, seni, moral, serta interaksi dengan alam.

Pendikan Indonesia sekarang kembali menerapkan kurikulum tahun 2013, mata pelajarannya adalah pendidikan agama, PPKN, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Seni Budaya dan Prakarya (SBDP), dan Penjaskes. Dalam seminggu siswa belajar selama 38 jam, terdiri dari matematika enam jam, Bahasa Indonesia delapan jam, agama tiga jam, muatan lokal dua jam, pengembangan diri dua jam, selebihnya tematik.

Tematik merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai pemersatu materi yang terdapat dalam beberapa mata pelajaran dan diberikan dalam satu kali tatap muka (radarkudus.jawapos.com, 2020).

Selain itu siswa juga dibebani untuk menghadapi ujian nasional. Kita berkaca pada negara-negara maju di dunia, pendidikan mereka meninggalkan pendidikan kuno menganggap siswa bodoh karena tidak lulus ujian nasional. Pada laman Tirto.id yang mengutip Local School Network, Negara Kanada, Finlandia, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serika, sudah menghapus sistem ujian nasional.

Singapura berada pada urutan kedua versi PISA, menurut Mahendra K Datu yang sudah tujuh tahun tinggal di Singapura, “Toko-toko buku tersebar di mana-mana, akses pembelajaran informal ada di semua pusat komunitas, sekolah dan kampus diguyuri dana milyaran setiap tahun,” tulis dia pada Kompas.com, Januari 2020 lalu.

Mahendra, yang bekerja sebagai corporate research itu juga menuliskan, “Anak-anak muda di Singapura tak ditanya dalam ulangan di kelas soal tanggal berapa Lee Kuan Yew meninggal. Mereka akan ditanya siapakah Lee Kuan Yew itu dan mengapa ia penting bagi sejarah bangsa dan Negara Singapura?”

Baca juga:

Pendidikan sebagai Pondasi Suatu Peradaban (Refleksi Memperingati Hardiknas 2 Mei 2020)

Mengenalkan Kembali Permainan Rakyat di Tengah Era Digital

Menteri Pendidikan Singapura Ong Ye Kung pada September 2018 menyampaikan, “Belajar bukan berkompetisi”. Ini tentu saja berbanding terbalik dengan pendidikan Indonesia yang masih menerapkan peringkat 1, 2, 3, dan seterusnya. Bahkan Singapura malah mampu mengidentifikasi dan memberi kesempatan pada anak belajar sesuai dengan bakatnya.

Pendidikan kita belum memfasilitasi bakat dan minat anak itu sendiri. Bukan karena si anak tidak mau dan tidak mampu, tapi karena sistem pendidikan kita yang memaksa dengan kurikulumnya. Dan keseragaman yang diterapkan pada anak didik. Padahal setiap anak-anak itu berbeda, mempunyai keunikan dan kelebihannya masing-masing.

SALAM (Sanggar Anak Alam) Yogyakarta | Foto doc. SALAM

Pada buku Sekolah Apa Ini, yang disusun Gernatatiti dkk menuliskan bahwa anak belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing dan menurut kemampuannya masing-masing untuk mencapai perkembangan akademik, sosial, emosi, dan fisiknya secara optimal.

Buku karangan SALAM itu menguraikan, anak juga dipaksa menelan pengetahuan yang sebenarnya tidak terlalu penad (baca: relevan) atau bahkan tidak mereka butuhkan. Di lain pihak anak juga tidak punya kesempatan mendalami pengetahuan dan keterampilan yang dianggap “tidak penting” oleh institusi pendidikan.

Anak-anak bahkan sering belajar sesuatu yang tidak sesuai dengan tahap perkembangannya. Misalnya saja di mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), siswa SD dipaksa menghapal kekuasaan eksekutif, legislatif, dan eksaminatif tanpa ada relevansinya dengan pengalaman anak. Semua jadi pengetahuan abstrak, karena tidak dijumpai dan tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari anak, tulis Gernatatiti dkk pada buku Sekolah Apa Ini.

Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara juga sudah mengingatkan bangsa ini, “Among sistem kita yaitu menyokong kodrat alamnya anak-anak yang kita didik, agar dapat mengembangkan hidupnya lahir bathin menurut kodratnya sendiri-sendiri.”

Maksudnya jelas anak-anak memiliki bakat dan minatnya masing-masing, dan ini dilatarbelakangi oleh pengalamannya sendiri. Contohnya anak-anak petani di desa berdasarkan pengalamannya langsung tentu akrab dengan tanaman-tanaman pertanian, seperti padi, umbi-umbian, tanaman palawijaya, dan rerumputan. Kalau ditanya tahu Iphone 11 pro tidak? Belum tentu tahu.

Begitu juga sebaliknya anak-anak urban, akrab dengan kendaraan dari berbagai model, gedung-gedung tinggi pencakar langit, smartphone super canggih, informasi dan teknologi mudah diakses. Tapi kalau ditanya tahu tumbuhan cimplukan tidak? Belum tentu tahu, karena pengalaman mereka tidak pernah terekam dengan tumbuhan cimplukan.

Sama halnya dengan pendidikan, anak-anak tidak bisa dipaksa seragam dalam proses belajarnya. Karena latar belakang dan pengalaman mereka berbeda-beda. Dari keberagaman itu pula timbulnya minat dan bakat belajar. Jika tetap dipaksa maka minat anak-anak belajar akan menurun, atau malah sama sekali menganggap sekolah itu “mengerikan”. Anak-anak jadi trauma.

Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2019 SALAM Yogyakarta | Foto Anang Istiawan, SALAM

SALAM (Sanggar Anak Alam) mengakui anak-anak didiknya juga seperti itu. Mereka belajar dengan cara yang berbeda karena faktor keturunan, pengalaman, lingkungan, kepribadian, kecerdasan, bakat, hambatan fisik, emosi dan sosial, sebagaiman dikutip dari Buku Apa Ini.

Lebih lanjut lagi pada buku yang sama, juga berkeyakinan bahwa tidak ada anak yang tidak mampu belajar. Dengan memahami kebutuhan setiap individu, semua anak dapat belajar secara efektif. SALAM menyakini bahwa momentum belajar terbaik adalah dengan mengalami peristiwa secara langsung. Lalu bagaimana anak belajar lewat peristiwa? Tentu saja peristiwa itu harus terkait dengan hal-hal yang ia minati.

Sistem pendidikan kita dari tingkat SD sampai SMA tentu belum begitu akrab dengan riset. Biasanya riset mulai dikenal di bangku perkuliahan.

Pada buku itu juga menerangkan bahwa riset pada anak-anak SALAM bukanlah riset akademik atau riset yang dilakukan mahasiswa menulis skripsi yang malah terkadang tidak dipahami oleh si mahasiswa itu sendiri. Riset di SALAM dimaknai sebagai proses penyelidikan, pengamatan, atau pencarian yang seksama untuk memperoleh fakta, yang kemudian menjadi dasar untuk menyusun pengetahuan baru, dan diterapkan sesuai dengan pemahaman barunya tersebut.

Ternyata anak-anak yang terbiasa belajar melalui metode riset cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mampu menyelesaikan permasalahan, berpikir secara sistematis, objektif, dan memiliki dasar pemikiran yang kuat.

Roem Topatimasang menuliskan epilog pada buku itu menerangkan, anak umur 10 tahun sudah melakukan riset. Dia mencotohkan Oyi murid kelas 4 SALAM. Dia memilih “membuat layang-layang” sebagai tema risetnya. Dia melakukan serangkaian kegiatan layaknya seorang peneliti: membuat daftar pertanyaan, mencari sumber informasi, mewancarai narasumbernya, menuliskan hasil wawancaranya, lalu melakukan praktik membuat layang-layang, dan akhirnya menerbangkan layang-layangnya. Seluruh proses percobaan itu diulanginya sampai tiga kali.

Hasilnya?

“Gagal!” kata Oyi saat menyajikan hasil risetnya kepada kawan-kawan sekelasnya, “layang-layangnya nggak mau terbang.”

Kalau kita ingin merujuk pada kerangka berpikir Taksonomi Bloom hasil rumusan Benjamin Bloom dan kawan-kawannya. Taksonomi Bloom menjelaskan tiga struktur terbawah, yakni menghapal, memahami, dan mengaplikasikannya. Tiga level selanjunya adalah analisis, evaluasi, dan penciptaan.

Lalu pendidikan Indonesia pada level di mana? Jawabannya berdasarkan PISA pada level terbawah, yaitu menghapal, memahami, dan mengaplikasikan. Belum mampu menganalis, evaluasi, dan penciptaan.

Bercermin pada SALAM, bagaimana cerita Bon yang menciptakan suatu produk. Anak kelas 4 SD itu sudah membuat roti sobek dengan merek “Bon Roti” hasil kreasinya sendiri. Produksi roti sobek merupakan proyek riset yang dia pilih untuk semesternya.

Para siswa SALAM menjajakan hasil produknya di Pasar Legi | Doc. SALAM Yogyakarta

Jika kita memakai tolok ukur rumus kerangka berpikir taksonomi bloom, maka Bon yang masih kelas 4 SD itu sudah berada di level tertinggi, yaitu penciptaan.

Maka kita bisa berimajinasi seandainya sistem pendidikan kita sejak SD sudah melakukan riset, tentu kita boleh “berbusung dada” dengan negara-negara pendidikan maju. Karena kita sudah pada level tertinggi berpikir, penciptaan.

Jadi sebagaimana yang dituduhkan oleh IC bahwa pendidikan Indonesia itu rendah karena gurunya berkualitas rendah itu keliru! Dia belum mampu menarik benang merahnya.

Melirik Pendidikan Negara Sosialis Kuba

Para siswa Kuba | Foto Flickr, Yeon Jeong Kim

Sebelum Fidel Castro, Che Guevara, dan kawan-kawan merevolusi Kuba dari rezim diktator Bautista, Castro menyampaikan ada enam problem besar yang harus diselesaikan, “Kita harus sesegera mungkin menyelesaikan secara bertahap, yakni masalah tanah, industrialisasi perumahan, pengangguran, pendidikan, dan kesehatan,” katanya di Fort Mocanda 26 Juli 1953. Dan rencana itu berjalan pada 1 Januari 1961, sejak saat itu mulai memobilisasi dan perencanaan pembangunan sektor pendidikan di seluruh negeri (Indoprogress.com, 2006).

Artikel yang ditulis oleh Coen Husain Poentoh melanjutkan, dalam mobilisasi massa terdidik untuk mengajari massa rakyat buta hurup, slogan yang dikumandangkan, “the people should teach people”. Di kantor-kantor, di lahan-lahan pertanian, perkebunan, dan pabrik-pabrik dikumandangkan “if you know, teach; if you don’t know learn”. Sementara di radio dan televisi nasional, setiap saat diumumkan bahwa, “Every Cuban a teacher; every house is school”.

“Pada organisasi-organisasi massa, dipropagandakan kepada seluruh anggotanya bahwa penyair menulis puisi, artis melukis gambar dan mendesain poster, penulis lagu menulis lagu, pers memuat berita utama tentang kemajuan dan fotograper berpartisipasi dalam kampanye melalui gambar. Pokoknya seluruh bangsa berperan serta dalam gerakan revolusioner besar-besaran dalam bidang kebudayaan: pemberantasan buta hurup. Pada 22 Desember 1961, program alpabhetisasi ini berakhir. Hasilnya, angka buta hurup merosot drastis, 23,6 persen program ini sejak dicanangkan menjadi tinggal 3,9 persen,” tulis Husain lagi.

Dina Martina yang waktu itu masih menjadi pegawai Kementerian Luar Negeri menceritakan kisahnya saat tinggal di Kuba pada laman Kumparan.com.

Rakyat kuba dapat mengenyam pendidikan di semua jenjang pendidikan Kuba hingga S3, bahkan profesor (baca: pendidikan gratis). Pemerintah juga memberikan perhatian khusus kepada anak-anak usia sekolah.

Suatu ketika diceritakan bahwa ada pelajar tingkat SMP yang kedapatan hamil. Pihak sekolah mengizinkan yang bersangkutan untuk tetap sekolah dan mengambil cuti ketika melahirkan. Setelah melahirkan, yang bersangkutan dapat melanjutkan sekolah seperti biasa.

“Jangan bandingkan itu di Indonesia, karena Indonesia memiliki nilai yang berbeda. Saya hanya menyoroti bagaimana pemerintah Kuba sangat consern terhadap pendidikan,” tulis Martina.

Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa untuk memajukan pendidikan, pemerintah harus bertanggungjawab penuh dan mengutamakan pendidikan. Melibatkan berbagai lini untuk mengkampanyekan dan terlibat langsung pada pendidikan. Sebagaimana awal revolusi Kuba dalam pemberantasan buta hurup.

Kita tidak serta merta hanya memberikan beban pada guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kita semua harus terlibat. Bayangkan satu guru harus mendidik siswa berjumlah 30, bahkan ada yang lebih. Di sudut-sudut pelosok negeri malah satu guru bisa mengampu dua kelas. Jeritan guru honorer yang digaji hanya 300 ribu per bulan, itu pun diterima secara tiga bulan sekali.

Apa pantas kita sebut pendidikan Indonesia rendah karena kualitas gurunya rendah? Memakai istilah Cinta, “Kamu jahatttt, Indra!”

Pada laman Berdikarionline.com menuliskan salah satu investasi besar Kuba di bidang pendidikan yang juga menakjubkan tenaga guru yang melimpah. Rasio guru-murid di Kuba terbilang tertinggi di dunia: satu guru untuk setiap 42 penduduk.

Anak-anak di Kuba bisa menikmati perhatian dan pengajaran terbaik dari gurunya. Sebanyak 88 persen ruang kelas di Kuba hanya diisi oleh 20 murid. Kalau lebih, maka gurunya ada dua orang. Untuk Sekolah Menengah, satu kelas maksimal 15 orang. Dan setiap guru didorong untuk menguasai semua mata pelajaran, kecuali pelajaran khusus, seperti seni, bahasa asing, dan lain-lain.

Bahkan, di Kuba ada “guru berjalan” yang dikirim ke rumah siswa yang tidak bisa hadir karena sakit atau penyandang disabilitas.

“Bank Dunia menyebut pendidikan Kuba sebagai pendidikan terbaik di Amerika Latin dan Karibia. Dalam Education Index, yang dikeluarkan oleh PBB sepaket dengan Human Development Index (HDI) Kuba masuk 50 besar. Oleh Unesco, Education for All Development Index (EDI) Kuba mencapai 0,983, merupakan yang tertinggi di Amerika Latin dan Karibia,” tulis Raymond Samuel.

Penulis sendiri punya pengalaman berbagi ilmu penulisan mulai 2018 sampai saat ini di komunitas menulis. Pada saat itulah baru sadar ternyata sulit dan beban moralnya luar biasa. Punya tanggungjawab mentransfer ilmu pengetahuan dan skil menulis tidak semudah bacot bla… bla.. bla…

Kita harus memahami latar belakang siapa yang dihadapi, mengetahui ketidakstabilan emosinya saat itu, sulitnya menanamkan kesadaran literasi, dan masih sepelenya terhadap kesepakatan yang dibuat. Harus diakui kita mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan materi hanya demi apa yang kita perjuangkan bahwa pendidikan sangat penting bagi bangsa dan negara. [Asmara Dewo]

Baca berikutnya: Sekolah Adalah Penjara yang Sesungguhnya

Gratis iklan di www.asmarainjogja.id
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Pendidikan

2 Comments

  1. […] Bukan Kualitas Guru Rendah, tapi Sistem Pendidikan yang Salah […]

    Reply

  2. Tips Blog

    May 20, 2020 at 11:31 am

    Pendidikan memang merupakan sebuah fondasi penting untk kemajuan peradaban sebuang bangsa. Jadi pada saat suatu negara meremehkan hal ini atau bahkan salah mengurus hal ini maka dipastikan kemajuan negara tersebut akan terhambat dan menjadi tertinggal dibanding negara lain.

    Intinya pendidikan harus tepat sasaran, dan benar-benar melakukan sesuatu yang efisien dan efektif. saya rasa ini sebenarnya juga termasuk pemilahan kualitas guru nya. Memang tidak semata-mata guru yang di perhatikan, tetapi minimal hal ini menjadi satu faktor penting yang harus diperhatikan.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Kepadamu yang Tak Merindukanku: Kini Kutahu Rindumu Bukan untukku

Ilustrasi perempuan sedih yang mendalam | Pixabay from Pexels.com Asmarainjogja.id-Berbula…