Home Cerpen Di mana Menukar Harga Diri?

Di mana Menukar Harga Diri?

22 min read
0
0
197
Foto ilustrasi | Photo by Valeria Ushakova from Pexels

Asmarainjogja.id-Mata bundar dara desa yang baru menginjak usia enam belas tahun itu berkilau. Betapa tidak. Dia baru saja dipersunting oleh pemuda yang paling tampan di desanya. Selain itu, si pemuda terkenal lumayan kaya karena mewarisi sawah dan ladang milik kakeknya. Orang-orang pasti menduga bahwa nasib Rusmi akan manjur kelak ketika diperistri oleh lelaki bernama Salmalendra. Banyak yang memperbincangkan hal ini, mulai dari grup rumpian ibu-ibu di kali, remaja-remaja di beranda, sampai bapak-bapak di pos ronda. Kedua pasangan itu seperti selebritas saja.

Rusmi yang mabuk kepayang oleh janji manis pemuda idamannya pun enggan menanggapi celotehan warga. Dia menganggap semua hanya komentar iri. Dia tetap woles dan bahagia sambil menanti hari pernikahan mereka yang akan digelar dua bulan lagi. Berbagai persiapan sudah disediakan. Banyak sanak keluarga yang turut berbahagia dan bersuka ria membantu. Kebetulan, ayah Rusmi baru saja panen padi sebanyak lima belas karung. Semua akan digiling untuk dijadikan beras yang dipergunakan pada acara pernikahan putri sulungnya.

Tidak hanya beras, paman dan bibi serta para tetangga membantu menyumbang bahan-bahan pokok, antara lain minyak kelapa, gula, mie, dan kentang. Dalam hitungan hari, dapur rumah tua mereka dipenuhi oleh bahan pokok makanan. Kakek Rusmi juga menyumbang seekor sapi betina ukuran sedang untuk disembelih. Benar-benar akan diadakan pesta meriah tingkat desa sebentar lagi.

Pak Kades berencana menyumbang hiburan kuda lumping pada malam puncak. Pak Kades begitu dekat dengan keluarga Salmalendra. Keluarga Salmalendra pun menerima niat baik Pak Kades dengan tangan terbuka. Mereka juga memberikan peningset lengkap, perhiasan, dan sejumlah uang bagi keluarga Rusmi sebagai tanda cinta serta bersedia mengambil anak gadis itu menjadi bagian dari keluarga. Bertambah besar kepalalah Rusmi seketika. Dia pun pamer kepada gadis seusianya yang saban sore datang ke rumah. Gadis-gadis lugu itu berdecak kagum.

“Wah, bagus sekali Rus, aku juga mau,” kelakar Tini.

“Iya ni, bagus sekali permata cincinmu. Kapan ya ada yang melamarku?” sambung Ningsih penuh harap.

Mereka tertawa melepas segala sedih, bahkan lupa bahwa pernah berduka. Bagi mereka, dipersunting oleh pemuda yang bersedia hidup bersama adalah sesuatu yang lebih berharga daripada cincin, kalung, atau giwang. Terlebih jika pemuda itu bertanggung jawab dan setia. Dunia ini terasa surga yang penuh kenikmatan. Mengalir sungai bening, terhampar kebun buah, taman bunga, dan segala makanan yang lezat.

***

Sepekan sudah Rusmi menjadi istri Salmalendra. Lelaki bertubuh kekar dan berkulit sawo matang itu amat lembut memperlakukan Rusmi. Rusmi pun semakin mencintainya dengan sepenuh jiwa. Merasa sangat beruntung dilahirkan ke dunia dan bertemu dengan pangeran penolong hidupnya. Hingga kebahagian mereka semakin bertambah ketika sudah dikaruniahi seorang bayi lelaki mungil berhidung mancung. Ayah bayi itu menamainya Siliwangi Aji Darma. Nama yang menurut orang tua-tua penuh makna.

Seiring berjalannya waktu, sayang sekali, prahara datang menerpa rumah tangga mereka yang diawali dengan perubahan sikap Salmalendra kepada Rusmi. Sekarang dia berani membentak istrinya, bahkan menampar jika ada perkataan atau perbuatan Rusmi yang kurang berkenan di hati. Rusmi hanya bisa menangis terisak-isak sembil mendiamkan bayinya yang menangis pula akibat mendengar suara gaduh ayah-ibunya.

Tidak hanya sampai di situ, Salmalendra jarang pulang, jika pun pulang, larut malam. Jika ditanya, dia selalu marah. Ternyata dia sering main judi dan mabuk-mabukan. Sawah dan ladang peninggalan sang kakek Salmalendra pun ludes terjual karena kalah judi. Hanya rumah mungil yang mereka tempati saat ini yang tersisa. Namun, rumah itu diminta kembali oleh sang kakak yang terpaksa pulang kampung karena usahanya bangkrut di Jakarta. Akhirnya, Salmalendra memboyong istri dan anaknya ke Kota Malang. Di sana mereka memulai hidup yang baru dengan mengontrak dan berjualan nasi soto.

Usahanya lumayan laris, tetapi Salmalendra semakin enggan bekerja, hanya mengandalkan uang dari sang istri. Suatu hari Rusmi jatuh sakit karena kelelahan. Akhirnya dirawat selama lima hari di rumah sakit. Setelah sembuh, dia kembali membanting tulang yang sebenarnya dia sendiri tidak kuasa. Sementara itu, Salmalendra memutuskan untuk merantau ke ibu kota provinsi (Surabaya). Dua bulan kemudian kembali membawa uang. Ternyata dia bekerja menjadi perantara perdagangan perempuan.

“Rus, aku punya pekerjaan baru sekarang. Gajinya lumayan. Ini buktinya, baru dua bulan bekerja sudah dapat sembilan juta,” celoteh Salmalendra suatu sore di dapur saat Rusmi menyiapkan makan malam berupa tahu dan tempe goreng, tumis kubis, dan ampela sambal.

“Memangnya Mas kerja apa di Surabaya?” Rusmi heran, tampak dari raut muka yang mengernyitkan dahi lusuhnya.

“Sudahlah, kau tak perlu tahu, yang penting kita bisa kembali hidup mewah. Tapi…” lelaki yang kini berambut panjang dikuncir ke belakang itu mengajukan syarat.

“Tapi apa, Mas?” Rusmi melotot petanda kembali heran.

“Besok kau kuajak ke Surabaya. Ikut bekerja denganku. Kau tinggalkan saja pekerjaan berdagang soto itu. Kita cari penghidupan yang lebih layak,” Salmalendra menjelaskan secara cepat. Mau tak mau, Rusmi harus menuruti kemauan sang suami daripada bertengkar.

Sang istri diajak ke Surabaya. Sementara itu, sebelum berangkat ke Surabaya, anak mereka dititipkan ke sang nenek di desa. Di Surabaya ternyata Rusmi dijual kepada sang mucikari berambut pirang, bertubuh sintal, dan garang. Rusmi menangis dan memaki suaminya dengan sumpah serapah. Suaminya mengungkit masa lalu. Rusmi pun terpaksa menjual diri setiap malam, sedangkan suaminya yang telah dirasuki iblis itu hanya menunggu di luar hotel. Setelah selesai, dia merampas semua uangnya. Menyerahkan 30 persen kepada sang mucikari. Selanjutnya, mereka kembali ke tempat tinggal yang hanya berukuran 5 x 6 meter yang tidak jauh dari hotel. Rusmi menangis sampai subuh. Lalu, tertidur pulas hingga pukul 8 lebih. Dia tidak menyangka bahwa suaminya akan sebejat ini.

Ketika bangun, baru saja membuka pintu kamar menuju dapur yang sempit sambil mengucek mata, perempuan malang itu sudah mendapat sarapan berupa umpatan keji. Hatinya hancur bak disambar geledek. Tidak karuan lagi. Nelangsa.

“Kau mau tahu berapa harga dirimu? Seharga mahar yang pernah kuberikan dahulu. Lima puluh ribu rupiah. Sekarang, kau pun telah menjadi perempuan kotor dan murah. Aku sudah tidak mau lagi memakaimu,” pekik Salmalendra dengan wajah beringas sambil berdiri di dekat tirai pemisah ruang tengah –kamar ̶  dengan ruang tamu.

“Kalau kau ingin kembali ke desa, kau harus mengembalikan semua sawah dan ladang yang telah terjual. Kau juga tidak boleh melapor ke polisi. Hidup dan matimu ada di tanganku,” ancam lelaki petir itu sambil menunjuk-nunjuk Rusmi yang semakin lusuh.

“Apakah aku menikah denganmu hanya untuk menjadi budak dan pemuas laki-laki brutal lain? Di mana hatimu? Ingat janji sakralmu dahulu, Mas.”

“Kau tak usah menasihatiku. Aku tetap tidak suka lagi denganmu. Gara-gara kamu juga aku jatuh miskin.”

“Kau yang kalah judi dan gemar mabuk-mabukan, kau pula yang menyalahkanku.”

“Itu karena aku menikah denganmu, perempuan bodoh!”

***

Selama tiga tahun lebih Rusmi menjalani profesi terkutuk ini di lokalisasi. Dia terperangkap. Hanya sebulan sekali boleh kembali ke kontrakan untuk beristirahat. Profesi ini tidak diketahui oleh keluarganya. Akibat pekerjaan kotornya itu, dia pun mengidap HIV. Dengan hati yang pilu, dia mengadu kepada suami iblisnya itu.

“Mas, aku positif terkena HIV/AIDS.”

“Hah? Kenapa bisa terjadi? Kau ini bagaimana, sih?”

“Jangan salahkan aku. Ini salahmu. Kau jadikan aku sampah. Aku tidak berharga sedikit pun di matamu. Kau ini iblis!”

Plaaakkkk!

Spontan tangan kanan Salmalendra mendarat mulus di pipi tirus perempuan yang semakin ceking karena menahan sakit fisik dan batin itu. Namun, dia tidak membalas, bahkan menangis pun tidak. Kornea matanya telah mengering. Ibarat kemarau. Sudah kandas.

“Suatu saat Tuhan akan membalasmu, lelaki durjana…” dia memilih pergi.

Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, perempuan nestapa itu menanggung sakitnya. Dia tidak berobat. Suaminya yang dangkal itu tidak berinisiatif membawanya ke dokter. Uang hasil kerja keras Rusmi justru digunakan untuk bersenang-senang.

Sampailah pada hari kematian Rusmi. Menjelang sakaratul maut, barulah lelaki bodoh itu memanggil dokter. Pertolongannya amat terlambat. Nyawa Rusmi tidak tertolong. Dia meninggalkan segalanya ke alam lain dengan balutan jarik lusuh, selusuh raut muka dan rambutnya. Dia pergi bersama kekecewaan dan kelukaan yang sangat nanar. Namun, sebelum mengembuskan napas terakhir, dia sempat menulis secarik surat di atas kertas buram yang diselipkan di kantong daster yang dikenakannya. Tulisan itu berbunyi.

Bilang kepada suamiku, di mana menukar harga diriku yang telah diinjak-injak sebagai seorang perempuan? Sampai kapan pun aku tidak pernah ikhlas dia hidup di dunia. Tempat abadinya ialah neraka.

Dokter Irma yang memeriksa menemukan surat terakhir Rusmi tanpa sepengetahuan Salmalendra. Kemudian, menyimpan dalam saku jas putihnya. Sang dokter sudah curiga. Dia hanya menyarankan agar lekas memberi kabar kepada keluarga mereka di desa serta mengumumkan kepada warga perihal kematian Rusmi. Dengan demikian, jenazah Rusmi segera dimandikan, dikafankan, dan disalatkan, juga dikebumikan.

Salmalendra gugup. Bingung hendak berbuat apa, lekas mengabarkan tetangganya. Lalu, menelepon keluarga Rusmi tentang kematian putri kebanggaan mereka. Hari itu juga keluarga Rusmi berbondong-bondong melayat. Sang ibu beberapa kali pingsan, seakan-akan tidak percaya dan tidak rela atas kematian sang anak yang selama ini menyimpan derita karena ulah sang suami.

Sesampainya di kontrakan sempit yang bertahun-tahun dihuni Salmalendra dan Rusmi, sang ayah mencecar menantunya dengan beragam pertanyaan, mulai dari sakit apa, mengapa bisa sampai sakit, dan apa yang dilakukan mereka selama ini. Berdasarkan riwayat keluarga, di keluaga Rusmi tidak ada yang menderita sakit kronis, apalagi mati muda. Sementara itu, sang ibu yang turut memandikan jenazah putri tercintanya, menemukan kejanggalan di bagian tertentu tubuh sang anak. Dia histeris. Terus saja menangis. Ibunya meminta agar Salmalendra menceritakan kejadian apa sebenarnya yang terjadi. Namun, lelaki yang mata hatinya telah membatu itu berbohong.

“Sakit apa anakku? Ayo jawab? Selama ini kamu dan dia tidak pernah bercerita,” pekik Ibu Rusmi yang tidak sabar mendengar pengakuan Salmalendra.

“Sa…sa…sakit tipus, Bu. Mungkin Rusmi kelelahan,” jawabnya terbata-bata.

Dokter Irma yang turut hadir, seusai pemakaman memberikan kesaksian kepada keluarga Rusmi bahwa sebenarnya Rusmi meninggal bukan karena sakit tipus, melainkan terjangkit HIV/AIDS. Dokter di rumah sakit yang pernah Rusmi kunjungi juga memberikan pengakuan saat ditelepon langsung oleh dokter Irma.

“Dokter spesialis penyakit kelamin itu adalah teman kuliah saya dulu. Sebagai dokter kami harus profesional. Tidak mau berbohong sebab kami telah disumpah. Bukan maksud saya membuka aib tentang penyakit almarhumah Rusmi, melainkan saya hanya ingin menyampaikan kebenaran agar keluarga Rusmi tidak penasaran,” terang dokter Irma dengan tegas.

Mengetahui pengakuan petir ini, keluarga Rusmi tidak tinggal diam. Mereka amat berang. Sang ayah segera memaksa Salmalendra untuk berterus terang atas apa yang sudah terjadi. Salmalendra yang dilanda ketakuatan luarbiasa, akhirnya menceritakahn hal ihwal peristiwa apa yang menimpa Rusmi sejak mereka pindah ke Surabaya. Ayah Rusmi pun langsung menampar pipi menantunya, sama seperti Salmalendra menampar Rusmi beberapa waktu lalu.

Keluarga Rusmi yang tidak terima bahwa anak mereka telah dijadikan korban perdagangan manusia hingga terjangkit penyakit mematikan itu segera melaporkan Salmalendra ke pihak yang berwajib. Dokter Irma bersedia menjadi saksi di pengadilan. Dia juga memberikan secarik surat yang sempat ditulis oleh Rusmi kepada kedua orang tua Rusmi. Betapa lebur hati sang ibu. Terkoyak-koyak tidak berbentuk. Tangisnya pecah hingga ke angkasa. Surat sang putri benar-benar menghilangkan rasa cinta seorang ibu mertua terhadap menantu yang selama ini dianggapnya bagaikan malaikat. Hari itu pula dia tidak menganggap Salmalendra manusia, melainkan iblis.

Salmalendra meronta-ronta. Lubuk hatinya menyesal. Namun, sudah terlambat. Rusmi yang telah tiada, tidak mungkin terlahir dan hidup kembali ke bumi. Atas perbuatan tidak manusiawinya itu, dia pun mendekam dalam jeruji bersama sang mucikari yang juga dilaporkan. Di dalam jeruji, setiap malam dia berteriak-teriak. Seakan tidak terima atas semua ini. Dia juga menangis dan menyebut nama Rusmi keras-keras hingga tahanan lainnya terganggu. Pikirannya benar-bernar sudah tidak seimbang atau normal, jiwanya sakit, dia pun menjadi gila.

“Penjara di dunia lebih baik bagimu daripada kau terperangkap dalam neraka di akhirat,” tutur sang mertua perempuan.

“Atau kau abadi saja di dalam rumah sakit jiwa, bahkan menjadi penghuni jalan yang terlunta-lunta, tidak tahu arah…” sambung mertua lelaki dengan penuh kegeraman.

Salmalendra yang sudah tidak waras menunduk, sesekali memandang tajam ke sekeliling, kemudian meronta-ronta sambil menjambak rambutnya sendiri. Sipir yang menjaga pun ketakutan. Barangkali tempatnya yang tepat bukan di sel, melainkan rumah sakit jiwa.

Penulis: Yulaika Ranu Sastra, penyuka warna biru, cerita perempuan, dan klepon

Baca juga tulisan Aika lainnya:

Budaya Pop Era Postmodern: Antara Tren atau Pemuja Kapitalis

Pendidikan sebagai Pondasi Suatu Peradaban (Refleksi Memperingati Hardiknas 2 Mei 2020)

Mengenalkan Kembali Permainan Rakyat di Tengah Era Digital

Hai…hai…hai…
Malas ribet atau takut keluar rumah karena corona?
Aika Gordin hadir melengkapi perlengkapan pergordinan di rumah/kantor Anda dengan aneka model, warna, motif, dan bahan (sesuai permintaan). Melayani pemesanan online. Harga mulai dari Rp180.000-an (kain jendela dua nako dan dua kain pintu).
Dijamin berkualitas, harga miring, dan tentunya indah dipandang. Segera hubungi CP: 085362222630 (WA).
Pengiriman dari Sumatera Utara.

Load More Related Articles
Load More By admin
  • Gadis Kepompong Hitam

    Ilustrasi Gadis Kepompong | Istockfoto Oleh: Re Tiapian Asmarainjogja.id — “Hu…
  • Jakarta Belum Berakhir

    Jakarta Belum Berakhir | Foto Indeksberita Oleh: Asmara Dewo Ibu Kota menjanjikan sebuah h…
  • Jurang Keluarga

    Tessa dan Ilo (Ilustrasi) | Foto by Lovetoknow Oleh: Asmara Dewo Sudah lima bulan hubungan…
Load More In Cerpen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Kepadamu yang Tak Merindukanku: Kini Kutahu Rindumu Bukan untukku

Ilustrasi perempuan sedih yang mendalam | Pixabay from Pexels.com Asmarainjogja.id-Berbula…