Home Uncategorized Opini Rakyat Miskin “Bodoh” yang Saling Membodohkan dan Menyalahkan

Rakyat Miskin “Bodoh” yang Saling Membodohkan dan Menyalahkan

10 min read
0
0
547
Ilustrasi buruh sebagai komoditas kapitalis |Pixabay from Pexels.com

Asmarainjogja.id-Rakyat miskin tidak pernah salah, sedangkan pemerintah dan perusahaan selalu salah. Memang tampak tidak adil, tapi kalau mau kita berpikir lebih radikal saja kita akan sepakat bahwa rakyat miskin yang hidup di negeri ini hanya korban pembodohan.

Rakyat miskin selalu jadi objek oleh pemerintah untuk menjalankan sistemnya. Sementara rakyat atau buruh bagi perusahaan hanya sebagai komoditas. Rakyat di mata para penguasa dan pengusaha hanya sebagai alat untuk memenuhi nafsu mereka. Kalau pejabat nafsunya adalah kekuasaan, sedangkan pengusaha nafsunya adalah keuntungan.

Rakyat miskin tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan akses pendidikan yang sesuai kebutuhannya. Bahkan masih banyak yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan. Nah, maksud pendidikan yang sesuai minat dan kebutuhannya ialah pendidikan yang mengantarkan mereka pada kesejahteraan. Mereka menjadi rakyat yang bebas tanpa terbelenggu oleh sistem yang bertentangan dengan kemanusiaan.

Pendidikan menjadi kunci utama bagi kesadaran rakyat. Sebagai alat untuk membangunkan mereka dari nina bobo penguasa. Sebagai senjata pula untuk melawan pengusaha yang menindas. Tapi sayangnya, pintu pendidikan itu sudah diganti oleh penguasa, sedangkan kuncinya dibuang. Dan rakyat disuruh mencari sendiri kunci tersebut, bagi yang mendapatkannya maka bersyukurlah, ia bisa menempuh pendidikan. Sedangkan yang tidak menemukan kunci itu akan terkatung-katung hidupnya di tengah kekejaman sistem penindasan.

Setelah lahir kaum cendekiawan itu ternyata tidak membawa perubahan pada bangsanya. Sistem pemerintahan masih kacau balau, dinasti politik tetap berkuasa, politik oligarki semakin subur, koruptor merajalela, perusahaan kapitalis tumbuh berlipat ganda, si kaya bertambah kaya raya, dan rakyat miskin tetap pada status lamanya, si miskin yang dihinakan. Si miskin yang dipecundangi oleh pemerintahnya sendiri.

Baca juga:

Pak Bongku Lebaran di Penjara dan Kita Senang-senang Makan Lontong Sayur

Berdamai Menurut Tereliye dan Jokowi, Mana yang Konsisten?

Maka sejak itu pula gugur kepercayaan kita pada kaum cendekiawan yang digadang-gadang membawa perubahan bangsa. Sebenarnya di mana kesalahannya? Kenapa bisa cendekiawan yang sudah menempuh pendidikan tak bisa mengangkat harkat martabat saudaranya yang miskin. Maka sederhana jawabannya, karena pendidikan kita tidak berpihak pada rakyat. Mindset yang ditanamkan saat belajar adalah keberpihakannya terhadap pemerintah dan perusahaan.

Jadi wajar saja seberapa banyak pun negeri ini melahirkan orang-orang cerdas, impian perubahan itu hanya utopis saja. Orang yang sudah dibekali ilmu pengetahuan itu lebih tertarik di lingkaran istana daripada hidup bertetangga dengan kaum papa. Lebih memilih gaji super tinggi di perusahaan kapitalis daripada menyebarkan keilmuannya di tengah-tengah masyarakat. Ya, karena otaknya sudah dimasukkan chip yang isinya materi, kuasa, dan kejayaan.

Orang yang demikian itu bahkan sanggup menyalahkan rakyat miskin demi kepentingan koleganya. Siap menjadi ahli untuk menyalahkan rakyat miskin yang merintangi ambisi mereka. Dan berani membawa ayat-ayat suci demi membenarkan pendapatnya. Tujuannya cuma satu menggolkan apa yang menjadi tujuan yang mengutusnya.

Lagi-lagi rakyat miskin dipecundangi oleh kaum intelektual, politis, dan pebisnis.

Setiap kata yang keluar dari rakyat miskin hanya angin lalu, suaranya agak keras dan tajam dituduh pengancaman, penghinaan (padahal kritik sehat). Rakyat mulai menggonisir diri dicurigai akan melakukan makar. Padahal penguasa punya semua alat yang kapan saja bisa membumihanguskan rakyatnya. Tapi, ya, begitu, agar tidak meluas dan mengganggu, tuduh-menuduh sudah menjadi darah daging penguasa.

Tidak sampai di situ, performa antara cendekiawan, politis, dan kapitalis melahirkan formula yang memecah belah persatuan rakyat. Hubungan rakyat yang selama ini baik-baik saja mulai sinis, saling curiga, bahkan sampai pada konflik fisik. Komplotan para bedebah tadi berhasil memberikan umpan kepada rakyatnya. Hingga akhirnya rakyat miskin tadi bercerai berai. Sudah lupa siapa sebenarnya biang penyebab rusaknya tatanan kehidupan mereka.

Para kompolotan sorak-sorai merayakan kemenangan. Tidak perlu pakai senjata yang mengotori tangannya untuk membungkam teriakan rakyat. Cukup melemparkan propaganda, isu agama, dan ideologi. Rakyat di bawah saling baku hantam, membunuh atau dibunuh. Kalah jadi abu, menang jadi arang, karena mereka memang tidak tahu siapa musuh sebenarnya.

Begitu seterusnya, dari tahun ke tahun, abad ke abad. Rakyat miskin selalu jadi korban.

Lain cerita kalau rakyat diberikan segala akses untuk mendapatkan haknya. Tapi, kan, faktanya tidak seperti itu. Hak rakyat dikebiri. Bahkan hak yang ada pada dirinya sendiri tidak diakui oleh penguasa. Kan, sudah melampaui batas yang demikian itu?

Paham hak-hak yang ada pada manusia itu sendiri? Bahkan negara tidak boleh melarangnya, apalagi mencabutnya. Tapi bagi penguasa itu tidak berlaku. Hak rakyat adalah hak yang tidak boleh bertentangan dengan penguasa. Jadi rakyat itu hidup hanya sebatas hidup. Tidak ada naluri kemanusiaannya lagi untuk perubahan. Ya, naluri manusia untuk kebebasan dari belenggu penindasan itu sendiri.

Dan akhirnya rakyat menjadi manusia yang tidak punya harapan lagi. Terserah kepada penguasa, seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Mengikuti saja perintah, kalau berhenti dicambuk, melawan apalagi. Pada masa seperti itu rakyat mati kelaparan, mati keletihan, mati karena keputusasaan, dan mati karena benar-benar dimatikan.

Baca juga:

1 Mei, Hari yang Paling Ditakuti Penguasa dan Pengusaha

Jika “Nasi Anjing” di Hadapan Orang Miskin, Dimakan atau Tidak?

Sudah miskin, tuna ilmu pengetahuan pula, jadi seperti kebiasaan bagi penguasa dan kelompoknya mengatai rakyat itu bodoh. Padahal akses ilmu pengetahuan ditutup mereka. Toh, malah senang si penguasa kalau rakyatnya begitu, jadi bisa dibodoh-bodohi selamanya. Bukan hal baru yang seperti itu, sejak zaman perbudakan dan penjajahan telah dipraktikkan. Karena efektif, maka terus dilakukan sampai peradaban selanjutnya.

Sialnya, sesama rakyat “bodoh” saling membodoh-bodohi, dan saling menyalahkan. Buta mata dan tertutupnya logika mereka, sebenarnya siapa di balik pembodohan dan pemiskinan itu? [Asmara Dewo]

Baca berikutnya: Fakta Tante Ernie (Tante Pemersatu Bangsa) Memang Hot Jadi Berita

Cari tahu tentang rapid tes di sini: Yuk Kenali Apa Itu Rapid Test, Biaya, dan Lokasinya

Iklan gratis
Review obat jerawat
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Sebelum Berangkat, Ini 10 Tips Bertualang ke Curug Lawe

Asmarainjogja.id-Pesona Curug Lawe yang berada di Lereng Gunung Ungaran memang tak diraguk…