Home Cerpen Viral

Viral

18 min read
0
0
309
Ilustrasi perempuan berkhimar | Photo by Janko Ferlič on Unsplash

Nihaya, gadis belia yang mendadak viral karena telah merakit senjata api itu terus saja diperbincangkan di berbagai media nasional, bahkan hingga menggemparkan dunia internasional. Banyak yang mencibir dan menuding bahwa dia merupakan seorang anggota kelompok Islam radikal. Guru, teman, dan tetangganya tidak mengetahui hal ini mengapa bisa terjadi.

Mereka hanya mengetahui bahwa Nihaya seorang pribadi cerdas, rajin, sabar, dan dermawan. Dia selalu mengulurkan bantuan kepada siapa yang dianggap membutuhkan sebab keluarganya terpandang. Memiliki banyak harta, tetapi tidak congkak.

Semula ada seorang warga yang mengetahui hal ini. Namanya Pak Tarmo. Pak Tarmo mengendus aroma mencurigakan lewat gerak-gerik Nihaya yang kerapkali membeli suku cadang persenjataapian. Gadis itu pergi ke tempat-tempat yang tidak biasa. Biasanya remaja putri akan senang mengunjungi mall, kafe, taman atau salon.

Paling tidak, toko buku atau toko pakaian. Akan tetapi, tidak dengan gadis manis itu. Dia pergi bersama sang supir pribadi keluarganya. Sekembalinya, dia turun dari mobil, membawa bungkusan besar atau kadang kotak sedang, kemudian buru-buru masuk. Akhirnya, suatu hari Pak Tarmo berinisiatif berpura-pura mencari ayahnya yang bekerja sebagai pengusaha perhiasan, pernak-pernik, dan furniture.

“Ayah ada, Nak?” Pak Tarmo berbasa-basi.

“Oh, ada, Pak. Silakan masuk! Sebentar saya panggilkan,” balas Nihaya lembut.

Sementara itu, dari ruang tengah terdengar suara sang ayah bertanya,” Siapa, Ni?”

“Pak Tarmo, Yah.”

“Oh, suruh ke sini saja, nemani ngopi sambil membersihkan guci.”

“Baik, Yah.”

Nihaya yang penurut itu segera menjalankan titah sang raja di kerajaan bernama rumah. Pak Tarmo manggut-manggut pertanda setuju. Kaki buntalnya yang mirip guling bayi pun menjejak perlahan hingga memasuki ruang tengah yang amat lebar.

Ruangan itu dipenuhi guci mahal yang akan dipasarkan oleh sang ayah ke luar kota. Sesekali mata jalangnya mencuri pandang ke sebuah bilik. Bilik itu tirainya tersingkap sehingga Nihaya terlihat jelas sedang merakit sejata api. Awalnya dia terkejut bukan kepalang bercampur penasaran. Akan tetapi, enggan bertanya, dia hanya bungkam sambil sesekali mencuri pandang lagi. Entah yang ke berapa.

***

Di rumah keluarga Nihaya yang luas telah ditemukan bukti: sejumlah barang rakitan senjata api, desain, dan model dari situs internet. Beberapa hari kemudian lelaki bertubuh tambun dan berambut keriting itu melaporkan Nihaya ke polisi untuk mengusut praduga ini. Hatinya telah dirasuki kebencian.

Dia benar-benar murka. Dalam sekejap, dia juga menyebarkan berita yang menggemparkan tentang hal ini. Keluarga Nihaya mendadak terkejut, syok, bercampur heran mengapa bisa sampai seperti ini. Semua orang menghujat, merundung, dan menyumpah serapah dengan berbagai ujaran kebencian.

“Jangan-jangan mereka bisa kaya karena bersekongkol dengan ISIS atau kelompok radikal lainnya. Ya, mereka sengaja membuat senjata untuk perang,” celoteh Pak RT.

“Ih, amit-amait, na’udzubillah. Sumpah, saya jadi benci dengan mereka yang pura-pura baik,” sambung Bu Marsinah, ahli gosip di kompleks itu.

“Ya, namanya juga manusia, ingin tetap kaya, tetapi caranya duh…amit-amit, deh. Jauhi saja mereka!” celetuk Bu Mika, ibu-ibu berbibir tipis yang sering membuka grup rumpi jika bertemu orang di jalan.

Gadis berkhimar lebar itu tidak menggunakan senjata rakitannya untuk berperang atau diserahkan kepada kelompok teroris, tetapi semata untuk belajar teknologi. Dia terkagum-kagum dengan bangsa Jerman, Rusia, dan Amerika yang mampu memproduksi senjata canggih.

Suatu saat dia ingin mendirikan pabrik senjata untuk para TNI/POLRI. Dengan demikian, pemerintah akan terbantu. Tidak perlu mengimpor senjata dari luar negeri lagi.

Pernah di benaknya ingin membuat senapan jenis AK-47, HK MP5, M-16, SS-1, AWM, dan FAMAS yang pernah dilihatnya di televisi. Semua senjata itu memiliki daya yang kuat dan besar untuk memuntahkan peluru sehingga dengan cepat mematikan sasaran. Selain itu, memiliki kecanggihan teknologi lainnya.

Biasanya digunakan untuk berperang sehingga hanya dimiliki oleh anggota militer Uni Soviet, Jerman, Amerika Serikat, Inggris, Belgia, dan Perancis. Bahkan, TNI tidak bisa memesannya sebab penggunaannya sangat dibatasi.

Pihak kepolisian bersih kukuh akan menggelandang Nihaya ke kantor untuk melakukan pemeriksaan intens. Tubuh gadis yang dari tadi menahan rasa takut itu gemetar. Bibirnya pucat bak ulat Erionota thrax yang bersembunyi di gulungan daun pisang.

Matanya tidak henti mengeluarkan air bening. Kedua telapak tangannya basah oleh keringat. Benar-benar fenomena mengerikan yang pernah terjadi sepanjang usianya.

Baca juga:

Budaya Pop Era Postmodern: Antara Tren atau Pemuja Kapitalis

Mengenalkan Kembali Permainan Rakyat di Tengah Era Digital

“Saya tidak bersalah, Pak. Wallahi, saya tidak memberikan senjata ini kepada kelompok radikal yang kalian curigai sebagai teroris itu! Saya cuma ingin mengembangkan teknologi. Tolong hargai karya saya!” gadis itu memekik pilu. Hatinya tercabik karena telah dituduh sebagai antek teroris yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat Indonesia.

“Kamu jelaskan saja di kantor! Kamu harus ikut kami. Nanti di sana semuanya akan jelas,” bentak lelaki berseragam cokelat dengan wajah garang seolah hendak menerkam perempuan yang berlinangan airmata itu. Kedua anak buahnya menarik paksa Nihaya agar naik ke bak pick up yang terdapat kursi besi yang biasa digunakan untuk membawa para buronan atau sasaran polisi.

Apa hendak dikata? Pihak berwajib sudah bertindak, dia pun tidak dapat mengelak. Bahkan, ayah-ibunya sendiri tidak mampu menahan para lelaki berperut besar itu menangkap putri sulung mereka. Sang ayah segera mencari solusi dengan menelepon rekan yang berprofesi sebagai seorang pengacara andal. Namanya Fredry Rachmat. Lelaki berusia empat puluh lima tahun yang sudah mumpuni di bidangnya dan selalu membela kebenaran.

“Tenang, Pak Bayu. Tenang… semua masalah, ada solusinya. Sekarang ceritakan kronologinya dahulu.”

Pak Bayu, ayah Nihaya pun bercerita semua secara kronologis meskipun terbata-bata saking tidak karuan perasaannya. Dia sangat paranoid kalau saja Nihaya sampai dinyatakan bersalah, lalu mendekam dalam jeruji besi. Neraka dunia yang paling ditakuti dalam kurun waktu yang amat lama. Bisa hancur masa depan sang putri. Menjadi mantan narapidana. Sungguh mengerikan. Na’udzubillah.

***

Usut punya usut, ternyata gadis bermata bundar dengan bulu mata yang lentik mirip peranakan Arab (padahal asli Jawa), belajar di internet cara merakit senjata api jenis senapan secara otodidak. Hal itu dilakukan hanya untuk menyalurkan hobi dan rasa penasarannya. Namun, banyak pihak yang menduga jika dia merupakan anggota kelompok radikal berbahaya. Polisi terus memeriksanya berminggu-minggu.

Keluarganya tidak tinggal diam. Sebisa mungkin menyelamatkannya dari terkaman para aparat hukum dengan menggunakan jasa pengacara Fredry Rachmat. Fredry pun bekerja siang-malam tanpa lelah demi membuktikan bahwa anak rekannya itu tidak bersalah. Berbagai upaya dilakukan Fredry meski berjalan sendiri tanpa bantuan kuasa hukum lainnya. Kerja kerasnya tidak sia-sia. Hasilnya menggirangkan. Nihaya terbukti tidak bersalah saat di persidangan.

“Maafkan kami yang sudah mencurigaimu. Kamu tidak bersalah, Nak. Hanya saja jangan gunakan senjata ini secara bebas, apalagi sampai merugikan orang lain. Kamu memang generasi berbeda. Kembangkan terus bakatmu, tetapi di jalan yang benar!” ucap Kompol Bashori Marzuki yang menangani kasus ini dengan perasaan haru.

“Sudah saya katakan bahwa saya memang tidak berniat melakukan kejahatan, Pak. Semua itu hanyalah rasa ingin tahu yang besar saja,” balasnya bersahaja dengan mata berkaca-kaca.

Akhirnya, Nihaya bisa kembali pulang ke peraduannya setelah sekian minggu ditinggalkan. Betapa pun dia seorang remaja cerdas, dia masih suka tidur dengan boneka panda, beruang, rusa, kera, dan aneka tokoh kartun lainnya. Maklum, usianya belum genap tujuh belas tahun. Masih duduk di bangku kelas XII Aliyah. Dia memang cerdas di bidang fisika, kimia, dan teknologi informatika.

Orangtuanya yang beruang itu pernah mengursuskan di sebuah kursus komputer ternama di Kota Surabaya (tempat mereka berdomisili sekarang). Pelajarannya bukan ilmu dasar komputer saja, tetapi juga perangkat-perangkat lain yang semestinya dipelajari di bangku kuliah.

Tidak hanya itu, gadis yang kesehariannya gemar mengaji itu juga diajari bagaimana membuat animasi dan meng-hack. Namun, dia tidak menyalahgunakan ilmunya. Justru dia mendesain senjata api yang tidak kalah dengan buatan Rusia dan Amerika lewat komputer.

“Niha rindu sekali rumah ini. Niha tidak bisa jauh dari Ayah, Ibu, Dik Daffa, dan para boneka kesayangan yang Ayah belikan,” airmukanya tampak memelas. Dipeluknya tubuh sang ibu yang penuh dengan kasih sayang tiada henti itu.

“Tidurlah, Nak! Kami bisa merasakan apa yang kamu rasakan sekarang,” suara sang ibu mengobati sedikit sakit jiwanya. Dielusnya kepala buah hatinya itu. Buah hatinya amat lelah menjalani semua. Dia pun memutuskan untuk beristirahat setelah mandi, makan, dan menunaikan salat Isya.

Kebebasannya tidak terlepas dari jasa Paman Fredry yang sudah mati-matian membela putri sahabatnya. Lelaki berhati emas itu tidak ingin menerima sepeser pun uang pemberian Pak Bayu. Dia hanya meminta agar Denada, putri tunggalnya yang berusia enam belas tahun, belajar banyak hal kepada Nihaya. Nihaya pun dengan senang hati menerima tawaran itu. Dia berjanji akan mengajari Denada fisika, kimia, dan komputer.

Kelang beberapa minggu setelah dia dinyatakan tidak bersalah, Pak Tarmo yang sempat menyebarkan hoax dan ujaran kebencian di berbagai media lewat akun anak tertuanya pun meminta maaf. Keluarganya membuka lebar pintu maaf.

Mereka tidak melaporkan balik lelaki yang keseharian bekerja serabutan itu. Sebaliknya, malah mempekerjakan dia sebagai tukang antar guci dan perhiasan ke dalam dan luar kota bersama Pak Bayu. Dia merasa amat malu. Andai saja ada sebuah topeng, tentu dia akan menutupi mukanya di hadapan majikan barunya.

Tidak hanya bebas dari tudingan, menerima ucapan maaf, dan merayakan keriangan para keluarga, tetapi juga ada kejutan lain. Gadis cerdas itu ditawari beragam beasiswa dalam dan luar negeri. Lagipula tahun ini dia akan menyelesaikan studi Aliyahnya. Dengan hati gembira dan dipenuhi rasa syukur, dia pun memilih sebuah kampus bergengsi idamannya.

Dia akan melanjutkan studi di luar negeri jurusan rekayasa tenaga nuklir di University of Bristol, Inggris dengan beasiswa. Dia tidak hanya akan membuat senjata api jenis senapan yang pernah dilihat di televisi dan internet, lebih dari itu. Dia akan membuat nuklir.

Nuklir yang dipergunakan untuk percobaan atau membantu berbagai bidang yang meliputi kesehatan, industri, pertanian, dan listrik saja, bukan untuk berperang membumihanguskan orang atau kelompok lain sebab dia antiperang.

Ya, dia membenci darah manusia tidak berdosa bau amis tercecer begitu saja. Dia ngeri melihat tubuh hancur tidak berbentuk. Dia melaknat perbuatan amoral itu, kecuali jika memerangi orang atau kaum penjajah yang merampas negeri dan menindas agamanya secara brutal.

 Penulis: Yulaika Ranu Sastra, perempuan sederhana yang suka warna biru dan pink, juga menulis

Baca cerpen berikutnya: Di mana Menukar Harga Diri?

Rumah Kebaya Aika
Melayani menjahit segala jenis kebaya anak, remaja, dan dewasa. Untuk keperluan ulang tahun, lamaran, pernikahan, wisuda, dan lain-lain.
Pemesanan dapat dilakukan secara online dan offline.

Contac Person: 085362222630, Alamat: Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Rumah Kebaya Aika
Load More Related Articles
Load More By admin
  • Ilustrasi, Ara dan Kota Kenangan

    Ara dan Kota Kenangan

    Asmarainjogja.id-Matahari kian ganas menunjukkan panasnya, seakan-akan berada di atas kepa…
  • Di mana Menukar Harga Diri?

    Foto ilustrasi | Photo by Valeria Ushakova from Pexels Asmarainjogja.id-Mat…
  • Gadis Kepompong Hitam

    Ilustrasi Gadis Kepompong | Istockfoto Oleh: Re Tiapian Asmarainjogja.id — “Hu…
Load More In Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Sebelum Berangkat, Ini 10 Tips Bertualang ke Curug Lawe

Asmarainjogja.id-Pesona Curug Lawe yang berada di Lereng Gunung Ungaran memang tak diraguk…