Home Uncategorized Opini Menjadi Seorang Kapitalisme Itu Mudah, yang Sulit Jadi Sosialisme

Menjadi Seorang Kapitalisme Itu Mudah, yang Sulit Jadi Sosialisme

10 min read
0
0
209
Ilustrasi buruh | Foto Pixabay from Pexels.com

Asmarainjogja.id-Jika kamu ingin menjadi orang yang super kaya, caranya mudah. Kuasai alat produksi maka kamu akan menjadi orang kaya yang sama sekali tidak perlu capek-capek bekerja. Selain memiliki alat produksi, juga menciptakan sistem yang memproses produk bisa sampai ke tangan konsumen. Nah, cukup dua itu saja diterapkan kamu akan menjadi seorang pengusaha kaya raya.

Persoalannya adalah untuk menerapkan itu semua kamu harus menggunakan orang lain. Perusahaan butuh buruh untuk menerapkan sistem yang dibuat tersebut. Secanggih apapun dunia ini, tidak akan terlepas dari tangan manusia itu sendiri.

Maka timbul pertanyaannya, jika semua orang berlomba ingin memiliki alat produksi, berarti selamanya itu ada buruh yang dikorbankan. Peluang terbesar menjadi orang kaya dimiliki orang-orang yang punya modal lebih. Nah, kalau cuma punya uang yang cukup makan sehari, lebih baik urungkan niat. Bukan membatasi impian, tapi mengajak berpikir rasional saja.

Kenapa ada buruh yang dikorbankan? Karena tanpa buruh, sistem tidak berjalan. Sistem tidak berjalan, sama dengan operasi perusahaan berhenti. Jika perusahaan berhenti, maka si pemilik modal tidak akan mendapat pemasukan (baca: keuntungan). Nah, kalau tidak ada pemasukan lagi, dia bisa bangkrut.

Jadi ujung tombak si pemodal atau pengusaha itu pada buruhnya. Buruh itulah yang mengorbankan tenaga, waktu, pikiran, dan segala yang dimilikinya untuk bekerja di bawah kendali sistem perusahaan. Apakah itu hal yang wajar saja? Tergantung dari sudut pandang mana yang mau dipakai.

Baca juga:

“Menjahit Mulut” Jurnalis Farid Gaban

#BoikotTVRI dan Revolusi Tayangan, Dirut TVRI Iman Brotoseno Bisa Apa?

Kenapa tidak kita balik saja, alat produksi dimiliki bersama, pekerjaan sama-sama dilakukan sesuai kapasitasnya, bekerja secara kolektif istilahnya. Tidak dimiliki secara tunggal saja, atau hanya dimiliki oleh orang-orang yang bermodal saja, tapi seluruh orang-orang yang tergabung juga turut memilikinya. Nah, kalau seperti itu bagaimana? Apa mungkin bisa?

Kepemilikan alat produksi secara bersama-sama itu sederhanya diterapkan oleh orang-orang yang menyakini sosialisme. Kalau negara yang menerapkannya bisa dilihat pada Kuba, negara yang berhasil direvolusi oleh Che Guevara, Fidel Castro, dan kamerad lainnya. Itu hanya contoh saja, jangan terlalu dipikirkan!

Kesulitan kita untuk saling berbagi yang dimiliki adalah karena sifat kerasukan dan ketamakan yang ada pada diri sendiri. Jadi apa yang dimiliki seolah-olah karena kerja keras kita sendiri, padahal tidak, ada buruh jadi korban secara tidak langsung mengumpulkan kekayaan itu.

Karena itulah ada istilah yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Lha, memang ada sistem yang mengatur begitu, jadi bagi yang sudah sadar, tidak akan bingung lagi. Nah, yang paham dan bingung tadi sayangnya hanya pasrah pada keadaan, tidak punya keinginan untuk perubahan sosialnya.

Memang sangat sulit untuk menerapkan sosialisme pada lingkungan kita. Artinya jika kita punya modal, sanggupkah menciptakan alat produksi, lalu mengumpulkan orang-orang untuk mengolah produk, atau produk itu dijual lagi atau dikonsumsi sendiri? Jadi modal itu tidak lagi kita miliki secara pribadi, tapi orang lain juga memilikinya. Hak dan kewajibannya juga sama. Padahal kita yang punya modal, kenapa orang lain menjadi pemilik modal itu juga? Nah, itulah sosialisme, modal dan alat produksi dimiliki bersama.

Jadi kamerad-kamerad yang mendaku revolusioner sebaiknya juga bisa memberikan contoh pada yang lain. Bukan hanya sekadar teori, dan mencontohkan negara ini-negara itu, dan memburuk-burukkan negara kapitalis Amerika Serikat, walaupun memang bangsat, hahaha. Dengan begitu masyarakat awam yang tidak paham sosialisme juga mulai mempelajarinya. Minimal bisa dipraktikkan di lingkungan masyarakat, dengan begitu masyarakat tidak selalu ketergantungan dengan pihak lain.

Terlebih lagi kaum milenial yang kritis, tidak mudah didoktrin dengan mazhab, ideologi, atau paham-paham yang bertebaran di bumi ini. Generasi muda yang kritis itu butuh bukti nyata, dilihat langsung, dirasakannya, jika cocok, mereka sendiri akan menerapkannya. Bukan cuma menggorganisir yang dicekoki teori njilemet.

Itulah tantangannya dan sulitnya bagaimana kita ingin hidup sejahtera bersama. Harus ada pengorbanan besar yang dikorbankan, kalau cuma modal lidah alias bercuap-cuap, seperti angin kentut yang bau kemudian lenyap, ya, begitu saja. Utopis kata orang-orang yang alergi sosialisme.

Baca juga:

Rakyat Miskin “Bodoh” yang Saling Membodohkan dan Menyalahkan

Fakta Tante Ernie (Tante Pemersatu Bangsa) Memang Hot Jadi Berita

Terlebih lagi, apa-apa yang berbau sosialis langsung dicap komunis. Padahal tidak juga. Kritis sedikit kepada pemerintah dan ustadz, dituduh komunis, tidak bertuhan dan tidak beragama. Soialisme hanya soal ekonomi, tidak lebih dan tidak kurang. Nah, ekonomi itu mau diterapkan seperti apa? Kepemilikan tunggal atau bersama? Kalau kepemilikan tunggal atau kelompok (golongan mereka saja) dan mengorban buruh demi akumulasi modal, ekspansi perusahaan, dan eksploitasi, seperti itulah kapitalisme bekerja.

Jadi sebenarnya mudah saja menjadi seorang kapitalis, yang sulit itu menjadi seorang sosialis. Menjadi seorang kapitalis tidak butuh pemikiran dan kesepakatan dengan orang lain. Punya modal, kuasai alat produksi, cari buruh dengan upah murah, dan jalankan perusahaan tersebut.

Sebaliknya sulitnya menjadi seorang sosialis, sosialis yang kere pula itu. Rokok masih ketengan, kalau pun beli sebungkus, harus kolektif dulu. Makan tidak makan yang penting diskusi, asal ada kopi dan mulut berasap, itu cukup. Meskipun tahun-tahun yang akan datang kena tipus. Kurang makan, kebanyakan minum kopi. Jarang olahraga, malah sering begadang.

Taktik dan strateginya itu-itu saja, sudah terbaca pihak-pihak yang benci. Bahkan bisa dibilang tidak efektif.

Lebih suka nyinyir dari pada produktif. Sedangkan orang-orang kapitalis setiap hari, bahkan setiap waktu terus berimajinasi, berinovasi, meneropong masa depan. Tidak heran, orang-orang kapitalis selalu punya kejutan-kejutan pada dunia. Mereka mampu bertahan pada setiap zaman. Meskipun Bapak Sosialis pernah bilang, kapitalis itu akan hancur dengan sendiri.

Mungkin benar, mungkin juga tidak. Yang pasti seberapa mampu menciptakan ekonomi sosialis? Itu yang penting. [Asmara Dewo]

Baca berikutnya: Makar Itu Pakai Militer, Bukan Pakai Dosen dan Mahasiswa

Cari tahu tentang rapid tes di sini: Yuk Kenali Apa Itu Rapid Test, Biaya, dan Lokasinya

iklan gratis
Iklan gratis
Review obat jerawat
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Membudayakan Menulis demi Perubahan Pendidikan Indonesia

Asmarainjogja.id-Menulis salah satu modal menggapai impian. Begitu yang sering kita dengar…