Home Uncategorized Opini Novel Baswedan, Singa KPK yang Kembali Memburu

Novel Baswedan, Singa KPK yang Kembali Memburu

10 min read
0
0
1,057
Novel Baswedan, Penyidik Senior KPK | Foto Antara

Asmarainjogja.id-Bukan rahasia umum lagi bahwa upaya-upaya pelemahan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sejak santernya Cicak VS Buaya Jilid I. Prestasi KPK dalam  meringkus koruptor yang makan uang rakyat itu ternyata menjadi musuh bersama bagi mereka yang dirugikan. Tak heran pula, berbagai strategi licik diterapkan untuk melumpuhkan KPK.

Mulai dari para petinggi KPK yang dikriminalisasi, sampai “Komandan Tempur” lapangan yang disiram air keras. Bahkan sampai saat ini pelakunya belum juga tertangkap. Novel Baswedan, salah satu orang-orang di KPK yang kerap mendapat teror ancaman, bahkan berulang kali ingin dicelakai.

Mohon maaf, dengan mata yang tidak sempurna lagi karena disiram air keras oleh suruhan para bangsat mafia di negeri ini, Novel tetap menunaikan janji tugasnya, memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Meskipun pada masa posisi sulit itu cukup banyak politikus yang mencibir, menjatuhkan mental, dan segala cara agar Novel tidak bisa aktif lagi di KPK. Tapi singa tetaplah singa. Ya, Novel adalah salah satu “singa” KPK yang selalu buas terhadap pelaku KKN di negeri kita.

Cukup mengejutkan banyak pihak, ternyata Novel yang memimpin penangkapan mantan Sektretaris Mahkamah Agung Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono. Sebagaimana yang disampaikan oleh mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW).

“Bravo. Binggo. Siapa nyana (sangka). Novel Baswedan pimpin sendiri operasi dan berhasil bekuk buronan KPK, Nurhadi mantan Sekjen MA di Simpruk yang sudah lebih dari 100 hari DPO. Kendati matanya dirampok Penjahat yang ‘dilindungi’ tapi mata batin, integritas, dan keteguhannya tetap memukau. Ini baru keren,” tulis BW pada akun Twitternya, Selasa, 2 Juni 2020.

Baca juga:

#BoikotTVRI dan Revolusi Tayangan, Dirut TVRI Iman Brotoseno Bisa Apa?

Masyarakat Adat Suku Sakai “Tak Diakui Keberadaannya” di Pengadilan Negeri Bengkalis

Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron juga menerangkan keterlibatan Novel pada operasi penangkapan tersebut. “Mas Novel (Novel Baswedan) ada dalam tim tersebut. Apakah dia kasatgasnya atau tidak, saya belum dapat laporan,” kata Ghufron, seperti yang ditulis Detik.com, Selasa, 2 Juni 2020.

Mengutip dari laman Tempo.co, KPK telah menetapkan Nurhadi dan Rezky sebagai tersangka kasus suap dan gratifikasi senilai Rp 46 miliar plus sembilan lembar cek. Suap diberikan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal, Hiendra Soenjoto, agar Nurhadi mengatur sejumlah perkara di MA pada 2016. Hiendra Soenjoto saat ini masih buron.

Masih dari Tempo.co, kasus Nurhadi ini merupakan pengembangan dari operasi tangkap tangan atas bekas pegawai PT Artha Pratama Anugerah, Doddy Ariyanto Supeno, yang menyuap mantan panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution, pada April 2018. Kasus itu melibatkan pejabat pengadilan, swasta, dan korporasi besar.

Dari situlah KPK mengendus sepak terjang Nurhadi, yang dua pekan sebelumnya diduga menerima suap dari Doddy. Suap diberikan agar Nurhadi mengatur permohonan peninjauan kembali PT Across Asia Limited, anak usaha Lippo Group. Nurhadi juga diduga menerima suap pada 2010 dalam kasus perdata yang melibatkan PT Multicon Indrajaya Terminal melawan PT Kawasan Berikat Nusantara.

Baca juga:

Menjadi Seorang Kapitalisme Itu Mudah, yang Sulit Jadi Sosialisme

“Menjahit Mulut” Jurnalis Farid Gaban

Penangkapan Nurhadi dalam perkara mafia hukum ini juga sebagi bukti bahwa KPK masih punya taring untuk melahap satu persatu mangsanya. Meskipun harus kita akui bersama, KPK dihajar babak belur dari berbagai lembaga lainnya. Tapi KPK memang kumpulannya para singa yang terus mengaum, memburu, dan mengoyak habis mangsanya. Salut!

Negara tanpa keadilan ibarat rumah tanpa penghuni. Siapa saja bisa merusak, mencuri, bahkan sampai membakarnya. Negara juga begitu, tidak mungkin kita berharap keadilan tanpa menyingkirkan para mafia hukum. Karena mafia inilah biangnya ketidakadilan yang terjadi pada bangsa kita. Tidak heran kita selalu mendengar hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Mereka yang berduit, khususnya para pengusaha bisa kong kalikong dengan penegak hukum. Akhirnya kasusnya bisa diselesaikan dari belakang, dan di depan publik dibuat rekayasa hukum. Sebenarnya publik sadar selama ini mereka dikibuli oleh para mafia hukum, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Apesnya kaum yang kritis terhadap kebijakan hukum seperti itu juga jadi sasaran teror dan intimidasi.

Generasi Milenial adalah Singa Selanjutnya

Novel Baswedan adalah salah satu putra bangsa yang komitmen memberantas KKN di negeri ini. Hal itu tak perlu kita ragukan lagi. Sangat langka tipikal Novel yang memilih jalan hidupnya di KPK. Padahal kalau dia mau bisa saja mencari titik aman, terima gaji besar, pura-pura bekerja. Atau jadi anggota DPR yang kerjanya cuap-cuap tidak jelas, dan gajinya selangit. Saatnya kerja malah mengesahkan undang-undang yang merugikan rakyat, dan menguntungkan pengusaha, atau kelompok-kelompok tertentu.

Novel tampaknya seperti Munir, pejuang HAM yang diracun di atas pesawat. Munir, pendiri KontraS itu juga bernyali baja. Meskipun pada akhirnya Munir meninggal pada saat menangani kasus HAM yang melibatkan para jendral. Novel juga berkali-kali ingin dicelakai, meskipun belum terlihat ada upaya pembunuhan secara serius. Dan semoga saja tidak. Kita mendukung dan mendoakan perjuangan Novel.

Kita dengan terpaksa harus mengatakan kejujuran yang pahit, setiap orang yang ingin membongkar konspirasi kejahatan taruhannya nyawa. Minimal, ya, psikologinya terganggu. Bagaimana tidak kalau diteror ancaman pembunuhan setiap hari? Mental lemah akan mengalami trauma jika mendapatkan ancaman seperti itu.

Jadi generasi milenial penerus bangsa ini, untuk menyelesaikan segala persoalan NKRI, nyali salah satu hal yang utama dimiliki. Karena nyali itulah yang membimbing dan tetap berjalan di garis perjuangan. Sekali saja nyali terlepas pada diri kita, saat itu juga perjuangan akan terhenti. Lihatlah Novel, nyali singanya tak pernah padam. Terus memburu, tak perduli di rimbanya kejahatan ia akan dikeroyok oleh para mafia. [Asmara Dewo]

Baca selanjutnya: Makar Itu Pakai Militer, Bukan Pakai Dosen dan Mahasiswa

Cari tahu tentang rapid tes di sini: Yuk Kenali Apa Itu Rapid Test, Biaya, dan Lokasinya

iklan gratis
Iklan gratis
Review obat jerawat
  • Penyidik KPK Novel Baswedan

    Hukum Indonesia Mempermainkan Kasus Novel Baswedan?

    Penyidik Senior KPK, Novel Baswedan | Foto MI, Rommy Fujianto Asmarainjogja.id-Selasa subu…
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Sebelum Berangkat, Ini 10 Tips Bertualang ke Curug Lawe

Asmarainjogja.id-Pesona Curug Lawe yang berada di Lereng Gunung Ungaran memang tak diraguk…