Home Pendidikan Jangan Bersedih Tidak Wisuda, Bersedihlah karena Masih Banyak yang Tidak Kuliah

Jangan Bersedih Tidak Wisuda, Bersedihlah karena Masih Banyak yang Tidak Kuliah

9 min read
0
0
416
Ilustrasi wisuda | Photo by MD Duran on Unsplash

Asmarainjogja.id-Karena pandemi Covid-19 belum juga berakhir, kegiatan pun banyak yang tertunda. Di dunia pendidikan ada istilah wisuda, setelah mahasiswa menamatkan pendidikannya. Dan biasanya acara wisuda itu memang dinantikan bagi mahasiswa yang sangat letih setelah menggarap skiripsi. Seolah-olah wisuda itu seperti obat yang bisa membahagiakan mahasiswa tersebut.

Tak jarang pula, mahasiswa yang baru mendapat gelar kesarjanaan itu mendatangkan keluarganya dari kampung. Terkadang seorang anak juga tidak sadar, betapa sulitnya orangtua harus menyiapkan dana yang besar untuk menyaksikan anaknya diwisuda. Mungkin menjadi kebanggaan tersendiri saat tali toganya dipindahkan dari kiri ke kanan oleh sang rektor, dan memberikan ucapan selamat sembari menyerahkan ijazah.

Nah, jika acara yang dianggap “sakral” tersebut terlaksana, maka genaplah sudah masa pendidikannya. Oh, iya, tidak lupa foto bersama keluarga dan “pendamping wisuda”. wihhh… makin bahagialah si mahasiswa tersebut.

Lalu timbullah pertanyaan, jika tidak ikut wisuda memangnya kenapa? Jawabannya, ya, tidak apa-apa. Tapi entah kenapa kebanyakan mahasiswa menganggap acara wisuda itu seolah-olah seperti kewajiban. Padahal hukumnya mubah, boleh dilaksanakan, boleh juga tidak dilaksanakan. Ya, acaranya juga cuma dengarkan rektor ceramah doang. Tidak penting-penting amatlah. Serius!

Jadi kalau teman-teman menganggap wisuda itu seperti acara wajib, selayaknya kewajiban untuk mengkritisi dunia pendidikan. Maka buang jauh-jauh pikiran tersebut. Karena banyak “acara wajib” bagi mahasiswa atau setelah mendapatkan gelar sarjana yang harus dikerjakan.

Baca juga:

Menjadi Seorang Kapitalisme Itu Mudah, yang Sulit Jadi Sosialisme

Makar Itu Pakai Militer, Bukan Pakai Dosen dan Mahasiswa

Misalnya, apakah selama kuliah sudah pernah memberikan ilmu pengetahuan kepada anak bangsa lainnya? Mungkin kawan-kawan lain yang tidak seberuntung mengeyam pendidikan formal. Atau juga apakah selama kuliah sudah pernah bekerjasama dengan warga untuk kerja-kerja kerakyatan? Dan hasil kerja itu bisa menjadi perubahan di daerah tersebut. Jika belum pernah, atau belum sempat, ya, ngapain juga buru-buru tamat? Atau tidak perlu sama sekali ikuti acara tidak penting itu.

Betul, memang acara itu tidak penting. Menghabiskan uang saja, selain itu menguras tenaga, pikiran, dan waktu. Saya berani bilang, karena sudah melakukannya. Saya tidak ikut acara wisuda yang digelar di salah satu hotel di Yogyakarta. Toh, saya baik-baik saja. Bahagia, dan bangga tidak mengikuti kegiatan tidak penting tersebut.

Suatu ketika Wakil Rektor kampus saya bertanya, “Memangnya kenapa, sih, Mas, tidak mau ikut wisuda?”

Saya jawab apa adanya, “Bagi saya yang penting itu bagaimana selama ini saya menikmati masa belajar saat kuliah di sini.”

Meski begitu saya juga buat acara kecil-kecilan dengan teman, dan kebetulan ada orang yang cukup penting, sudah seperti keluarga sendiri datang dari Bogor. Kami buat acara makan bersama warga di Desa Jepitu, kebetulan memang di sekitaran Pantai Jungwok.

Saya memang sudah merencanakan acara itu jauh hari sebelum masa pendidikan berakhir.

Sederhana alasan saya kenapa buat acara seperti itu? Ya, karena sadar, saya dari keluarga miskin. Tidak bisa menghadirkan keluarga dari kampung sana, nun jauh di Sumatera Utara. Kan tidak mungkin juga menyuruh atau memaksa keluarga di sana hanya menyaksikan saya diwisuda? Terlebih lagi kalau sempat menjual harta benda yang ada hanya datang ke acara tidak penting itu.

Baca juga:

Sekolah Adalah Penjara yang Sesungguhnya

Apa Perlu Anggota Ormas Diberikan Pendidikan Ilmiah?

Selama saya kuliah selalu terngiang apa yang pernah ditulis Tan Malaka di buku Madilog, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”

Awalnya saya mendengar kalimat yang “menusuk” ulu hati itu dari salah satu Pimpinan Organisasi saya di kampus. Maka otak saya terus berpikir bagaimana bisa melebur dengan masyarakat yang dimaksud Tan Malaka. Dan akhirnya saya dan teman-teman berhasil melebur dengan warga Desa Jepitu. Kegiatan kami sederhana saja, budidaya lidah buaya, dan sampai saat ini masih berlangsung.

Sembari “bercanda” saya bilang ke teman, “Aku lebih senang kalau diwisuda oleh Mbah Soro daripada rektor kampus kita.”

Sayangnya waktu itu saya tidak punya baju dan topi toga. Kalau saya bawa mungkin benar terjadi, tali toga saya dipindahkan dari kiri ke kanan oleh Mbah Soro, yang sudah kami anggap Rektor Universitas Lidah Buaya Jepitu. Mau pinjam baju tidak mungkin, karena kawan-kawan yang lain juga untuk berfoto bersama keluarganya.

Nah, foto studio memakai toga juga “dipaksa” oleh seseorang. Kalau tidak “dipaksa” mungkin saya tidak pernah foto berbaju toga.

Alasannya, ya, itu tadi bagi saya semua itu tidak begitu penting di dunia pendidikan. Malah saya begitu lega karena apa yang saya cita-citakan di kampus mulai berhasil. Seperti kami membangun komunitas menulis. Harapan saya adalah melalui dunia tulis menulis menjadi pintu lain memasuki dunia ilmu pengetahuan. Apalagi bisa membantu teman-teman tidak seberuntung kami yang bisa mengakses pendidikan formal.

Lagi-lagi semua itu masih berlangsung dan berjuang. Karena harus diakui juga menanamkan kesadaran untuk menulis itu cukup sulit. Harus sabar melihat perkembangan satu per satu teman-teman yang tergabung di komunitas tersebut.

Apa yang ditulis ini bukan menyuruh teman-teman tidak wisuda, tapi kalau tidak ikut wisuda, ya, bagus. Seperti yang saya bilang, wisuda itu tidak penting. Jadi ngapain juga melakukan hal-hal yang tidak penting? Masih banyak yang harus dikerjakan, dan lebih penting dari acara dan tempat para ngoceh orang-orang “yang sok peduli” pendidikan itu. [Asmara Dewo]

Baca berikutnya: Bukan Kualitas Guru Rendah, tapi Sistem Pendidikan yang Salah

Cari tahu tentang rapid tes di sini: Yuk Kenali Apa Itu Rapid Test, Biaya, dan Lokasinya

iklan gratis
Iklan gratis
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Berbagi Pengalaman dari Tanaman Seribu Manfaat (Lidah Buaya)

Asmarainjogja.id-Tanaman lidah buaya (aloe vera) mungkin bagi sebagian orang masih mengang…