Home Uncategorized Opini Bergaul dan Komunikasi Lintas Kasta

Bergaul dan Komunikasi Lintas Kasta

13 min read
0
1
299
Ilustrasi berkomunikasi | Photo by fauxels from Pexels

Asmarainjogja.id-Tentu hidup kita tidak berwarna jika hanya bergaul dengan satu kelompok manusia saja. Kita tidak bisa menyelami pikiran orang lain sebelum mengobrol lepas dengannya. Untuk mengobrol lepas ini tentunya harus terjalin hubungan yang baik dulu, saling memercayai, dan nyaman. Nah, nyaman sangat penting. Seberapa lama pun berkomunikasi dengan seseorang tidak terasa jika sudah nyaman.

Komunikasi antar manusia satu dengan manusia lainnya bisa terbatas karena latar belakang yang berbeda. Misalnya orang Sumatera yang tinggal di Yogyakarta, komunikasi terkadang sulit dipahami mereka, dan tak jarang berujung salah paham. Kita tahu orang Sumatera kalau bicara “keras” seperti marah, sementara orang Yogyakarta bicara tenang, bahkan terkesan lembut. Padahal orang Sumatera (khususnya Medan) memang gaya bicaranya seperti itu, disuruh rem pun, tetap sulit.

Pada kasus seperti itu warga Yogyakarta yang agak sensitif bisa tersinggung, karena dianggap kurang sopan. Sementara orang Sumatera, ya, biasa saja, boleh jadi baginya sudah paling sopan saat berbicara. Selain itu kebiasaan yang suka memotong pembicaraan orang lain (padahal intrupsi), lagi-lagi di Yogyakarta dianggap tidak sopan. Maksud hati padahal minta penjelasan, agar tidak keliru.

Nah, inilah benang merahnya, budaya dan toleransi. Seberapa jauh orang Sumatera bisa memahami budaya Jawa, dalam hal ini Yogyakarta. Pun begitu sebaliknya, seberapa jauh orang Yogyakarta memahami orang luar. Dan bagaimana kedua orang dengan latar belakang berbeda bisa bertoleransi. Bisa saling menghargai budaya masing-masing.

Kabar baiknya, dalam persoalan tersebut orang-orang luar betah tinggal ataupun menetap di Yogyakarta.

Komunikasi antar Kasta

Mungkin ada yang menganggap judul tulisan atau sub judul ini kurang tepat, karena dianggap tidak ada kasta-kasta di Indonesia (sebenarnya ada di Bali, tapi tidak relevan lagi) sebagaimana masih terjadi di India. Baik, kalau dianggap begitu, ya, silahkan saling toleransi saja.

Selanjutnya bagaimana kalau ditulis komunikasi antar kelas? Sebagian orang lain mungkin tidak sepakat, karena agak kekirian, sosialis. Terlebih lagi tipe orang dengan mudahnya bilang, “Ganyang!” karena dalam pikirannya, orang-orang seperti itu tidak patut hidup di Indonesia. Sudah seperti Tuhan, yang berhak mencabut nyawa orang lain.

Mungkin ada ide lain untuk membedakan antara si kaya dan si miskin? Karena dua istilah itu yang “mungkin” bisa mewakili antar golongan si kaya dan si miskin.

Menulis tanpa refrensi seperti ini mungkin dianggap pembaca yang agak “keintelektualan” dianggap tidak objektif, apalagi tidak memasukkan data, maupun teori. Baik, tulisan ini hanya sekadar pengalaman, jadi wajar agak subjektif. Keobjektifannya dikembalikan lagi ke pembaca dan mencari literasi lain untuk mendalaminya.

Kalau diperhatikan di lingkungan kita yang berlatar belakang orang kaya atau punya ambisi seperti itu, ada kebiasaan selalu mengaitkan obrolan dengan istilah, “sukses”. Sukses bagi orang Sumatera pada umumnya diartikan banyak harta. Jadi seberapa pun tinggi ilmu pengetahuan seseorang ataupun seberapa “amal salehnya” bagi yang dianggap alim, tidak banyak harta belum bisa disebut orang sukses.

Kekayaan menjadi tolok ukur bagi orang Sumatera pada lingkungan sosialnya. Padahal di daerah lain tidak begitu juga, misalnya orang-orang di Yogyakarta, jarang sekali istilah-istilah sukses keluar dari mulut mereka. Ya, mungkin dalam filosofi hidup mereka hal-hal seperti itu tidak perlu dikejar sampai memaksa membanting tulang, berdarah-darah, ataupun menghalalkan segala cara.

Baca juga:

Apa Perlu Anggota Ormas Diberikan Pendidikan Ilmiah?

Bukan Kualitas Guru Rendah, tapi Sistem Pendidikan yang Salah

Mungkin bagi yang belum pernah mampir ke Yogyakarta agak kesulitan menerimanya.

Selain itu orang-orang yang tajir melintir cenderung berbicara tentang harta benda, sementara orang yang tidak punya (baca: miskin) hanya bisa menelan ludah. Tentunya punya kebiasaan-kebiasaan dalam kesehariannya yang jauh berbeda.

Penulis jadi ingat film Korea berjudul Parasite hasil rekomendasi dari teman. Pada film itu orang kaya merasa risih karena bau pakaian dari sopirnya. Dalam cerita itu memang si sopir miskin. Risihnya si orang kaya tidak ditunjukkan langsung ke sopir. Si kaya hanya menutup hidup dengan aura wajah yang jijik. Nah, si sopir tahu, dia melihat dari kaca spion.

Ternyata soal bau itu dibicarakan lagi pada keluarga kaya, suami-istri mengalami hal yang sama pada pembantunya. Bau yang tak sedap dari orang miskin. Ya, karena deterjennya saja sudah jauh berbeda. Dan sudah pasti si kaya punya parfum yang tidak hilang berhari-hari sebelum dicuci. Jadi wajar saja mencium aroma bau saja terusik.

Akhir film yang berujung tragis itu adalah si miskin membunuh bosnya sendiri (orang kaya). Tiba-tiba seperti muncul dendam di pikirannya sehingga ia menghunus sebilah pisau dan menusuk dada majikannya. Orang kaya pun tergeletak bersimbah darah. Mati di tangan orang miskin yang memberikannya pekerjaan.

Padahal si orang kaya tidak pernah menghina sopirnya, hanya bicara antar suami-istri saja. Namun si miskin tahu apa yang dibicarakan kedua majikannya. Dia tersinggung, menumpuk kebenciannya.

Kita bisa mengambil benang merah pada kasus itu adalah tersinggungnya si miskin terhadap orang kaya. Meskipun si kaya tidak menghinanya. Membicarakannya saja di belakang ternyata membuat si miskin kesal dan dendam. Bisa dibayangkan jika langsung  disampaikan majikannya pada si sopir miskin?

Boleh jadi film itu menggambarkan kecemburuan sosial di Korea.

Komunikasi yang Memahamkan

Suatu ketika Jean Marais, sahabat Minke, dalam novel Anak Semua Bangsa karangan Pramoedya Ananta Toer mengatakan, “Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi yang tidak terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka. Bahasa yang mereka tahu.”

Maksud Jean Marais pada Minke jelas agar Mingke yang gemar menulis menggunakan bahasa bangsanya sendiri. Agar orang-orang pribumi pada waktu itu bisa memahami apa yang ditulis Minke. Karena sebelumnya, Mingke selalu menulis di koran dengan Bahasa Belanda. Dan Minke memang seorang terpelajar, lingkungan sosialnya orang-orang Belanda dan orang-orang pribumi lain yang terpelajar. Sederhananya Minke dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.

Baca juga:

Sekolah Adalah Penjara yang Sesungguhnya

Menjadi Seorang Kapitalisme Itu Mudah, yang Sulit Jadi Sosialisme

Awalnya Minke tersinggung, karena menganggap dirinya direndahkan oleh sahabatnya yang jauh lebih tua itu. Karena masih “sombongnya” Minke, kesadaran kelas dia belum tumbuh. Padahal yang menasihati Minke adalah orang Belanda sendiri, mantan militer yang menyesal karena sudah turut membunuh orang-orang Aceh saat perang.

Kemudian hari Minke baru sadar, benar apa yang disampaikan Jean Marais, akhirnya Minke menulis dengan Bahasa Melayu. Orang-orang pribumi pun membaca tulisan-tulisan Minke, dan sejak itu pula orang-orang Melayu mulai sadar karena tulisan-tulisan kritik Minke pada Kolonial Belanda.

Menulis tidak jauh berbeda dengan berbicara. Karena menulis sarana komunikasi. Setinggi apapun kejeniusan seseorang kalau komunikasinya tidak dipahami orang lain, maka tujuannya tidak akan berhasil. Karena setiap orang berbicara atau menulis punya tujuan yang ingin disampaikan.

Jadi berhasil atau gagalnya seseorang yang ingin menyampaikan sesuatu faktornya adalah komunikasi.

Nah, inilah catatan penting agar orang yang terbiasa dengan bahasa “berat” atau terlalu “tinggi” untuk menyederhanakan bahasanya. Terlebih lagi orang-orang yang berinteraksi langsung dengan kaum miskin yang mungkin latar belakanganya tidak sekolah. Tujuan komunikasi itu menjelaskan, bukan malah membingungkan. Maka pintar-pintarlah memakai bahasa yang pas, menggunakan istilah yang dipahaminya, dan mengobrollah tentang keseharian mereka.

Coba bayangkan jika kita mengobrol dengan kaum miskin yang tidak sekolah, kita membawa obrolan itu tentang ilmu pengetahuan, teori yang disampaikan profesor kita di kelas. Tentu kaum miskin jadi pendengar saja, dan hanya mencekokinya dengan segala ilmu pengetahuan kita. Padahal komunikasi yang baik adalah berdialektika. Bukan hanya berbicara saja, yang lain hanya jadi pendengar.

Tak jarang juga karena komunikasi kita yang model begitu dianggap sombong dengan orang yang tidak mengenyam pendidikan formal. Padahal bagi orang yang berlatar belakang sekolah, ya, biasa saja. Tapi, ya, begitu perbedaan latar belakang memang bisa menimbulkan masalah-masalah baru. Ingat juga film Parasite di atas yang sudah disinggung tadi.[Asmara Dewo]

Baca berikutnya: Jangan Bersedih Tidak Wisuda, Bersedihlah karena Masih Banyak yang Tidak Kuliah

Cari tahu tentang rapid tes di sini: Yuk Kenali Apa Itu Rapid Test, Biaya, dan Lokasinya

iklan gratis
Iklan gratis
Review produk jerawat
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Tepatkah Mereformasi Birokrasi di Tengah Pandemi Covid-19?

Asmarainjogja.id-Mengutip dari laman Unila.ac.id birokrasi pada dasarnya merupakan suatu k…