Home Uncategorized Opini Menilai Curhat Covid-19 yang Disebut Ajang Bisnis oleh Pemilik Akun Ini!

Menilai Curhat Covid-19 yang Disebut Ajang Bisnis oleh Pemilik Akun Ini!

10 min read
0
0
607
Ilustrasi menulis tentang Covid-19 | Photo by August de Richelieu from Pexels

Asmarainjogja.id-Sebenarnya sudah sama-samat tahu, masa pandemi Covid-19 ini membuat buruk ekonomi kita. Meskipun juga ada yang malah semakin beruntung karena bisa memanfaatkan situasi seperti ini. Tapi pada orang-orang tertentu saja, profesi atau pengusaha. Nah, kalau rakyat kecil yang berharap pada gaji dari perusahaan, biasanya korban pertama dalam hal kesulitan ekonomi.

Kehidupan sulit, khususnya karena tercekik uang memang membuat seseorang bisa memicu emosinya. Apalagi yang memang berdarah tempramental, terpicu sedikit saja karena persoalan sepele, marahnya bisa meledak-ledak. Nah, marahnya ini yang berbahaya bisa berujung ke ranah hukum.

“Kita harus menghadapi stres yang semakin akut. Karena situasi tak menentu ini. Beberapa orang akan mencoba mengontrol semuanya, namun kita juga harus menghadapi kenyataan bahwa tidak semua hal bisa kita kontrol dalam situasi sekarang ini,” ujar Adam Benson, psikolog yang berpraktik selama 20 tahun di New York, sebagaimana yang dikutip dari Bbc.com (24/4/2020).

Menurut Cary Cooper, profesor Psikologi Organisasional di University of Manchester, “Secara psikologis orang akan menyalahkan pandemi ketimbang menyalahkan diri sendiri,” katanya, masih pada kutipan Bbc.com

Hal itu juga disampaikan oleh psikolog politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk. Dia menuturkan pandemi yang terjadi akan mengubah sosial dan ekonomi masyarakat. Kondisi yang terjadi tersebut serta-merta memengaruhi psikologi masyarakat karena mereka menjadi galau, gundah, ketakutan, stres, bahkan ada yang depresi dan paranoid juga.

“Tapi juga sebaliknya, walaupun Anda kecukupan secara ekonomi, kalau batin Anda ada rasa gelisah, Anda ketakutan, Anda menjadi stres, Anda menjadi depresi, kondisi psikologis, kondisi tubuh memburuk dan nanti ujung-ujungnya dirawat, ekonomi terpengaruh juga,” kata Hamdi, seperti yang dinukil dari Sindonews.com (11/5/2020).

Baca juga:

Apa Perlu Anggota Ormas Diberikan Pendidikan Ilmiah?

Novel Baswedan, Singa KPK yang Kembali Memburu

Menjadi Seorang Kapitalisme Itu Mudah, yang Sulit Jadi Sosialisme

“Jadi memang kondisi pandemi ini mendisrupsi besar-besaran aspek psikologis kita. Mungkin kalau kita bicara psikologi sekarang bahwa kondisi ini dianggap sebuah ancaman yang mudah menggerogoti kesehatan psikologis kita. Kalau secara akdemisnya sebagai pshycological well being,” tambah Hamdi.

Dipolisikan karena Sebut Covid-19 Ajang Bisnis

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jember melaporkan akun Facebook atas nama M Iqbal ke Polisi karena dinilai menyebarkan fitnah dan ujaran kebencian.

“Kami melaporkan akun FB M Iqbal yang mem-posting fitnah dan ujaran kebencian dengan menuliskan bahwa wabah Corona merupakan lahan bisnis dokter. Bahkan dalam posting-an itu, tulisan dokter diikuti sebutan jenis binatang,” kata Ketua IDI Jember dr Alfi Yudisianto kepada detikcom, Minggu (7/6/2020).

“Kami selaku dokter yang berjuang dalam rangka menangani pasien corona merasa difitnah. Apalagi ada sebutan jenis binatang. Tentu ini sangat mencederai profesi kami,” kata Alfi.

Baca juga:

Makar Itu Pakai Militer, Bukan Pakai Dosen dan Mahasiswa

“Menjahit Mulut” Jurnalis Farid Gaban

#BoikotTVRI dan Revolusi Tayangan, Dirut TVRI Iman Brotoseno Bisa Apa?

Nah, inilah postingan pemilik akun M Iqbal yang dinilainya rapid test itu ajang bisnis.

“Kenapa sekarang covid19 di jasikan bisnis sama dokter2 an**ng itu lur. Kemarin aq hbis buwat tes rapid di RS bina sehat hbis 650 lur. Pdahal bagi sya uang segitu sdah sngat besar lur. Klo gak krena pengen merantau gak bakalan sya buat tes2 gituan… Biat tes rapid 650 ongkos travel ke bali 350…. Belum kerja aja udah hbis 1 juta lur…. Berarti selama 10 hari kerja kita ka,ajeghen lur. Buat ganti ongkos transport sma tes rapid….. Pemerintah sma dokter sama2 an**ng,” tulis akun M Iqbal yang dikirim ke grup Facebook Informasi Warga Jember (IWJ).

Hak Berpendapat Telah Diatur

Setiap warga negara berhak berpendapat ataupun mengkritik kinerja pemerintah. Karena memang diatur dalam undang-undang. Meski begitu harus tahu pula membedakan antara mengkritik dan menghina. Ini jauh berbeda, karena salah memahami bisa berujung pidana, mengingat begitu mudahnya kita menulis di akun media sosial.

Sebagaimana tertuang pada Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 yang menjelaskan: “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.”

Selanjutnya pada Pasal 44 Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang berbunyi: “Setiap orang berhak sendiri maupun bersama-sama berhak mengajukan pendapat, permohonan, pengaduan, dan atau usaha kepada pemerintah dalam rangka pelaksanaan pemerintah yang bersih, efektif, dan efisien, baik dengan lisan maupun dengan tulisan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Jadi jika kita merasa dirugikan oleh kebijakan pemerintah kritik saja secara langsung, bertatap muka. Bahkan sampai berdemonstrasi juga tidak masalah, kecuali masa pandemi ini. Nah, kalau suka mengkritik melalui tulisan juga meski hati-hati. Jangankan menghina, mengkritik karena mencatut nama seseorang atau badan hukum bisa berujung kena pasal karet UU ITE.

Memang saat profesi dihina membuat kita marah luar biasa, terlebih lagi profesi itu juga mempertaruhkan nyawa. Sebagaimana yang kita tahu kasus ini menyangkut profesi dokter. Namun akan lebih bijak lagi jika dibicarakan terlebih dahulu, bicara baik-baik, sebelum membawa kasus itu ke ranah hukum.

Mengingat sebagaiman kita rasakan bersama, pandemi ini benar-benar mengganggu psikologis kita. Boleh jadi pemilik akun M Iqbal pada saat menulis itu sedang “kacau”. Terhimpit perekonomian, sebagaimana yang diakuinya sendiri pada tulisan itu. Dan tak kalah penting gangguan psikologis itu juga dibenarkan oleh para pakar psikologi baik di Indonesia, maupun internasional.

Nah, terkait apa yang disampaikan si M Iqbal apakah rapid tes itu memang ajang bisnis, memang perlu diklarifikasi oleh pihak terkait? Agar masyarakat miskin yang sudah terjepit ekonominya tidak menaruh curiga. Karena boleh jadi bukan M Iqbal saja yang mengalaminya, bisa saja warga lain. Hanya saja belum viral seperti ini.  [Asmara Dewo]

Baca berikutnya:

Antara Budiman Sudjatmiko dan Ketua BEM yang Dituduh Makar

Bergaul dan Komunikasi Lintas Kasta

Cari tahu tentang rapid tes di sini: Yuk Kenali Apa Itu Rapid Test, Biaya, dan Lokasinya

iklan gratis
Iklan gratis
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Penganiayaan terhadap Steven Menambah Kasus Rasisme Warga Papua oleh Aparat Keamanan

Asmarainjogja.id-Penganiayaan yang dilakukan oleh dua anggota Polisi Militer Angkatan Udar…