Home Uncategorized Opini Sabda Raja Yogyakarta, Covid-19, dan Reisha Broto Asmoro

Sabda Raja Yogyakarta, Covid-19, dan Reisha Broto Asmoro

13 min read
0
0
319
Ilustrasi pencegahan Covid-19 | Photo by cottonbro from Pexels

Asmarainjogja.id-Warga Yogyakarta bisa dibilang cukup patuh terhadap kebijakan pemerintah pusat. Meski begitu karena lamanya “dikurung” mulai akhir Maret lalu membuat warga Yogyakarta berinisiatif keluar rumah. Hal itu terbukti sempat viral berita ribuan warga Yogyakarta, baik yang cuma mengumpul atau bersepeda menyemut mulai dari tugu sampai ke Titik Nol pada Minggu 7 Juni 2020 .

Sultan Hamengku Buwono X, selaku Gubernur DIY pun sampai memberikan peringatan yang “cukup keras” terhadap warganya. “Saya minta kesadaran mereka di Malioboro dan di manapun berada. Kalau Minggu depan ada yang kumpul-kumpul tanpa mematuhi protokol pencegahan Covid-19, akan saya bubarkan karena resiko terlalu besar. Jangan sampai saya close Malioboro atau titik-titik lain yang rawan pengunjung kalau tidak patuh aturan,” kata Sultan pasca Rapat Paripurna di DPRD DIY.

Sekali lagi kita baca, “Akan saya bubarkan”. Gubernur DIY tidak seperti gubernur-gubernur lainnya di daerah Indonesia, seperti Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Jateng, Gubernur Jatim, Gubernur Sumut, Gubernur Sumbar, dan gubernur lainnya. Hal ini bukan tanpa sebab, karena Gubernur DIY juga sebagai raja bagi warga Yogyakarta. Kata-katanya adalah Sabda Raja. Warga mana pula yang berani menolak titah Sang Raja? Kalau tidak percaya, lihat Minggu depan! Apakah masih berani kumpul-kumpul atau bersepeda sampai ribuan di titik sentral Kota Yogyakarta.

Baca juga:

Bergaul dan Komunikasi Lintas Kasta

Apa Perlu Anggota Ormas Diberikan Pendidikan Ilmiah?

Novel Baswedan, Singa KPK yang Kembali Memburu

Sultan Hamengku Buwono X | Foto kredit Humas Pemda DIY

Saya menulis ini juga dari pengalaman menetap di Yogyakarta sejak 2015, dan ketepatan kuliah di kampus yang didirikan Sultan Hamengku Buwono IX dan Sultan Hamengku Buwono X, yang sekarang menjadi Gubernur DIY. Jadi selain mempelajari Kesultanan Yogyakarta, juga dari diskusi antar organisasi, dan keterangan-keterangan dari dosen kampus.

Ada cerita dari salah satu pentolan organisasi di Yogyakarta, saat itu warga membludak memenuhi halaman kantor Gubernur DIY. Karena ada beberapa tuntutan warga yang ingin disampaikan. Selain tuntutan, warga juga mengiringi dengan sorak sorai dan yel-yel. Ramai sekali yang jelas pada waktu itu. Namun ketika Sultan keluar di atas mobil komando, sembari menenangkan warganya yang menuntut, entah ada gerangan apa, pada detik itu juga warga yang mendemo duduk bersila mendengar Sultan. Padahal sebelumnya mereka berdiri dan teriak-teriak.

Ini hanya contoh kecil ketika Sultan sudah berhadapan langsung dengan warga Yogyakarta. Mungkin di belakang berani bisik-bisik atau apalah sejenisnya, namun ketika menatap wajah Sultan nyali warga langsung menciut. Tentu kita bertanya-tanya, ada apa?

Covid-19 Mulai “Diragukan” oleh Rakyat Indonesia

Munculnya teori konspirasi Covid-19 yang mulai diteriakkan oleh Young Lex, Deddy Corbuzier, dan Jerinx mendapat perhatian publik. Terlebih lagi Jerinx saat diwawancarai oleh Aiman dari Kompas TV. Melalui siaran televisi yang dianggap publik cukup objektif dan faktual, tentu saja kesempatan itu digunakan Jerinx sangat baik. Jerinx dengan yakin mengatakan bahwa Covid-19 adalah sebuah teori konspirasi elit global.

Jerinx juga menyebut nama Rockfeller dan Bill Gates. Penabuh drum Superman is Dead itu mengatakan mereka sudah lama mendiskusikan soal wabah yang terjadi sekarang. Pada event 201 mereka mensimulasikan bencana seperti ini, dan Jerinx juga mempersilahkan untuk mengecek semua platform informasi.

Awalnya Jerinx, Deddy, dan Young Lex diragukan netizen, termasuk saya yang tidak mudah percaya pada informasi. Karena kapasitas mereka membicarakan Covid-19 masih dipertanyakan. Namun seiring waktu teka-teki Covid-19 semakin menemukan titik terang.

Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah | Foto kredit TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Terlebih lagi ketika Deddy, mantan pesulap itu menembus Rutan Pondok Bambu menemui mantan Menteri Kesehatan Siti Fadillah untuk wawancara. Beberapa poin penting dari wawancara tersebut adalah Siti Fadillah pernah menolak vaksin yang ditawarkan WHO untuk Indonesia dan negara-negara lain. Dengan argumentasi data, fakta, dan teori yang disampaikan Siti menolak vaksin WHO, dan akhirnya vaksin flu burung yang direkomendasikan gagal ke seluruh negara yang tergabung di WHO.

Siti Fadillah juga mengatakan, “Lebih baik jadi singa sehari, daripada jadi kambing seumur hidup,” quote bijak itu kemudian viral ke berbagai media sosial, terlebih lagi di akun IG Jerinx SID, yang diamini pengikutnya dan terus didistribusikan.

Sama halnya dengan Bill Gates sekarang, yang terus-terusan menawarkan vaksin Covid-19 ke seluruh dunia.

Bahkan ada kejadian menarik di akun facebook atas nama M Iqbal yang dilaporkan ke polisi karena menilai Covid-19 adalah ajang bisnis.

“Kenapa sekarang covid19 di jasikan bisnis sama dokter2 an**ng itu lur. Kemarin aq hbis buwat tes rapid di RS bina sehat hbis 650 lur. Pdahal bagi sya uang segitu sdah sngat besar lur. Klo gak krena pengen merantau gak bakalan sya buat tes2 gituan… Biat tes rapid 650 ongkos travel ke bali 350…. Belum kerja aja udah hbis 1 juta lur…. Berarti selama 10 hari kerja kita ka,ajeghen lur. Buat ganti ongkos transport sma tes rapid….. Pemerintah sma dokter sama2 an**ng,” tulis akun M Iqbal yang dikirim ke grup Facebook Informasi Warga Jember (IWJ).

Baca juga:

Makar Itu Pakai Militer, Bukan Pakai Dosen dan Mahasiswa

“Menjahit Mulut” Jurnalis Farid Gaban

Rakyat Miskin “Bodoh” yang Saling Membodohkan dan Menyalahkan

Bukan makiannya yang kita ulik, tapi soal Covid-19 yang dianggap M Iqbal sebagai ajang bisnis. Tentu menjadi tidak elok jika IDI Jember terlalu buru-buru melaporkan akun Facebook M Iqbal ke ranah hukum. Setidaknya bisa dibicarakan secara baik-baik terlebih dahulu, mengingat masa pandemi ini memang membuat psikologis seseorang terganggu. Hal itu memang bisa dibuktikan secara ilmiah.

“Jadi memang kondisi pandemi ini mendisrupsi besar-besaran aspek psikologis kita. Mungkin kalau kita bicara psikologi sekarang bahwa kondisi ini dianggap sebuah ancaman yang mudah menggerogoti kesehatan psikologis kita. Kalau secara akdemisnya sebagai pshycological well being,” kata psikolog politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk.

Kehadian Reisa Broto Asmoro di Tengah Hiruk-pikuk Covid-19

Dr. Reisha Broto Asmoro | Foto kredit Ayobandung.com

Reisha Broto Asmoro menjadi perbincangan publik karena ia masuk ke Tim Komunikasi Gugus Tugas Covid-19. Artinya dr. Reisha akan sering nongol di depan tv dan menjadi narasumber terkait perkembangan Covid-19 baik media online maupun offline. Apakah dia menggantikan Achmad Yurianto yang selama ini menyampaikan informasi Covid-19? Belum begitu pasti, namun yang jelas warganet tampaknya sangat antusias atas kehadiran dr. Reisha.

Sepertinya pemerintah cukup peka melihat perkembangan rakyat Indonesia yang bosan “dikurung” di rumah. Bahkan mulai berani berkegiatan di luar rumah tanpa prosedur yang telah ditetapkan. Semua itu dilakukan tentu karena persoalan perut. Sebagian rakyat yang lebih berani menanggung resiko menepis “bahaya corona”. Karena mereka pikir juga bisa mengakibatkan kematian jika perut tidak diisi. Terbukti beberapa warga meninggal karena kelaparan.

Dr. Reisha yang sudah berpengalaman dalam hal komunikasi dan bermodalkan paras cantik mungkin dianggap bisa mengedukasi rakyat yang dianggap “membandel”. Padahal belum tentu juga, karena ini bukan lagi masalah pengetahuan rakyat terkait Covid-19, tapi lebih fundamental, yakni soal perut. Tidak makan menyebabkan kelaparan. Kelaparan berhari-hari mengakibatkan sakit. Sakit bisa berujung kematian. Cuma sesederhana itu dampak dialami rakyat yang selama ini tak bisa beraktivitas normal.

Selain itu gempuran informasi alternatif selain pemerintah. Bukan hal yang sulit lagi di zaman digital untuk mencari informasi selain yang disuguhkan rezim saat ini. Maksudnya rakyat semakin kritis terhadap apa yang dialaminya karena dampak dari kebijakan pemerintah. Jadi tidak semua ditelan mentah-mentah oleh rakyat Indonesia apa yang selama ini disampaiakn oleh Achmad Yurianto.

Apalagi jika melihat ribuan rakyat Amerika Serikat yang berdemo di jalanan. Kita lihat apakah ada kematian massal di Amerika Serikat karena berinteraksinya satu warga ke warga lainnya saat berdemo tersebut? Jika tidak terjadi apa-apa, maka apa yang selama ini dibincangkan oleh para “pakar teori konspirasi” Jerinx, Deddy Corbuzier, dan Young Lex terbukti benar. [Asmara Dewo]

Baca berikutnya: Menilai Curhat Covid-19 yang Disebut Ajang Bisnis oleh Pemilik Akun Ini!

Cari tahu tentang rapid tes di sini: Yuk Kenali Apa Itu Rapid Test, Biaya, dan Lokasinya

iklan gratis
Iklan gratis
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Penganiayaan terhadap Steven Menambah Kasus Rasisme Warga Papua oleh Aparat Keamanan

Asmarainjogja.id-Penganiayaan yang dilakukan oleh dua anggota Polisi Militer Angkatan Udar…