Home Uncategorized Opini Hukum Indonesia Mempermainkan Kasus Novel Baswedan?

Hukum Indonesia Mempermainkan Kasus Novel Baswedan?

12 min read
2
0
380
Penyidik Senior KPK, Novel Baswedan | Foto MI, Rommy Fujianto

Asmarainjogja.id-Selasa subuh, 11 April 2017, penyidik senior KPK Novel Baswedan disiram air keras oleh dua orang tak dikenal. Akibat tindakan brutal itu Novel mengalami kerusakan mata sebelah kiri permanen. Publik menduga kuat penyerangan ke Novel berkaitan dengan profesinya yang memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Dua tahun berikutnya, di pengujung tahun 2019, Polri menangkap Ronny Bugis dan Rahmad Kadir Maulette yang diduga penyiram air keras Novel. Kedua pelaku merupakan anggota aktif Brimob. Kemudian 11 Juni 2020, Jaksa Penuntut Umum (JPU) memohon Majelis Hakim agar terdakwa divonis satu tahun penjara.

“Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Ronny Bugis dan Rahmat Kadir dengan hukuman pidana selama satu tahun,” kata Jaksa Fedrik Adhar membacakan surat tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, sebagaimana dikutip dari Jawapos.com.

Menurut Jaksa Ahmad Patoni karena Ronny dan Rahmad mengakui perbuatannya. Selain itu kedua terdakwa menyesali perbuatannya dan sudah meminta maaf kepada Novel dan keluarganya. Terakhir, para terdakwa tidak bermaksud melukai Novel, hanya memberi pelajaran. Mereka hanya ingin menyiramkan air keras itu ke badan, tetapi mengenai mata novel (baca: tidak sengaja). Alasan perbuatan itu dilakukan karena Novel dianggap lupa pada Institusi Polri.

Hingga JPU menuntut para terdakwa dengan Pasal 353 KUHP tentang Penganiayaan.

Pasal 1 menjelaskan “Penganiayaan yang dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu dihukum penjara selama-lamanya empat tahun.”

Pasal 2 menjelaskan “Jika perbuatan itu menjadikan luka berat, si tersalah dihukum penjara selama-lamanya tujuh tahun.

Pasal 3 menjelaskan “Jika perbuatan itu menjadikan kematian orangnya dihukum penjara selama-lamanya sembilan tahun”.

Baca juga:

Sabda Raja Yogyakarta, Covid-19, dan Reisha Broto Asmoro

Menilai Curhat Covid-19 yang Disebut Ajang Bisnis oleh Pemilik Akun Ini!

Respon Novel Baswedan atas Tuntutan JPU

Novel pun tampaknya kesal atas tuntutan Jaksa. “Singa” KPK itu pun berkicau di Twitter yang dibanjiri dukungan para pengikutnya. Bahkan dia menyenggol Presiden Jokowi agar serius menerapkan hukum di masa kepemimpinannya.

“Hari ini kita lihat apa yang saya katakan bahwa sidang serangan terhadap saya hanya formalitas. Membuktikan persepsi yang ingin dibentuk and pelaku dihukum ringan,” kata Novel di akun Twitternya @nazaqistsha, Kamis 11 Juni 2020.

“Keterlaluan memang. Sehari-hari bertugas memberantas mafia hukum dengan UU Tipikor, tetapi jadi korban praktek lucu begini, lebih rendah dari orang menghina. Pak @jokowi, selamat atas prestasi aparat Bapak. Mengagumkan,” kata Novel lagi.

“Melihat kebusukan semua yang mereka lakukan rasanya ingin katakan TERSERAH. Tapi yang mereka lakukan ini akan jadi beban diri mereka sendiri, karena semua akan dipertanggungjawabkan. Termasuk pak @jokowi yang membiarkan aparatnya berbuat seperti ini. Prestasi?” Novel terus mengungkapkan kekecewaannya.

“Pengertian SENGAJA adalah pelajaran dasar hukum pembuktian. Kalau penegak hukum nggak paham, barangkali ada mahasiswa hukum yang berkenan mengajari? Itulah pentingnya intelektualitas bergandengan dengan moral,” sindir Novel atas penegakan hukum di Indonesia.

Sebagaimana informasi yang dikutip dari Tirto.id, Novel Baswedan adalah lulusan Akademi Polisi pada 1999. Dia pensiun dini pada 2014. Beberapa kasus korupsi kepolisian yang diusut Novel ialah proyek simulator SIM pada 2012 lalu; lelang pengadaan simulator SIM, dan penetapan tersangka Komisaris Jendral Polisi Budi Gunawan 2015 lalu.

Baca juga:

Bergaul dan Komunikasi Lintas Kasta

Apa Perlu Anggota Ormas Diberikan Pendidikan Ilmiah?

Pandangan Tim Kuasa Hukum Novel Baswedan

Menukil dari laman Hukumonline.com, tim kuasa hukum Novel Baswedan yang terdiri dari Arif Maulana, perwakilan LBH, Saor Siagian, M. Isnur, Kurnia Ramadhan, dan penggiat anti korupsi lain, berpendapat para terdakwa seharusnya dikenakan tuduhan menghalangi penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan dalam Pasal 21 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001.

Alasannya apa yang dilakukan terdakwa menghalangi kinerja Novel yang berprofesi sebagai penyidik kasus korupsi, serta dari hasil temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPA) penyiaraman ini memang berkaitan dengan kasus besar yang disidik Novel.

“Padahal dakwaan JPU yang mengamini motif sakit hati (membenci Novel Baswedan karena dianggap telah mengkhiantai dan melawan institusi Kepolisian) yangg disampaikan terdakwa sangat terkait dengan apa yang dikerjakan Novel di KPK. Tidak mungkin sakit hati karena urusan pribadi, pasti karena Novel menyidik kasus korupsi termasuk di kepolisian. Terlebih lagi selama ini Novel tidak mengenal ataupun berhubungan dengan terdakwa, maupun dalam menyidik tindak pidan korupsi,” jelas Tim Kuasa Hukum Novel, 20 Maret 2020.

Tim Kuasa Hukum juga beranggapan para pelaku seharusnya dikenakan Pasal 340 KUHP yang berbunyi: “Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena pembunuhan direncanakan (moord), dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya dua puluh tahun.”

Karena Novel hampir kehilangan nyawa akibat cairan air keras masuk ke paru-paru.

Tim juga menyayangkan dalam dakwaan Jaksa tidak ada fakta atau informasi siapa yang menyuruh melakukan tindak pidana penyiraman air keras terhadap Novel. Hal ini pun bertentangan dengan temuan dari Tim Pencari Fakta bentukan Polri yang menyebut bahwa ada aktor intelektual di balik kasus Novel.

Selanjutnya dari laporan Tirto.id menuliskan, Saor Siagaan memandang JPU dianggap tidak serius terhadap mendalami kasus Novel. “Jaksa tidak menggali, apakah betul karena dendam. Tidak terungkap dendamnya tentang apa,” kata Saor, Kamis, 11 Juni 2020.

Bahkan Jaksa tidak menggali siapa aktor utama di belakangan pelaku penyerangan Novel. Saor juga menyesali para terdakwa yang dibela Tim Hukum Polri tidak pernah dikritisi Jaksa. Sehingga ia melihat persidangan hanya formalitas belaka. Karena penyerang Novel sudah tertangkap saja.

Baca juga:

Makar Itu Pakai Militer, Bukan Pakai Dosen dan Mahasiswa

“Menjahit Mulut” Jurnalis Farid Gaban

Novel Melawan Penguasa

Sangat sulit tidak mengaitkan kasus Novel terhadap penguasa dan Institusi Polri. Karena kita tahu Penyidik Senior KPK itu telah membongkar kasus KKN di institusi kepolisian. Bahkan sampai pada tahapan tersangka Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan. Dan ketepatan saat itu Budi memang dipromosikan sebagai Kapolri.

Budi ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan korupsi dan gratifikasi saat menjabat sebagai Kepala Biro Penerimaan Karier (Karobinkar) Debuti Sumber Daya Manusia Polri periode 2003-2006 dan jabatan lainnya di kepolisian.

Namun namanya kembali bersih setelah mengajukan prapradilan. Menyalin dari Kompas.com, Hakim tunggal Sarpin Rizaldi memutuskan penetapan tersangka Budi tidak sah. Salah satu dasarnya yaitu jabatan Budi sebagai Kepala Biro Pembinaan Karyawan Polri dianggap bukan merupakan penyelenggara negara sehingga KPK tidak berhak mengusut kasusnya

Pada 2016 mantan ajudan Megawati itu diangkat menjadi Ketua Badan Intelijen Negara (BIN) sampai sekarang. Kini Budi berada di sekitaran Istana Kepresidenan, membantu Jokowi di pemerintahannya.

Tugas berat Novel memberantas KKN di Indonesia memang penuh resiko, setidaknya dia sudah mengalami penyiraman air keras. Hampir terbunuh malah. Namun bukan rahasia umum lagi kejahatan mafia hukum di negeri ini tidak terlepas dari para penguasa di tubuh pemerintah.

Meski begitu semangat Novel mengemban tugasnya tak pernah pudar, terbukti awal Juni lalu dia memimpin penangkapan mantan Sekretaris Mahkamah Agung, Nurhadi, dalam kasus suap dan gratifikasi. Perkembangan kasus itu juga sudah melibatkan nama seperti BG. Belum begitu pasti siapa BG pada kasus Nurhadi tersebut. [Asmara Dewo]

Baca berikutnya: Novel Baswedan, Singa KPK yang Kembali Memburu

Cari tahu tentang rapid tes di sini: Yuk Kenali Apa Itu Rapid Test, Biaya, dan Lokasinya

iklan gratis
Iklan gratis
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

2 Comments

  1. […] Hukum Indonesia Mempermainkan Kasus Novel Baswedan? […]

    Reply

  2. […] Hukum Indonesia Mempermainkan Kasus Novel Baswedan? […]

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Sebelum Berangkat, Ini 10 Tips Bertualang ke Curug Lawe

Asmarainjogja.id-Pesona Curug Lawe yang berada di Lereng Gunung Ungaran memang tak diraguk…