Home Belajar Menulis Memahami Bagaimana Menulis untuk Advokasi Publik

Memahami Bagaimana Menulis untuk Advokasi Publik

10 min read
0
0
166
Saya dengan Sekretaris Umum HMPRY, Nenny Wuri Prabawati|Foto doc.Wuri

Asmarainjogja.id-Saya sering bilang ke teman-teman, lebih baik membuat satu tulisan utuh daripada nyinyir di media sosial. Hal ini bukan untuk menyombongkan diri karena saya memang sudah menekuni dunia kepenulisan sejak 2015 lalu. Tapi sebagai upaya apa yang ingin disampaikan ke teman-teman itu lebih efektif.

Nyinyir biasanya muncul secara spontanitas karena reaksi kita terhadap sesuatu. Kata nyinyir ini pula semakin akrab di telinga kita karena respon netizen terhadap persoalan-persoalan di media sosial ataupun di media online, juga sebagai reaksi atas sikap-sikap publik figur yang dianggap kurang elok.

Apakah nyinyir baik? Ya, baik, itu berarti nalar dan daya kritis berpikirnya masih efektif. Hanya saja kenapa tidak kita cicil saja budaya nyinyir dengan budaya menulis? Sebagian teman saya menganggap menulis itu sulit. Mungkin karena alasan itu pula mereka lebih memilih nyinyir daripada menulis. Padahal menulis itu mudah, semudah kita berbicara atau bergosip. Serius! Ini tidak bohong.

Kenapa kita bisa berbicara panjang lebar, beretorika hebat, dan tahan berlama-lama bergosip, tapi kesulitan menulis? Bahkan langsung menghakimi diri sendiri, “Saya tidak bisa menulis”, lha, kalau sudah mendoktrin diri sendiri begitu, ya, hasilnya juga begitu. Kenapa tidak dibalik saja, “Baik, saya coba menulis.”. Secara tidak sadar alam bawah sadar memicu kita untuk belajar menulis. Dan kita tahu menulis itu seperti skil lainnya, semakin sering dilakukan berulang-ulang hasilnya akan semakin bagus.

Novelis Tereliye pernah bilang, kira-kira begini, “Menulis itu seperti memasak. Ibu kita memasak tidak perlu lagi mengukur atau menghitung bumbu-bumbu yang dia masak. Dia hanya menjumput bahan-bahan masakan dengan tangannya sesuai takaran kebiasaannya memasak. Hasilnya? Masakannya enak. Menulis juga begitu, semakin sering menulis, karya yang dihasilkan pun semakin bagus.”

Dengan menulis argumentasi apa yang ingin disampaikan lebih bisa diterima. Karena tentu saja argumentasi itu berdasarkan data, fakta, teori, pengalaman, dan pendapat-pendapat para ahli pada tema tulisan yang digarap. Jauh sekali jika dibandingkan dengan hanya nyinyir delapan sampai 20 kata, tidak begitu jelas apa yang disampaikan. Alih-alih mau memberikan pencerahan, yang ada malah bisa terjerat Pasal 27 UU No.19 Tahun 2016 atas perubahan UU No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transformasi Elektronik.

Baca juga:

Hukum Indonesia Mempermainkan Kasus Novel Baswedan?

Novel Baswedan, Singa KPK yang Kembali Memburu

Menulis untuk Mereka yang Ditindas

Setiap penulis punya motivasi yang kuat kenapa dia menulis. Sama halnya dengan seseorang yang beragama, kenapa dia rajin sekali mengamalkan perintah agamanya. Itulah sebabnya penulis idealis tidak akan pernah gentar menghadapi permasalahan yang timbul akibat dari tulisannya. Kan, tidak lucu melarang seorang Muslim untuk sholat. Begitu juga melarang penulis untuk menyampaikan pendapatnya.

Dan kita tahu bahwasanya setiap orang punya hak untuk menulis sebagaimana memang dilindungi pada Pasal 28 UUD 1945, “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya sebagaimana ditetapkan dalam undang-undang.”

Jadi kita punya dasar hak yang kuat kenapa kita menulis. Terlebih lagi menulis tentang pengadvokasian publik. Hal ini juga sesuai dengan Pasal 44 UU No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, “Setiap orang berhak sendiri maupun bersama-sama berhak mengajukan pendapat, permohonan, pengaduan, dan atau usaha kepada pemerintah dalam rangka pelaksanaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan efisien, baik dengan lisan maupun dengan tulisan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Terkadang pemerintah, mereka para eksekutif, legislatif, dan yudikatif, saat menghasilkan kebijakan, regulasi, penegakan hukum, tidak sesuai dengan hati nurani rakyat. Sebagai contoh pada musim kesulitan di tengah pandemi, pemerintah belum juga menurunkan BBM, padahal negara lain harga BBM turun sesuai dengan harga minyak dunia. Melonjaknya tarif listrik, naiknya iuran PBJS, dan lain-lain yang menyulitkan rakyat, khususnya rakyat kecil, yang hidupnya pas-pasan.

Legislatif mengesahkan UU Minerba, yang jika ditelisik lebih dalam hanya menguntungkan para pengusaha tambang. UU Cipta Kerja (Omnibus Law) juga begitu, merugikan pekerja (rakyat kecil) semakin sulit hidup di negeri ini.

Yudikatif tak mau kalah, menegakkan hukum hanya bernyali pada rakyat kecil. Beberapa pekan lalu, publik dibuat geram oleh Pengadilan Negeri Bengkalis yang menghukum masyarakat adat Suku Sakai, Pak Bongku. Petani miskin itu divonis penjara setahun dan denda dua ratus juta rupiah karena ingin menanam ubi yang menurut Pak Bongku berada di tanah ulayatnya. Meskipun pada Jumat lalu Pak Bongku akhirnya bebas karena asimilasi.

Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan yang menyebabkan kerusakan mata permanen. Dua pelaku penyerang Novel hanya dituntut satu tahun penjara oleh JPU dengan alasan pelaku tidak sengaja melakukan penyiraman air keras tersebut. Tentu saja hal itu mengusik nurani keadilan kita semua.

Jika semua kita tulis “dosa-dosa mereka” tentu tidak akan ada habisnya. Namun yang jelas, saya ingin menyampaikan bahwa, “Apakah kita hanya berdiam diri melihat keadaan bangsa seperti ini?” “Apakah tidak ada impian untuk perubahan yang lebih baik lagi?”

Minimal, ya, minimal mengawalinya dengan sebuah tulisan. Tulisan yang bisa mengadvokasi kepentingan publik. Ini tentu saja langkah awal bersama bagaimana ide dan gagasan kita memahami kenegaraan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Sebuah tahapan pula supaya kita lebih matang lagi bertindak dalam perjuangan yang lebih konkret.

Baca juga:

Makar Itu Pakai Militer, Bukan Pakai Dosen dan Mahasiswa

“Menjahit Mulut” Jurnalis Farid Gaban

Diskusi Menulis bersama HMPRY

Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Riau-Yogyakarta (HMPRY), Nenny Wuri Prabawati, menghubungi saya untuk program kerja mereka. Lalu kami berjumpa dan saya setuju sebagai “orang yang berbagi pengalaman di dunia penulisan”, pada Selasa, 16 Juni 2020, Pukul 19.30 melalui diskusi Zoom. Tidak terlalu tahu apa alasan mahasiswi Majister Kedokteran UGM itu memilih saya untuk mengisi kegiata mereka.

Nah, untuk teman-teman yang berminat bergabung pada diskusi “Menulis untuk Advokasi Publik”, bisa menghubungi nomor 0852 6415 0978 (Suhardiman). 

Pada acara itu selain membahas beberapa isu nasional yang hangat sebagai ide menulis, saya juga berupaya agar setelah diskusi teman-teman bisa langsung menulis. Sebagaimana tema dalam acara tersebut. [Asmara Dewo]

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Belajar Menulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Sebelum Berangkat, Ini 10 Tips Bertualang ke Curug Lawe

Asmarainjogja.id-Pesona Curug Lawe yang berada di Lereng Gunung Ungaran memang tak diraguk…