Home Uncategorized Opini Kasus Kematian Bayi karena Ribetnya Rapid Test saat Persalinan?

Kasus Kematian Bayi karena Ribetnya Rapid Test saat Persalinan?

9 min read
3
0
96
Ilustrasi bayi meninggal
Ilustrasi bayi meninggal | Photo by Vidal Balielo Jr. from Pexels

Asmarainjogja.id-Meskipun pemerintah menyatakan new normal, Presiden RI Jokowi mengimbau rakyatnya untuk berdamai dengan Covid-19. Ternyata pada proses rapid test mulai memakan korban jiwa. Terutama pada kasus ibu hamil yang butuh persalinan cepat terhalang karena rapid test yang dianggap menyulitkan masa-masa kritis seperti itu.

Seharusnya nyawa seorang ibu dan bayi dalam kandungan lebih berharga daripada prosedur rapid test di rumah sakit. Ketetapan rapid test sebelum menangani pasien ibu hamil yang akan melahirkan semakin meresahkan saja. Karena menunggu hasil rapid test memakan waktu yang cukup lama. Padahal kita tahu lamanya penanganan persalinan bisa berujung kematian pada bayi dalam kandungan dan ibunya.

Tampaknya kasus bayi meninggal dalam kandungan belum menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Padahal pemerintah selaku eksekutor yang mampu meberikan perintah langsung ke rumah sakit dan para dokter. Tangisan ibu yang menyaksikan anaknya meninggal belum didengar. Jeritan ayah menyesalkan ribetnya prosedur rumah sakit masih dianggap angin lalu. Oleh sebab itu mau bertambah berapa banyak lagi bayi yang akan meninggal?

Pemilik akun Twitter @rusli_andy menceritakan pengalaman pahitnya saat menyaksikan cucunya meninggal karena lamanya penanganan rumah sakit.

“PROTOKOL jadi alasan kuat RS untuk cari duit, keluhan tidak di dgn cepat, orang sakit di jadikan mesin ATM untuk rapid test, negative rapid, terus rongsen untuk cari lebih, sementara tindakan keluhan terabaikan moto tidak sesuai dgn kenyataan @ridwankamil RSHS 7jam pasien nunggu,” tulis dia, Jumat, 12 Juni 2020.

“Setelah otot tegang baru pihak RSHS ada perhatian, apakah harus ngotot dan adu otot untuk kemanusiaan ??? RUANG IGD yg tak jelas!!!” kata dia lagi.

“Innalillahi wa inailahirojiuun.… @ridwankamil mungkin bapa harus mengkoreksi protokol RSHS yg mengutamakan rapid dgn alasan covid dari pada keluhan pasen yg sudah jelas minta di tindak dini untuk melahirkan, menunggu hasil rapid dan rongsen yg hampir 7 jam dari jam 12:30-1920” dia mengabarkan cucunya meninggal.

Baca juga:

Sabda Raja Yogyakarta, Covid-19, dan Reisha Broto Asmoro

Menilai Curhat Covid-19 yang Disebut Ajang Bisnis oleh Pemilik Akun Ini!

“Dan baru di tindak itu sy sudah ngotot sama petugas minta di perhatian kondisi anak sy sebagai pasen, jika RSHS mendengar dan melihat kondisi pasien dan cepat mengambil keputusan yg tepat proses persalinan anak misalkan dgn cesar mungkin cucu sy tidak akan mati dalam kandungan,” kesal kakek itu karena lamanya dokter menangani anaknya.

“Keracunan karena ketuban sudah pecah duluan…, tugas @ridwankamil untuk membenahi mind set ini…, ingat ini akan jadi bahan aduan sy nanti di akhir… sy akan adukan ini kepada Allah nanti karena sy saksi dari kejadian ini…sy akan menuntut semua orang yg bertanggungjawab untuk kelalaian dg alasan protocol kesehatan ini…!!! Mudah2an pa @ridwankamil bisa mengerti perasaan saya … sedih melihat RS yg tidak mengutamakan yg utama malah rapid yg di dulukan, hasil rapid – dan sy harus bayar yg tidak di bebankan ke BPJS, apakah RS mendahulukan Uang demi nyawa? @ridwankamil di koreksi,” keluh kakek itu pada Ridwan Kamil selaku Gubernur Jawa Barat.

Selain kisah kakek di atas, ada kasus lain yang menguras air mata. Seorang ibu bernama Ervina Yana di Makassar terpaksa mengikhlaskan bayinya meninggal karena tidak punya biaya untuk rapid test dan swab test.

“Ibu Ervina ini peserta BPJS kesehatan, tapi ditolak tiga rumah sakit karena tidak ditanggung biaya rapid test dan swab,” ujar Alita Karen aktivis perempuan Makassar yang mendampingi Ervina, sebagaimana dikutip dari Kompas.com, Selasa, 16 Juni 2020.

Untuk biaya swab test sendiri rumah sakit mematok harga 2,4 juta. Karena harus dirujuk ke rumah sakit lain, akhirnya bayi dalam kandungan yang masih bergerak itu meninggal dunia sesampai rumah sakit yang dituju.

Baca juga:

Bergaul dan Komunikasi Lintas Kasta

Makar Itu Pakai Militer, Bukan Pakai Dosen dan Mahasiswa

Apakah Rumah Sakit Tidak Lagi Menyelamatkan?

Jika kita masih percaya dengan Pasal 28A UUD 1945 yang menjelaskan “Setiap orang berhak hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”. Kemudian dipertegas lagi pada Pasal 28H ayat 1 “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan hidup yang baik dan serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.”

Kita juga bisa melihat Pasal 53 ayat 1 UU No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, “Setiap anak sejak dalam kandungan berhak untuk hidup, mempertahankan hidup, dan meningkatkan taraf kehidupannya”.

Selanjutnya Pasal 5 ayat 2 UU No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan disebutkan “Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau”. Pemerintah berkewajiban menyelenggarakan layanan kesehatan sebaik-baiknya sebagaimana diatur pada Pasal 14 ayat 1 “Pemerintah bertanggungjawab merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat”.

Jadi jika kita berkiblat pada undang-undang di atas maka kita tidak mendengar lagi adanya kasus kematian bayi dalam kandungan karena persoalan prosedur dari rumah sakit. Persoalannya adalah kita mau mengedepankan keselamatan warga yang butuh layanan cepat atau seperti apa? Mengingat ibu hamil yang akan melahirkan harus secepatnya ditangani. Bukan harus menunggu sampai tujuh jam.

Berdasarkan jurnal “Kematian Ibu: Suatu Tinjauan Sosial-Budaya” yang ditulis oleh Budi Rajab memaparkan ibu hamil yang akan melahirkan apabila tidak segera ditangani, pendarahan di sekitar persalinan dapat dengan cepat mengarah ke kematian maternal.

Ternyata sebelum proses persalinan yang menyebabkan kematian, setelah melahirkan pun rentan menyebabkan kematian jika tidak ditangani secepatnya.

Dari laman Republika.co.id menuliskan bahwa 40 persen kematian ibu usai melahirkan disebabkan terlambat penanganan medis, hal itu disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Muhammad Andalas, “40 persen kematian ibu usai melahirkan karena terlambat diketahui, terlambat dirujuk dan terlambat ditangani,” kata Andalas. [Asmara Dewo]

Baca berikutnya: Hukum Indonesia Mempermainkan Kasus Novel Baswedan?

 

 

 

 

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

3 Comments

  1. […] Baca juga: Kasus Kematian Bayi karena Ribetnya Rapid Test saat Persalinan? […]

    Reply

  2. […] Baca berikutnya: Kasus Kematian Bayi karena Ribetnya Rapid Test saat Persalinan? […]

    Reply

  3. […] Kasus Kematian Bayi karena Ribetnya Rapid Test saat Persalinan? […]

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Sebelum Berangkat, Ini 10 Tips Bertualang ke Curug Lawe

Asmarainjogja.id-Pesona Curug Lawe yang berada di Lereng Gunung Ungaran memang tak diraguk…