Home Belajar Menulis Memanfaatkan Teknologi untuk Pelatihan Menulis bagi Kaum Miskin dan Tertindas

Memanfaatkan Teknologi untuk Pelatihan Menulis bagi Kaum Miskin dan Tertindas

9 min read
0
0
39
Ilustrasi anak-anak miskin
Ilustrasi anak-anak miskin | Photo by Denniz Futalan from Pexels

Asmarainjogja.id-Perkembangan digital yang semakin pesat membantu kegiatan manusia. Kita bisa lihat satu aplikasi Zoom yang sering digunakan pada masa pandemi sekarang. Jika tidak bisa bertemu langsung bukan berarti komunikasi tidak bisa disampaikan, apalagi harus melakukan rapat-rapat kerja. Perkembangan tekonologi membantu kita.

Sekarang pertanyaannya adalah seserius apa kita memanfaatkannya? Apa hanya senang berjoget-joget di depan aplikasi TikTok kemudian membagikannya di berbagai media sosial kita. Ada yang beranggapan aplikasi itu cukup membuat manusia bertingkah laku aneh di media sosial.

Tentu saja TikTok bukan hal yang penting untuk dibahas, ada yang lebih penting, yaitu memanfaatkan teknologi untuk belajar menulis. Sebagai seorang penulis konten, saya mulai aktif sejak tahun 2015. Saya menulis berbagai kategori di situs sendiri, mulai dari fiksi sampai non fiksi. Ribuan karya tulis saya menyebar di berbagai media, dan dibantu dengan media sosial, seperti Facebook dan Twitter.

Terlebih lagi Viva.co.id turut mendukung tulisan saya sampai ke pembaca. Tak heran pembaca setia Viva pernah mengenal saya waktu di pesawat. Nama saya tidak begitu asing baginya, karena penumpang itu rajin mengakses laman berita tersebut. Bagi saya pribadi itu cukup menyenangkan. Karena pembaca dan penulis bisa bertatap muka langsung, saling bercerita.

Baca juga:

Memahami Bagaimana Menulis untuk Advokasi Publik

Buntu Menulis? Lakukan Lima Hal Ini Agar Bisa Berkarya Lagi

Pada 2017 saya dan teman-teman lain di kampus membangun komunitas menulis Bintang Inspirasi. Sampai sekarang komunitas itu berjalan. Mungkin terlihat subjektif, namun saya pikir komunitas tersebut cukup berhasil melahirkan penulis.

Saya menceritakan ini bukan untuk menunjukkan kebanggaan pribadi, tapi lebih pada komitmen saya di dunia literasi. Karena saya percaya literasi bisa mengantarkan seseorang ke pintu ilmu pengetahuan, meskipun latar belakang kita bukan dari kalangan anak sekolah.

Sebagai seseorang berlatar belakang hidup miskin, saya merasakan ketimpangan luar biasa antara mereka yang sekolah dengan tidak sekolah. Mungkin terlalu memvonis pemerintah bahwa pendidikan kita gagal menerapkan pendidikan yang seutuhnya. Sebagaimana harapan pendidikan itu sendiri, pendidikan hadir untuk menjembatani, bukan malah menimbulkan gap, antara mereka yang sekolah dan tidak sekolah.

Mereka yang tidak mengenyam pendidikan minder saat berbicara dengan anak sekolahan. Anak sekolahan yang berintelektual tinggi merasa tidak pantas bergaul dengan orang-orang yang tidak berpendidikan. Kekurangajaran ini secara tidak langsung lahir dari dunia pendidikan sekarang. Karena pendidikan kita tidak memberikan contoh langsung untuk membaur dengan rakyat kecil, kaum miskin, dan kaum yang termajinalkan. Kalaupun ada itu hanya sebatas formalitas belaka.

Kita lebih sering menyaksikan mahasiswa nongkrong di kafe berkerumun mengobrol ria, atau mengerjakan tugas-tugas kampus, daripada membaur dengan rakyat kecil. Katakanlah berbaur dengan tukang becak, nelayan, petani miskin, buruh, dan kaum miskin lainnya. Mahasiswa tidak mau pusing dengan urusan akar rumput, dan karmanya adalah mahasiswa seperti itu dipusingkan tugas dari dosen berwatak feodal.

Padahal boleh jadi dengan meleburnya mahasiswa ke tengah-tengah masyarakat bisa meng-upgrade nilai-nilai rohani. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Bung Karno, “Orang tidak bisa mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.”

Baca juga:

Semoga Mereka Kembali ke Jalan yang Benar, Jalan Literasi

Menyebalkan, 5 Hal Ini Dibenci Penulis Pemula

Sejauh ini saya menilai negara, organisasi, lembaga, dan yayasan keagamaan, tidak begitu serius terhadap pendidikan. Terlebih lagi pemerintah yang seharusnya memang memberikan pendidikan gratis kepada rakyat. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu tugas pokok pemerintah Indonesia yang tertuang pada pembukaan UUD 1945.

Kemudian pada Pasal 28C ayat 1 UUD 1945 dipertegas lagi: “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan tekonologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”

Sudah jelas untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan meski dari pendidikan. Maka, jika pendidikan itu tidak diberikan oleh pemerintah kita bisa paham bagaimana kehidupan rakyat. Khususnya kaum papa yang hanya dijadikan objek kepentingan politik saja.

Yayasan keagamaan dan organisasi keagamaan yang menjadi pintu terakhir, tidak mampu menjawab kegelisahan ini. Mereka lebih mengutamakan politik kekuasaan dan profit. Lihat saja sekolah-sekolah berlatar belakang agama, tidak ada yang gratis. Malah berkesan mahal. Pun begitu dengan organisasi keagamaan, tahunya cuma mengkritik pemerintah, marah-marah tidak jelas, gemar berkonflik antar sesama anak bangsa, tapi melupakan pentingnya peran pendidikan demi kepentingan bersama.

Kita tidak punya sandaran lagi untuk memperjuangkan pendidikan yang adil dan merata. Sembari terus menuntut pendidikan, kita juga seharusnya mulai melingkar membentuk pendidikan non formal. Karena saat ini hanya itu yang bisa dilakukan, dan terus menerima ide dan gagasan kawan-kawan yang lain.

Sebagaimana yang sudah saya uraikan di atas, dan kegelisahan terhadap pendidikan bercorak kapitalis ini, saya mengajak kawan-kawan semua untuk mulai belajar menulis. Saya siap menjadi pendampingnya, dan tentu saja ini proyek kemanusiaan, yang tidak ada orentasi profit. Kita bisa tunjukkan pada pemerintah dan kepada siapa saja, jika pendidikan hanya untuk golongan kaum kaya, kita bisa mendobrak pintu lain.

Saya sangat yakin kita bisa belajar mandiri tanpa mereka yang sok berkuasa.

Gusdur juga pernah mengatakan, entah serius atau tidak, “Tuhan tidak perlu dibela, belalah mereka yang ditindas.”

Mengingat Gusdur suka guyon, jadi jangan terlalu dianggap serius. Tapi yang jelas bagi saya pribadi, ketidakinginan pemerintah memberikan pendidikan gratis pada rakyat adalah penindasan mutlak. Maka saya akan ada dan selalu ada di barisan penindasan tersebut. Tentunya melalui profesi saya selama ini, yaitu seorang penulis. [Asmara Dewo]

Baca berikutnya: Tetap Berkarya di Musim Virus Corona

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Belajar Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Ara dan Kota Kenangan

Asmarainjogja.id-Matahari kian ganas menunjukkan panasnya, seakan-akan berada di atas kepa…