Home Belajar Menulis Menulis adalah Kemerdekaan, Penulis Radikal yang Dianggap “Menyerang” NKRI Salah Siapa?

Menulis adalah Kemerdekaan, Penulis Radikal yang Dianggap “Menyerang” NKRI Salah Siapa?

9 min read
0
0
21
Ilustrasi menulis
Ilustrasi menulis | Photo by Ivan Samkov from Pexels

Asmaraijogja.id-Menulis adalah soal kemerdekaan. Penulis tidak boleh diatur jika bertentangan dengan hati nuraninya. Karena pada dasanya menulis itu adalah hasil pikiran yang lahir dari teori dan pengalaman sang penulis. Terlepas dampak dari tulisan tersebut, penulis harus berani mempertanggungjawabkannya.

Ketika saya mengisi materi penulisan tak lupa menyampaikan hal itu ke teman-teman, atau di forum-forum. Karena memang manusia itu harus terbebas dari suatu doktrin yang berlawanan dengan pikirannya. Jika dipaksa, itu namanya penindasan. Seseorang melakukan sesuatu harus dengan kesadaran dan kecakapannya. Bukan karena paksaan atau ketidakmampuannya dalam berpikir atau bertindak.

Oleh sebab itu seorang penulis harus dibekali pengetahuan dan metode berpikir yang baik dan benar. Kita tidak bisa mengajarkan kepada seseorang tanpa metode berpikir yang jelas, jika itu tidak disampaikan, penulis tersebut akan menjadi sosok yang liar. Terlihat bagus bagi manusia berpikir freedom, tapi sebenarnya itu cukup berbahaya bagi dirinya sendiri.

Hal lainnya adalah penulis tersebut menulis sesuatu yang tidak bisa diuji kebenarannya, karena terkesan tidak ilmiah. Hasil karyanya hanya sekadar fantasi hiburan di tengah hiruk- pikuk politik acakadut Indonesia. Tentu itu bukanlah langkah progresif bagi seorang penulis. Karena penulis lahir untuk membawa perubahan pada zamannya, bukan sebagai pelengkap zaman.

“Kreativitas itu pada dasarnya berdasarkan tuntutan realisme sosial dengan tujuan memenangkan tujuan rakyat. Itu suatu kerangka teori, orang boleh menolak. Tapi dalam keadaan negara dalam bahaya, sebaiknya begitu. Seniman juga punya andil pada perkembangan negara, pada waktu itu, lho.” kata Pramoedya Ananta Toer saat wawancara dengan Balairung tahun 1994.

Secara tidak langsung Pram memantik penulis untuk memengaruhi zaman. Bahkan bukan sekadar hanya berpengaruh, tapi bisa memenangkan tujuan rakyat. Perjuangan Pram tentu tidak sama dengan perjuangan kita sekarang. Perjuangan penulis novel “Bumi Manusia” itu lebih berat. Dia hidup pada zaman-zaman berat, seperti masa penjajahan kolonial Belanda, Jepang, Orla (Orde Lama), Orba (Orde Baru), bahkan sampai mencicip era Reformasi.

Hanya saja kita bisa memetik semangat Pram dalam perjuangan di barisan rakyat. Lagi-lagi kita tidak bisa membandingkan resiko yang diderita Pram dengan penulis zaman sekarang. Pram selain dijebloskan di penjara tanpa pengadilan, juga sempat dipukul dengan tommygun oleh ABRI (sekarang TNI), karena tuduhannya dengan keterlibatannya di Lekra, yang disebut sebagai sayap dari PKI. Totalnya Pram dipenjara sampai 18 tahun. Tentu seperempat umur yang melelahkan di jeruji besi.

Baca juga:

Memahami Bagaimana Menulis untuk Advokasi Publik

Semoga Mereka Kembali ke Jalan yang Benar, Jalan Literasi

Setelah bebas pada tahun 1979, Pram juga harus melapor setiap pekan ke Kodim. Karena statusnya masih Tahanan Kota. Tak sampai di situ, novel-novel karangan Pram juga tidak boleh terbit di Indonesia. Namun di negara lain, novelnya ramai dicetak berulang-ulang. Karena itu pula yang mengantarkan nama Pram ke kancah Internasional.

Sekarang bagaimana dengan kondisi ekonomi, sosial, budaya, dan politik Indonesia? Tentu kita sepakat bahwa negara kita tidak baik-baik saja. Lalu sebagai penulis posisi kita di mana? Pada posisi penyambung lidah pemerintah atau penyambung lidah rakyat, sebagaimana yang sering dibilang Presiden RI ke-1 Soekarno. Menjadi penyambung lidah pemerintah tentu di posisi yang aman. Ya, paling hanya diejek sebagai BuzzerRp.

Sebaliknya jika sebagai penyambung lidah rakyat akan dianggap membahayakan. Namun itu menjadi pengalaman tersendiri, punya pengalaman ekstrem saat diteror orang-orang yang merasa gerah. Sebagaimana akhir-akhir ini, pada Kasus Pak Bongku. Penulis Ayu Rahma sebagai korban intimidasi dan ancaman teror, akun Instagramnya diretas, bahkan keluarganya diancam.

Saya dengan teman-teman komunitas bahkan sampai merumuskan Sumpah Bintang Inspirasi, salah satunya adalah “Menjadikan Bintang Inspirasi sebagai sayap perjuangan rakyat”. Hal itu kami sepakati agar teman-teman BI punya garis perjuangan yang jelas dalam karya tulisnya. Anggota komunitas diharapkan berpihak pada rakyat, apalagi rakyat yang tertindas, harus berani menulis sebagai pengadvokasian.

Sebagai penulis, tentu berani ambil sikap untuk melahirkan karya tulis yang mengadvokasi rakyat. Agar tulisan tersebut selain sebagai informasi dan wawasan juga sebagai lokomotif akar rumput. Tak sampai di situ, terus mengawal kasus-kasus sturuktural sampai tuntas.

Perkara menang atau kalah dalam perjuangan itu lain cerita. Kita bisa lihat cukup banyak kasus-kasus kerakyatan yang menang, salah satunya kasus Pak Bongku yang kini sudah bisa bernapas lega. Beliau bebas dari penjara. Meskipun harus diakui kasus tanah ulayat di Riau belum selesai sepenuhnya.

Perlu diingat pula timbulnya perlawanan rakyat tentu dari kebijakan, regulasi, dan tindak-tanduk dari pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Kita masih ingat kasus pelaporan jurnalis Senior Farid Gaban oleh kader PSI Muannas Alaidid. Farid Gaban mengkritik kerjasama antara perusahaan Blibli dengan Kementerian Ekonomi dan UMKM. Dia bilang, “Rakyat bantu rakyat, penguasa bantu pengusaha.” Hal itu contoh bagaimana kritikan dibalas dengan laporan.

Dan jangan diabaikan pula, penulis yang baik adalah penulis yang bisa meramukan karya dengan pengalamannya. Soesilo Toer menuliskan di buku Republik Jalan Ketiga, “Pengalaman adalah basis pengetahuan dan pengetahuan adalah basis ilmu.” adik bungsu Pram itu seperti antitesis dari kaum sekarang yang mengutamakan teori dari buku atau para tokoh.

Jadi sederhananya adalah penulis juga sebaiknya terlibat langsung pada gerakan rakyat itu sendiri. Agar karya-karya yang ditulis itu berdasarkan pengalaman langsung, sementara teori yang akan disampaikan pada karya hanya sebagai pendukung. Dan tentu saja karya yang dihasilkan lebih greget lagi, pesan yang disampaikan lebih menusuk ke ulu hati pembaca. [Asmara Dewo]

Baca berikutnya: Memanfaatkan Teknologi untuk Pelatihan Menulis bagi Kaum Miskin dan Tertindas

 

 

View this post on Instagram

 

Ngobrol kepenulisan sama PJ Internal BI @anggaribayu 😁

A post shared by Asmara Dewo (@asmaradewo) on

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Belajar Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Ara dan Kota Kenangan

Asmarainjogja.id-Matahari kian ganas menunjukkan panasnya, seakan-akan berada di atas kepa…