Home Belajar Menulis Beban Moral Penulis, Salah Satunya Memberikan Pelatihan Gratis

Beban Moral Penulis, Salah Satunya Memberikan Pelatihan Gratis

9 min read
0
0
206
Ilustrasi penulis kreatif
Ilustrasi penulis kreatif | Photo by Ivan Samkov from Pexels

Asmarainjogja.id-Dulu, ketika lagi semangat-semangatnya belajar menulis, saya ingin menjadi penulis yang terkenal. Terlebih lagi setiap membaca novel-nevel Tereliye terbaru. Wihhh… rasanya ingin sekali seperti dirinya dikenal pembaca remaja. Plus diundang sebagai pembicara di mana-mana.

Membaca novel “Pulang” karya Leila S. Chudori selalu membekas di benak saya, bagaimana menulis cerita berlatar belakang dunia aktivis. Terlebih aktivis kiri yang dianggap musuh bebuyutan pemerintah. Kalau “Pulang” pada era Soeharto, sekarang aktivis kiri tidak begitu disorot, mungkin karena saya kurang informasi atau bagaimana. Hanya saja aktivis kiri paling mudah dicap komunis oleh golongan Ormas tertentu.

Kiri juga belum tentu komunis. Banyak tokoh-tokoh nasional kita yang kiri, tapi mereka lebih senang disebut sosialis. Meskipun sosialis dan komunis tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Meski begitu jelas perbedaannya, hanya menyelami lautan yang bisa membedakan warna ikan. Memahami persoalan juga begitu.

Seorang sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer, juga pernah dituduh komunis. Karena tuduhan keterlibatan dengan “partai terlarang” itu pula ia dijebloskan ke penjara Nusa Kambangan dan Pulau Buru. Padahal Pram mengaku membaca karya-karya Karl Marx saja tak pernah, apalagi mempelajarainya. Dia tak sempat karena kesibukannya mencari uang untuk adik-adiknya yang sekolah.

Pram dituduh oleh rezim kala itu, kalau sekarang agak kritis dalam berkarya, entah karya apa saja dengan mudah dituduh komunis. Tuduhan-tuduhan itu sangat berbahaya, karena bisa mematahkan semangat seseorang untuk berkarya. Selain itu hilangnya daya pikir kritis seseorang untuk mengungkap segala persoalan di “Bumi Manusia” ini, sebagaimana novel Pram.

“Setiap yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap manusia yang berpikir,” begitu kata Pram. Tentu saja sebagai penulis kita punya tugas sebagaimana yang dimaksud Pram, turut andil pada persoalan apa saja yang terjadi di negara ini. Terlebih lagi penulis dianggap “orang cakap” untuk menyampaikan sesuatu yang berguna bagi bangsa. Meskipun belakangan ini penulis dipandang sebelah mata.

Pemerintah tampaknya lebih mendukung ajang pencarian perempuan-perempuan cantik dan dianggap cerdas yang berujung pada profit, daripada menjaring calon-calon penulis hebat. Kita lupa bahwa bangsa ini butuh literasi daripada unjuk gigi. Butuh karya lewat tulisan daripada kecantikan perspektif golongan. Tak heran, adik-adik kita lebih doyan tutorial makeup kecantikan daripada menulis catatan diary. Mereka ingin terkenal dengan instan, tapi tak mau berkarya minimal dari tulisan.

Ini femomena pada era digital. Lucu sekaligus menggeramkan.

Baca juga:

Menulis adalah Kemerdekaan, Penulis Radikal yang Dianggap “Menyerang” NKRI Salah Siapa?

Memanfaatkan Teknologi untuk Pelatihan Menulis bagi Kaum Miskin dan Tertindas

Sebagai seorang penulis kreatif, tentu kita risih, sembari harus fokus pada persoalan politik yang memengaruhi setiap sendi kehidupan kita. Kita percaya bahwa perubahan bangsa bisa lebih baik lagi, tapi juga harus ingat regenerasi harus terus dilahirkan. Karena merekalah yang akan menggantikan para penguasa suatu hari nanti. Bayangkan calon Presiden RI 2040-an semasa mudanya hobi joged-joged tidak jelas di layar smartphone.

Ternyata semakin mahir kita menulis, persoalan di depan semakin sulit. Bukan hanya sekadar persoalan karya, tapi pada beban moral. Maksudnya adalah apakah kita cukup berkarya saja tapi tidak melahirkan penulis juga? Apakah kita hanya menikmati uang dari karya, tapi lupa pada golongan yang tidak mengecap pendidikan formal? Ini pertanyaan serius bagi siapa saja yang mengaku seorang penulis.

Maaf, ini bukan riya atau sombong, tapi pada pembuktian kerja-kerja konkret di dunia literasi. Saya dengan teman-teman semasa kuliah pada 2018 sudah membangun komunitas menulis Bintang Inspirasi, sampai sekarang masih berlanjut. Karena hanya komunitas, biaya kegiatan dan acara-acara tertentu dengan cara kolektif. Kami bisa menghadirkan jurnalis dari Aliansi Jurnalis Indonesia Yogyakarta sebagai pemateri.

Kami begitu berterimakasih kepada Robandi yang bersedia memberikan materi secara cuma-cuma. Karena kami memang tidak punya budget. Di dunia hukum ada istilah “pro deo pro bono”, bantuan gratis dan cuma-cuma kepada orang yang tak mampu dan buta hukum, kalau di dunia literasi beban moralnya apa, ya?

Jujur saja saat mengetahui ada pelatihan menulis di Tempo Institute saya ngiler. Namun karena faktor biaya yang cukup mahal bagi kaum proletar, hanya bisa mengintip dari kejauhan. Apalagi yang isi materi penulis-penulis hebat dengan karya luar biasa. Siapa yang tidak mau coba? Lagi-lagi karena urusan uang, semua itu dipuasakan. Sama halnya dengan anak-anak yang ingin sekolah, tapi karena orangtuanya tidak mampu, cukup bersabar dan malah membantu meringankan perekonomian keluarga.

Novelis Leila S. Chudori kali ini akan memberikan pelatihan menulis fiksi tentu membuat saya bergairah ingin belajar lebih banyak lagi. Sebenarnya tak elok jika dibandingkan novel karya saya “Icow” dengan “Pulang” karya beliau. Jauh sekali kelasnya. Tapi paling tidak saya sudah berusaha mengikuti jejak-jejak penulis hebat Indonesia. Ada yang bisa ditunjukkan, “Ini karya saya, lho!” meskipun hanya bertengger di Wattpad.

Tak kalah penting sebagai motivasi ke kawan-kawan komunitas saya, “jika teman-teman tidak mampu ikut pelatihan menulis fiksi yang diadakan oleh Tempo Institut, paling tidak berusaha berkompetisi mendapatkan tiket gratisnya.” karena hanya itu yang kita bisa, daripada mencela atau membanding-bandingkan dengan sekolompok orang lain yang bisa memberikan pelatihan gratis.

Mengingat pula tak ada makan siang yang gratis. Tapi pada masyarakat-masyarakat tertentu tak hanya makan siang yang gratis, tapi makan bersama, hidup bersama, dan bekerjasama menyongsong hari-hari yang kian menyulitkan hidup. [Asmara Dewo]

Note: Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Catatan Pringadi bekerja sama dengan Tempo Institute

Baca juga:

Memahami Bagaimana Menulis untuk Advokasi Publik

Semoga Mereka Kembali ke Jalan yang Benar, Jalan Literasi

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Belajar Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Tepatkah Mereformasi Birokrasi di Tengah Pandemi Covid-19?

Asmarainjogja.id-Mengutip dari laman Unila.ac.id birokrasi pada dasarnya merupakan suatu k…