Home Berita Tragedi SJ-182 dan Harapan BJ Habibie

Tragedi SJ-182 dan Harapan BJ Habibie

9 min read
0
0
161
Ilustrasi Pesawat Sriwijaya Air dan BJ Habibie
Ilustrasi Pesawat Sriwijaya Air dan BJ Habibie | Kolase foto asmarainjogja.id, credit foto sriwijaya dan Kompas

Detik.com pada laporannya SJ-182 sudah beroperasi selama 26 tahun, pertama kali terbang 31 Mei 1994 oleh maskapai Continenental Air Lines. Pesawat tipe Boeing 737-500 ini buatan Amerika Serikat. Kemudian pesawat tersebut  dipakai oleh maskapai Continental Air Lines sampai pertengahan 2010 sebelum dibeli oleh maskapai United Air Lines. Pada 15 Mei 2012 pesawat dengan nomor body PK-CLC ini dibeli maskapai Sriwijaya Air.

Kompas.com mendokumentasikan, untuk mendukung pertumbuhan industri penerbangan, maskapai Sriwijaya Air akan mengganti 12 unit Boeing 737-200 yang dioperasikan saat ini dengan Boeng 737-500. Selain itu untuk tahun 2012 akan didatangkan 4 unit Boeing 737-800. “Untuk Boeng 737-500 yang kami beli second dari maskapai Continental, maskapai di Amerika Serikat. Pesawat itu kemudian akan ditambah delapan kursi kelas bisnis,” kata Direktur Komersial Sriwijaya Air Toto Nusatyo.

PT Sriwijaya Air adalah perusahaan swasta yang didirikan oleh Chandra Lie, Hendry Lie, Johannes Bunjamin, dan Andy Halim.

Kompas menuliskan SJ-182 lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pada 14.36 WIB, 9 Januari 2021. Pesawat mengangkut 62 orang yang terdiri dari 12 awak kabin, 40 penumpang dewasa, 7 penumpang anak-anak, dan 3 bayi. Diketahui pukul 17.24 WIB SJ-128 hilang kontak, awal dugaan jatuhnya SJ-182 dari data flightradar24.com. Informasi terakhir menunjukkan SJ-182 berhenti sekitar 11 mil laut dari, tepatnya berada di atas Kepulauan Seribu.

Penyebab Kecelakaan Pesawat

Detik.com menulis, Ketua Umum Indonesia National Air Carries Association (INCA), Denon Prawiraatmadja menilai usia pesawat tak terkait dengan kelayakan terbang atau jadi penyebab kecelakaan.

Pada laporan Kompas.com, Ketua Komite Nasional Keselematan Transportasi (KNKT) Suryanto Cahyono mengatakan usia pesawat sejatinya tidak berpengaruh pada kelayakan pesawat untuk terbang selamat pesawat dirawat sesuai aturan.

Begitu juga menurut John Cox, pensiunan kapten maskapai US Airways yang mengatakan bahwa usia bukanlah halangan bagi sebuah pesawat untuk melakukan penerbangan, asalkan prosedur perawatan dilakukan dengan baik, sebagaimana dikutip dari Kumparan.com.

Jurnal berjudul Identifikasi Pengaruh Umur Pesawat terhadap Tingkat Kecelakaan Pesawat pada Setiap Tipe Maskapai Penerbangan yang ditulis oleh Rianita Puspa Sari dan Dene Herwanto (2018) mengutip laporan ATSB Transport Safety Report (2007), menyebutkan di seluruh dunia telah terjadi kecelakaan pesawat yang berkaitan dengan umur pesawat. Umur pesawat terbang adalah kombinasi dari usia kronologis, jumlah siklus penerbangan, dan jumlah jam terbang. Saat terjadi kecelakaan, pesawat sudah beroperasi belasan tahun, dan telah mengumpulkan sejumlah siklus penerbangan.

Susanti dan Lupi Wahyuningsih menulis jurnal berjudul Faktor-Faktor Penyebab Tingginya Tingkat Kecelakaan Pesawat Udara di Pulau Papua, menuliskan bahwa Elwiyn Edwars pada 1972 dan dikembangkan oleh Frank Wawkin pada 1975, menyebutkan bahwa faktor utama penyebab kecelakaan pesawat adalah: a. software, yaitu peraturan atau prosedur tertulis, b. hardwer, yaitu mesin atau peralatan yang digunakan dalam bekerja, c. environtmen, yaitu lingkungan sekitar termasuk kondisi sosial ekonomi, d. Liveware, yaitu manusia sebagai pengontrol sistem.

Kesimpulan pada jurnal di atas juga menyebutkan faktor terjadinya kecelakaan pesawat adalah karena pesawat itu sendiri.

Batas Usia Pesawat dan Peluang Bisnisnya

Mengutip data dari inaca.or.id, batas usia pesawat penumpang di Turki maksimal 15 tahun, Thailand 14 tahun, China 15 tahun, India 15, tahun, dan UAE (United Arab Emirets) 20 tahun.

Indonesia tidak ada batas usia pesawat sebagaimana Pasal 1 Permen Perhubungan No PM 27 Tahun 2020 tentang Pencabutan Permen Perhubungan Nom PM 155 Tahun 2016 tentang Batas Usia Pesawat Udara yang Digunakan untuk Kegiatan Angkatan Udara Niaga yang berbunyi: “Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 155 Tahun 2016 tentang Batas Usia Pesawat Udara yang Digunakan untuk Kegiatan Udara Niaga (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 93) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.”

Mengutip Tirto.id, IATA mencatat ada 135 juta penumpang pesawat di Indonesia pada 2015, dan diproyeksikan mencapai 242 juta penumpang pada 2035. Trend serupa juga terjadi di kawasan Asia Tenggara, seperti Vietnam. Secara global, jumlah pesawat akan melonjak jadi 7,2 miliar penumpang di 2035, dari posisi 2016 yang hanya 3,8 miliar penumpang.

Mengenal Pesawat BJ Habibi

Pesawat N-250
Pesawat N-250 | Foto Detik

Pesawat N250 merupakan karya Presiden RI ke-3 BJ Habibi yang dibangun oleh oleh PT Dirgantara Indonesia. Kode N pada pesawat yang dinamakan Gatotkaca itu menandakan bahwa desain, produksi, dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia. Sayangnya, kesuksesan itu tak membuat N250 menjadi pesawat komersil. Pesawat itu harus rela berdiam hingga saat ini karena tak kunjung memiliki izin terbang, sebagaimana yang ditulis Cnnindonesia.com.

Pada Republika.cco.id, BJ Habibie mengatakan orang-orang dari luar negeri mengakui bahwa karya N250 bukan hanya karya bangsa Indonesia, tapi karya umat manusia yang datang dari Indonesia. Ini sebabnya mengapa kita hendak membuka perakitan di Amerika Serikat, 26 kota melamar untuk bisa dipilih menjadi tempat perakitan N250. Kenapa? Karena dia yakin ini pesawat unggul. Ini mengapa Jerman memberikan fasilitas untuk kita rakit di Jerman. Karena dia berbicara produk unggul itu, bukan produk satu bangsa tapi produk seluruh umat manusia.

Kembali Cnnindonesia.com melaporkan, Serupa dengan N250, pesawat jet N2130 juga hanya sebatas menjadi protipe. Padahal pesawat itu digadang-gadang menjadi pesawat komersil buatan Airbus dan Boeing jika berhasil diciptakan. Sedangkan pesawat asli buatan dalam negeri lainnya belum jelas nasibnya adalah pesawat N219. Sejak berhasil terbang perdana pada 2017 pesawat rancangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional dan PT DI itu seolah bernasib sama seperti N250 dan N2130. N245 dan R80 warisan BJ Habibie dicoret dari daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) oleh rezim Joko Widodo. Kedua pesawat itu digantikan oleh proyek pengembangan drone. [Asmarainjogja.id/Asmara Dewo]

Baca juga:

Degan Bakar Ibu Siti Viral di TikTok karena Bisa Mengobati Berbagai Penyakit

 

 

 

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Penganiayaan terhadap Difabel Steven Menambah Kasus Rasisme Warga Papua yang Dilakukan Aparat Keamanan

Asmarainjogja.id-Penganiayaan yang dilakukan oleh dua anggota Polisi Militer Angkatan Udar…