Home Pendidikan Kalabahu, Gerbang Pengadvokasian dengan BHS

Kalabahu, Gerbang Pengadvokasian dengan BHS

8 min read
0
0
103
Penutupan Kalabahu 2019 Jilid II
Penutupan Kalabahu 2019 Jilid II | Dok. LBH Yogyakarta

Asmarainjogja.id-Kalabahu merupakan singakatan Karya Latihan Bantuan Hukum. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Bantuan Hukum dari YLBHI yang ada di seluruh Indonesia. Mengikuti Kalabahu juga sebagai syarat untuk bergabung di keluarga besar LBH-YLBHI sebagai volunter atau APBH (Asisten Pengabdi Bantuan Hukum).

Setiap LBH di wilayahnya masing-masing punya ketentuan dalam menjalankan agenda tahunan ini. Semua itu berangkat dari pembacaan situasi kasus yang sedang ditangani, tentu saja tidak mengabaikan ekonomi-politik nasional dan internasional. Mengingat apa yang terjadi di hilir merupakan hasil dari hulu.

Nah, Kalabahu juga bisa disebut sebagai gerbang untuk memasuki dunia pengadvokasian dengan cara Gerakan Bantuan Hukum Struktural (GBHS). BHS inilah yang membedakan cara pengadvokasian LBH Yogyakarta dengan lembaga lainnya. Tak jarang pula, cara-cara pengadvokasian itu masih dijalankan oleh para alumni LBH di tempat yang berbeda.

Selain itu, Kalabahu juga memberikan materi tentang GBHS, Hukum, Ham, Gender, Pendidikan, Ekonomi-Politik, Gerakan Organisasi Rakyat, dan lain-lain. Pemateri juga dihadirkan dari orang-orang yang berpengalaman dari profesi yang digeluti. Tidak berlebihan jika materi yang di atas tadi belum pernah disampaikan oleh dosen di kampus. Tidak heran pula, mengikuti beberapa pekan di Kalabahu seperti kuliah satu semester (enam bulan di bangku kuliah).

Paradigma kita langsung berubah. Daya pikir kritis semakin tajam. Dan semangat perjuangan semakin menyala untuk membela kaum miskin, tertindas, termajinalkan, dan tidak dimanusiakan. Boleh jadi, setelah mengikuti Kalabahu arah perjuangan kita berubah atau semakin mantap sesuai dengan latar belakang dari peserta itu sendiri.

Tan Malaka berujar, “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk”. LBH Yogyakarta selalu evaluasi dalam setiap geraknya, maka setiap tahun Kalabahu berubah. Memilah mana yang tetap dipertahankan, dikesampingkan, atau sama sekali dihapus. Seperti live in, kegiatan ini memberikan pengalaman kepada peserta agar berbenturan langsung dengan kasus yang dialami masyarakat.

Peserta Kalabahu akan melihat, mendengar, dan merasakan langsung apa yang sesungguhnya terjadi pada kasus yang ditangani LBH Yogyakarta. Peserta Kalabahu yang live in di sekitar PLTU Cilacap akan merasakan bagaimana rasanya hidung ditusuk polusi udara. Ini bukan gurauan, kawan! Serius. Hal itulah yang dialami warga Dusun Winong, Desa Slarang, Kec. Kesugihan, Kab. Cilacap, Jawa Tengah, sejak tahun 2006 sampai detik ini, 2021. Selama 15 tahun mereka hidup berdampingan dengan PLTU Cilacap yang menyebabkan polusi udara.

Tak sampai di situ, sumber mata pencariannya di sawah juga dirampas. Karena lahan sawahnya telah digunakan untuk pembangunan PLTU. Maka para petani kebingungan di mana mencari sawah untuk kembali menanam. Para nelayan pun begitu, laut yang tercemar dan ombak yang semakin kencang menyebabkan abrasi. Mereka sekarang kesulitan mendapatkan ikan. Lagi-lagi karena ulah pembangunan PLTU yang penuh mudarat itu.

Bahkan pasca disahkan Revisi Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kab. Cilacap Tahun 2011-2031, Warga Dusun Winong dan sekitarnya terancam tergusur. Mengingat daerah mereka berdasarkan RTRW merupakan Kawasan Peruntukan Industri (KPI).

Tentu saja tidak ada habisnya jika semua permasalahan di Dusun Winong diulas di sini.

Begitu juga yang dialami oleh warga di Desa Wadas, Kec. Bener, Kab. Purworejo, Jawa Tengah. Perbukitan yang saat ini dihuni mereka terancam hilang, karena batuan andesit di sana dijadikan untuk bahan pembangunan Bendungan Bener. Padahal selama ini mereka hidup tenang, damai, dan sejahtera karena dikarunia Allah SWT alam yang subur. Berbagai tanaman tumbuh di sana, sehingga menggerakkan perekonomian warganya.

Saat ini warga Winong dan Wadas mempertahankan tanah leluhurnya dari berbagai ancaman yang datang bertubi-tubi.

Sebagai seorang mahasiswa yang berpikir kritis tentu terusik dengan kasus di atas. Sebagaimana Pramoedya Ananta Toer dalam novel Anak Semua Bangsa menuliskan “Setiap yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap manusia yang berpikir”. Selain itu tentu  menimbulkan tanda tanya besar, apa yang sebenarnya terjadi di sana? Bagaimana kronologi kasusnya sehingga menyebabkan warga menderita? Kenapa pemerintah daerah dan pusat seolah menutup mata  atas kejadian itu?

Ya, semua itu bisa dijawab jika kita terlibat di dalamnya.

Sejak mahasiswa juga sebaiknya sudah punya sikap yang tegas dalam keberpihakannya. Berpihak pada rakyat tertindas atau malah menjadi bagian penindas?

Sekali lagi penyelenggara Kalabahu tidak bisa memenuhi keinginan setiap calon peserta yang mendaftar. Hanya calon peserta yang terpilih diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan yang ditunggu-tunggu ini. Karena cukup banyak calon peserta yang tereliminasi pasca perekrutan.

Selamat berjuang, dan semoga kawan-kawan yang sudah lama menunggu Kalabahu 2021 dari LBH Yogyakarta diterima menjadi peserta. Mulai siapkan diri kawan-kawan, tidak ada salahnya pula kembali memahami HAM, dan mencicil memahami apa sebenarnya GBHS.

Penulis: Asmara Dewo, bersua di dunia maya melalui akun IG @asmaradewo

Baca juga:

Jangan Bersedih Tidak Wisuda, Bersedihlah karena Masih Banyak yang Tidak Kuliah

Bukan Kualitas Guru Rendah, tapi Sistem Pendidikan yang Salah

Pendidikan sebagai Pondasi Suatu Peradaban (Refleksi Memperingati Hardiknas 2 Mei 2020)

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Penganiayaan terhadap Steven Menambah Kasus Rasisme Warga Papua oleh Aparat Keamanan

Asmarainjogja.id-Penganiayaan yang dilakukan oleh dua anggota Polisi Militer Angkatan Udar…