Home Uncategorized Opini Reaksi Paman Sam Melihat Negeri Panda Melompat Tinggi

Reaksi Paman Sam Melihat Negeri Panda Melompat Tinggi

16 min read
0
0
41
Ilustrasi | PHOTOFEST, sourch The Hollywood Reporter
Ilustrasi | PHOTOFEST, sourch The Hollywood Reporter

Asmarainjogja.id-Akhir-akhir ini, Amerika Serikat (AS) merasa tersaingi dengan China. Presiden AS Joe Biden yang beberapa pekan lalu berkeliling Eropa menghimpun kekuatan dengan negara seukut untuk membentengi pengaruh China di tingakatan global.

Laporan World Bank, sejak 1978, China mengalami rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 10% per tahun. Lebih 800 juta  jiwa telah diangkat dari kemiskinan. Warga China saat ini berpenghasilan menengah ke atas. Saat pemulihan global 2021 karena dampak pandemi Covid-19, ekonomi china bisa tumbuh 8,5%, mengalahkan AS yang hanya 6,8%.

Sebuah survei oleh Institut Studi Asia tenggara Singapura menemukan bahwa negara-negara Asia Tenggara melihat China sebagai kekuatan ekonomi paling berpengaruh sebesar 76,3% dan kekuatan politik dan strategis paling berpengaruh di kawasan sebesar 49,1%.

Tingkatan global, China adalah negara berpengaruh kedua sebesar 20% setelah AS sebesar 62%. Survei itu dilakukan antara Maret dan April 2021 oleh German Marshall Fund dari AS Bertelsmann Fondation yang mensurvei 11 negara: Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Polandia, Spanyol, Swedia, Turki, Inggris Raya, dan AS, sebagaimana laporan The Diplomat.

Ekonomi China memang bertumbuh pesat sejak empat dekade. Di mana Negeri Panda itu memulai ekonomi terbuka, evaluasi dari kesulitan ekonomi sebelumnya.

Sejak itu China terus menggapai “The Chinese Dream”, perlahan impian itu mulai tampak di ujung mata. Terbukti saat One Belt One Road, kini menjadi Belt and Road Initiative (BRI) yang digagas pada 2013 oleh Presiden China Xi Jinping.

BRI terinspirasi jalur sutra kuno, menjelma menjadi proyek pembangunan infrastruktur darat, laut, dan udara, yang menghubungan China dengan Asia, Eropa, dan Afrika, untuk menumbuhkan perekonomian besar-besaran antara negara yang saling bekerjasama.

AS tak ingin ada matahari dua, China dianggap rival kuat. AS sejak KTT G7 sampai KTT NATO, kerap menyentil China. Dan menekankan bahwa AS tetap kuat dan bisa diandalkan oleh negara sekutunya. Menyakinkan persahabatan yang lebih solid untuk memperbaiki citra buruk presiden sebelumnya.

“Amerika Serikat, saya sudah katakan sebelumnya, kami kembali,” kata Joe Bidden. Dia juga berharap agar NATO merapatkan barisan, “Saya pertama berpikir bahwa Uni Eropa adalah entitas yang snagat kuat dan bersemangat, yang banyak berkaitan dengan kemampuan Eropa Barat tidak hanya untuk menangangi masalah ekoominya, tetapi juga memberikan tulang punggung dan dukungan untuk NATO.” tulis Reuters.

Bidden juga mengkampanyekan “Build Back Better for the World” (BW3) sebagai alternatif kerjasama dengan negara berkembang. Tentu saja BW3 adalah alternatif BRI China yang saat ini pembangunannya sudah dirasakan berbagai negara.

Selain itu Bidden juga mengatakan Pemimpin Demokrasi versus Pemimpin Otokrasi.

Kerjasama China

Forbes melaporkan, China sekarang adalah mitra dagang terbesar Afrika, dengan perdagangan Sino-Afrika mencapai $200 miliar per tahun. Menurut McKinsey, lebih dari 10.000 perusahaan milik China saat ini beroperasi di seluruh benua Afrika, dan nilai bisnis China di sana sejak tahun 2005 berjumlah $2 triliun, dengan investasi $300 miliar saat ini di atas meja.

Sejak 2011, China telah menjadi pemain terbesar dalam ledakan infrastruktur Afrika, mengklaim pangsa 40% yang terus meningkat. Sementara itu, saham pemain lain turun drastis: Eropa turun dari 44% menjadi 34%, sementara kehadiran kontraktor AS turun dari 24% menjadi hanya 6,7%.

Beberapa pekan lalu, Nigeria baru saja mengoperasikan kereta api modern yang dibuat oleh China. Dana yang dikeluarkan dalam proyek kereta api cepat itu mencapai $1,5 miliar.

Mengutip globalvoice.org, investasi China di Negeria sangat besar. Laporan tahun 2019 oleh Kedutaan China, Nigeria menjadi tuan rumah 70 Konstruksi, 40 investasi, dan 30 perusahaan pedagangan China. Pada 2018 saja, perusahaan China mendapatkan 175 kontrak kontruksi di Negeria, senilai $17 miliar dolar USD, dengan 11.088 pekerja China bekerja di proyek ini.

Profesor sejarah Tat’yana L. Deych, telah menggambarkan investasi China di Afrika “sebagai strategi yang saling menguntungkan.” Survei Deych mengungkapkan persepsi positif yang luas tentang investasi China yang “Secara meyakinkan menyangkal teori ‘neo-kolonialisme’ China.”

Saat ini China juga membangun gedung pencakar langit 400 meter yang tertinggi di Afrika, terletak di Ibu Kota Administrasi baru Mesir. The Iconic Tower adalah bangunan komposit bertingkat yang mengintegrasikan kantor, hotel, bisnis, tamasya, dan funsgi lainnya. Total luas area bangunan sekitar 505 ribu meter per segi, mencakup 20 gedung bertingkat baru dan beberapa proyek kota lainnya. Setidaknya proyek itu memakan biaya 3 miliar dolar.

Tak mau kalah, negara-negara kaya di KTT G7 akan meluncurkan Inisiatif Hijau Bersih/Clean Green Initiative (CGI) sebagai tandingan BRI. China juga sadar, harus berbenah diri, setiap proyeknya harus ramah lingkungan, dan mulai mengurangi dampak pemanasan global.

Financial Times melaporkan bahwa China tidak mendanai lagi proyek-proyek dengan polusi dan konsumsi energi tinggi, seperti penambangan batubara dan pembangkit listrik tenaga batu bara. Hal itu diketahi proposal Banglades yang ditolak China untuk mendanai proyek batubara.

China selain menjadi pembahasan di KTT G7, pada KTT NATO juga kalah hebohnya. “Ambisi yang dinyatakan China dan perilaku tegas menghadirkan tantangan sistematik terhadap tatanan internasional berbasis aturan dan area yang relevan dengan keamanan aliansi,” tulis Reuters

Namun tampaknya ada dilema negara yang telah menjalin kerjasama dengan China. Misalnya Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan ada risiko dan imbalan dengan Beijing. “Saya tidak berpikir siapa pun di sekitar meja ingin turun ke Perang Dingin baru dengan China,” katanya.

Negara Kerajaan itu lebih melihat peluang daripada peperangan menyikapi perang dingin antara AS dan China.

Mengingat ada hubungan kerjasama antara Inggris dan China dalam pembangunan taman percontohan industri manufaktur di Lianong . Dan itu menawarkan peluang bisnis kepada perusahaan-perusahaan Inggris dan menyambut lebih banyak investasi.  Selain itu, tahun lalu perusahaan teknologi China Huawei berperan memasok infrastruktur 5G negara tersebut.

Negara-negara Uni Eropa ingin menkankan apa yang mereka katakan sebagai pandangan yang lebih bernuansa. “Pendekatan kami adalah kami perlu bekerjasama dengan China dalam isu-isu seperti perubahan iklim, bersaing di bidang-bidang seperti rantai pasokan global dan menandingi rekor China di bidang-bidang seperti Hak Asasi Manusia,” kata seorang diplomat Eropa, mengutip dari Financial Times.

Inggris yang sudah keluar dari Uni Eropa, tentu tak terlalu serius menanggapi ‘perang dingin’ tersebut. Inggris tentu lebih tertarik membangun ekonomi mereka di Trans-Pacific Partnership (TPP).

Begitu juga antara China dan Jerman, mengutip CGTN, Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan China adalah mitra dagang terbesar Jerman selama lima tahun berturut-turut, menurut Kantor Statistik Jerman (Destatis), dan perdagangan impor dan ekspor Jerman meningkat banyak pada Februari.

Salah satu kerjasama mereka penjualan mobil Jerman. Pada 2019, DW melaporkan produsen mobil Jerman menjual lebih banyak kendaraaan di China daripada di dalam negeri.

Sama yang terjadi dengan Italia, The Guardian menulis, pada Mei 2019, di bawah pengaruh gerakan Parpol Bintang Lima (Vive Star), Italia bergabung di proyek BRI. Sehingga melemparkan Italia ke garis depan pertempuan Beijing untuk kekuatan dan pengaruh global.

Italia kurun waktu 2000 dan 2019 telah menjadi penerima manfaat terbesar ketiga di Eropa dari investasi China, menerima total €15.9bn versus €50bn di Inggris, €22.7bn di Jerman dan €14.4bn di Prancis.

Pendiri Five Star, Beppe Grillo, bahkan bertemu dengan Duta Besar China di Roma pada saat Perdana Menteri Italia Mario Draghi tiba di G7.

Antara China dan Perancis juga bekerjasama dalam ekspor-impor. Selain itu bermitra dalam proyek Perusahaan Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Thaisan di Provinsi Guangdong, China.

Reaksi Paman Sam tak sampai di situ, perjalanan Eropa Bidden juga ‘memprovokasi’ Rusia. “Rusia berada di tempat yang sangat-sangat sulit saat ini. Mereka sedang diperas oleh China,” seperti yang dikutip dari Reuters.

Padahal kedua soulmate itu berupaya memajukan negaranya denga bekerjasama lebih luas lagi, misalnya saja Mei lalu, Vladimir Putin dan dan Xi Jinping meresmikan pembangkit listrik tenaga nuklir di Tianwan dan Xudapu.

“Rusia memiliki kepercayaan bekerjasama dengan China untuk memajukan kontruksi proyek dengan lancar dan aman,” Putin menambahkan, “hubungan Rusia-China mencapai tingkat terbaiknya dalam sejarah. Konsensus yang dicapai antara China-Rusia telah terlaksana dengan baik, dan kerjasama yang semakin meluas.”

Belajar dari pengalaman, China juga sudah membuat Undang-Undang Anti-Sanksi Asing sebagai dasar hukum yang komprensif untuk memblokir sanksi ilegal dari barat. Sebagaimana diketahui pemerintas AS telah menjatuhkan semakin banyak sanksi terhadap entitas China, seperti perusahaan teknologi tinggi Huawei dan ZTE atas apa yang disebut risiko kemananan nasional, dan memberikan sanksi kepada sejumlah pejabat senior China.

Dengan adanya undang-undang tersebut, “China dapat membuat sanksi timbal balik atau mengambil tindakan balasan yang lebih keras, misalnya membatasi masuk, membekukan aset bank, atau menjatuhkan sanksi pada individu atau entitas terkait,” ujar Tiang Feilong, seorang ahli hukum di Universitas Beihang di Beijing kepada Global Times.

Dianggap Berbahaya

Untuk meredam upaya ‘bahaya China’ pada anggota NATO, Sekretaris Jenderal NATO Jenss Stoltenberg mengatakan, “Menimbulkan tantangan bagi keamananan kami,” tetapi “China bukan musuh kami.”

Kemajuan China di berbagai sektor, khususnya militer menjadi fokus utama AS untuk menambahkan anggaran pertahanannya. Wakil Menteri Pertahanan Kathleen Hicks mengatakan anggaran departemennya sebesar $715 miliar pada 2022 untuk menghadapi China.

“[Republik Rakyat China] semakin kompetitif, dan memiliki kemampuan secara unik untuk menantang sistem internasional dan kepentingan Amerika di dalamnya,” katanya, seperti dilansir dari rt.com

Menanggapi hal tersebut para diplomat China berpendapat bahwa anggaran pertahanan Beijing mencapai 1,3% dari PDB negara, yang berada di bawah pedoman NATO yang mengaharuskan negara-negara anggota yang menghabiskan anggaran pertahanan setidaknya 2% dari PDB. Xinhua mengungkapan PDB China pada 2020 sekitar $15,42 triliun.

Tak bisa dipungkri Negeri Panda saat ini berada di atas angin. Sebuah kekonyolan jika negara-negara Eropa, terlebih lagi Asia, mencoba ‘konfrontasi’ dengan China. Karena sekarang adalah era tumbuh dan berkembang bersama, menciptakan kedamaian antar manusia, dan saling membantu antar negara. [Asmara Dewo]

Baca juga:

‘Indonesia Maju’, Demokrasi Lesu

Kolonialisme Israel dan Dana Militernya

Di Balik Bisnis Mobil Listrik

Hari Kesehatan Sedunia: Polusi Udara dan Kematian

 

 

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Penganiayaan terhadap Steven Menambah Kasus Rasisme Warga Papua oleh Aparat Keamanan

Asmarainjogja.id-Penganiayaan yang dilakukan oleh dua anggota Polisi Militer Angkatan Udar…