Home Travel Backpackeran saat Honeymoon dari Pulau Samosir ke Berastagi

Backpackeran saat Honeymoon dari Pulau Samosir ke Berastagi

19 min read
0
0
84
Lau Kawar dari atas Penatapan | Foto Asmarainjogja.id, Rizka Wahyuni
Lau Kawar dari atas Penatapan | Foto Asmarainjogja.id, Rizka Wahyuni

Asmarainjogja.id-Sehari sebelum keberangkatan ke Berastagi, aku sempat komunikasi dengan Bang Halomoan Siahaan. Sang Petualang yang tinggal di Kota Medan itu memang jadi refrensi saat jalan-jalan di Toba dan sekitarnya.

“Bus apa, Bang, dari Samosir ke Berastagi?” tanyaku melalui via handphone (HP).

“Naik Sampri lah orang abang kalau ke Berastagi.” jawabnya.

“Naiknya dari mana?”

“Naiknya itu aku nggak tau, Bang, coba tanya aja nanti di sana. Tapi kalau nggak ada orang abang cari busnya di P. Siantar lah,” jelas Moan.

Setelah chek out dari penginapan kami bertanya ke bos itu.

“Kalau Abang mau ke Berastagi naik Sampri, tapi harus ke simpang dulu cari angkot jurusan ke Pangururan. Nah, loket Bus Sampri cuma ada di Pangururan,” lanjut dia lagi, “Tau Bus Sampri, kan? Seperti bus sepertiga gitu.”

“Iya, Pak, tau kami udah lihat juga di Google,” jawabku, carier 85 liter sudah di punggung. Kami bersiap-siap meninggalkan penginapan seharga Rp150.000 yang tergolong murah itu dengan standar dompet ala backpacker.

Ke simpang tentu kami tidak berjalan lagi, mengingat matahari sudah terik, dan rasa letih dua hari lalu berjalan sejauh 5 Kilometer masih terasa. Kami naik ojek setelah ditawar-tawar menjadi Rp25.000 per orang.

Sesampai di simpang kami harus menunggu lagi angkot sekitar satu jam. Dari simpang Tuktuk sampai ke Pangururan penumpangnya hanya empat orang, kami berdua dan dua lagi siswi SMA yang hampir tiap menit membersihkan wajahnya dengan tisu.

Musik disko berputar keras mengiringi perjalanan. Kami sudah kecapekan, hanya beberapa menit saja menikmati pemandangan, kami terlelap tidur meskipun musik tetap menyala. Tak terasa sudah sampai saja di loket Sampri (Samosir Pribumi) Pangururan.

“Bang-Bang, udah sampai!” sopir membangunkan.

“Oh, iya-iya,” sontak aku kaget, lalu mengeluarkan uang Rp20.000 untuk ongkos dua orang.

Di sana kami langsung disamput oleh petugas loket, dan kami langsung menjumpai ke penjualan tiketnya.

“Tujuan kemana?”

“Ke Berastagi.”

Sambil menulis tujuan ke Berastagi, “130 Ribu untuk dua orang,” kata penjual tiket.

Cukup lama keberangkatannya, kami duduk di sana sekitar 45 menit. Setelah itu tibalah bus kami, kami pikir bus sepertiga yang dibilang bos penginapan, eh, ternyata tidak, Bus mini L 300. Walaupun kelihatan ringkih dari covernya, ternyata bus mini ini mesinnya sehat, apa lagi Pak Sopirnya lihai mengendarainya.

Bisa cek di Google Maps bagaimana rute di perbukitan tepian Danau Toba. Kalau sopir yang belum profesional, mending tidak usah naik saja, deh, karena sangat berbahaya, tikungan tajam dan menukik.

Dari bus mini kami menatap keindahan Danau Toba, dan betapa eloknya lembah dan perbukitan yang mengiringi perjalanan. Seperti biasa, Rizka mendokumentasikan petualannya melalui video HP. Aku lebih memerhatikan Pak Sopir yang begitu lihai dan santai sambil menikmati rokok mild.

Aku sempat berpikir, kalau remnya oblong merinding juga membayangkannya, karena jurangnya tinggi banget. Atau di tingkungan tajam ada kendaraan dari arah berlawanan, mengingat jalan di sana tidak begitu lebar.

Mini bus ini kecepatannya stabil dan tidak ugal-ugalan. Tanpa terasa kami berangkat dari Pangururan sekitar pukul 14.00 WIB sampai di Merek tempat istirahat Bus Sampri pukul 16.30 WIB. Sopir dan penumpang makan di sana. Rumah makan utama tersedia olahan B2, lomok-lomok, sementara warung di sebelahnya bertuliskan RM Muslim.

Kami makan di warung itu, makan dengan lauk gembung balado dan sayur yang seporsinya Rp20.000. Rasanya enak, porsinya banyak banget dengan nampan yang cukup besar. Setelah istirahat dan makan rute Sampri Panguruan-Medan dilanjutkan. Udara mulai terasa sejuk, hawa dingin menyapa.

Mejuah-juah Berastagi

Penampakan Gunung Sinabung | Foto asmarainjogja.id, Rizka Wahyuni
Penampakan Gunung Sinabung | Foto asmarainjogja.id, Rizka Wahyuni

Menjelang maghrib tiba di Kota Berastagi, kota sejuk yang dikenal dengan kesuburan lahannya, dan  Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak. Tanah surga ini menghasilkan buah-buahan yang segar, manis, dan tentu saja enak. Tak heran jeruk Berastagi begitu terkenal di nasional. Selain itu sayur-sayuran hasil alam ini juga sampai ke luar Sumatera, bahkan ada yang diekspor. So, wajar jika sepanjang traveling kita akan disuguhi hamparan kebun sayur.

Tidak ingin terulang kedua kalinya ketika mencari penginapan di Pulau Samosir, kali ini lebih cepat memilih. Kami pun menemukan penginapan melalui aplikasi, harganya murah hanya Rp180.000, menuju ke sana kami berjalan dari Tugu Perjuangan. Tidak begitu jauh, hanya sekitar 1,5 Kilometer.

Sangat jarang anjing berkeliaran di jalan seperti di Pulau Samosir, jadi Rizka berjalan lebih santai. Dia memang penakut dengan hewan yang menggunggung itu. Padahal anjing adalah hewan peliharaan yang lucu dan pintar.

Tak terasa berjalan tibalah kami di penginapan, kesannya memang elit dari luar bertingkat tinggi, hanya saja kamarnya kurang ventilasi. Terlebih lagi kamar mandinya, sama sekali tidak ada ventilasi atau kipas pengatur udara. Terbayangkan betapa baunya kamar mandi yang tidak ada pertukaran udaranya.

Sayang jika malam begitu saja terlewatkan di Berastagi. Kami diajak bersantap kuliner oleh sepupu Rizka, Sari Lubis dan suaminya berserta dua orang anak mereka yang begitu lucu. Di tengah kota Berastagi kami mencicipi sate Padang dan mi rebus. Rasanya enak dan harganya cukup murah. Obrolan hangat itu terpaksa berhenti karena malam kian larut, dan waktunya kami untuk istirahat menyambut petualangan berikutnya.

Rumah Adat Karo

Rumah adat Lingga | Foto asmarainjogja.id, Asmara Dewo
Rumah adat Lingga | Foto asmarainjogja.id, Asmara Dewo

Rabu, 15 Maret 2022 menjadi catatan petualangan bagi kami, khususnya Rizka. Kali ini kami berwisata budaya terlebih dahulu. Menuju rumah adat Lingga memang agak jauh dari Kota Berastagi, berkisar 16 Kilometer. Meski begitu infrastruktur sampai di sana bagus. Kami ke objek wisata budaya ini mengendarai motor yang dipinjami keluarga Rizka di Berastagi tersebut. Seperti yang sudah disampaik di awal, di Tanah Karo ini memang surganya sayur, maka sepanjang jalan selalu ada perkebunan sayur.

Bermotor selalu lebih asyik saat bertualang, selain lebih gesit, juga begitu puas menikmati perjalanan. Namun akan jadi persoalan lain jika tiba-tiba hujan deras menerpa. Lebih kurang 30 menit kami tiba di sana, sebuah kampung yang cukup padat penduduknya. Rumah Adat Lingga berada di Desa Lingga, Kec. Simpang Empat, Kab. Tanah Karo, menuju ke sana juga tidak sulit, ada di Google Map, tinggal ikuti saja rutenya.

Tiba di sana kami begitu takjub, rumah kayu itu begitu eksotis, namun tampaknya butuh perhatian khusus lagi agar tetap lestari. Karena sangat disayangkan jika peninggalan sejarah ini lapuk dimakan zaman. Untuk menjaga situs-situs sejarah, kita bisa belajar di Yogyakarta. Situs sejarah di sana dilestarikan oleh Pemda, maka tak heran jika wisata sejarah atau budaya tetap terjaga originalnya, jika memang terpaksa dipugar, maka dilakukan pemugaran kembali.

Ada dua rumah yang masih berdiri kokoh, tapi hanya satu yang dihuni. Sedangkan di rumah kosong ada warga yang sibuk sedang membuat keranjang dari bambu. Aku mendekai kedua warga itu yang sedang sibuk membuat keranjang.

“Permisi… lagi sibuk, Pak?”

“Buat keranjang ini,” sahut salah satu di antara bapak itu.

Tampaknya warga di sini tidak begitu banyak basa-basi, apa karena aku terlalu kaku atau bagaimana. Aku mencari celah pembicaraan agar bisa mengobrol terus.

Sambil memegang kaki rumah yang kokoh itu aku berujar, “Wah, rumah ini kokoh sekali. Kelihatan dari kayunya. Oh, ya, Pak ini kayu apa, ya?”

“Makanya umur rumahnya sampai ratusan tahun. Dibuat dari kayu yang sangat keraslah,” jawab beliau.

Mungkin beliau tidak begitu tahu jenis kayu apa jadi bahan bangunan rumah kuno ini. Setelah itu aku kembali ke rumah utama. Kami hanya berfoto-foto saja di depannya. Memang di dalam rumah seperti ada kesibukan, tapi kami tidak masuk. Aku pikir suatu hari nanti ke sini lagi membawa teman yang bisa mengulik informasi ini lebih dalam.

Lau Kawar Kolam Renangnya Pendaki Gunung

Kami berpose berlatar Lau Kawar | Foto dokumentasi pribadi
Kami berpose berlatar Lau Kawar | Foto dokumentasi pribadi

Kuda besi ini meluncur kencang menuju objek wisata Lau Kawar. Dulu waktu aku masih kuliah sering mandi di sini dengan Halomoan Siahaan dan Joharry Dasdoh Saragih sebelum naik gunung. Kami tidak pernah bermain ke sana lagi sejak Sinabung meletus.

Menuju ke danau tidak akan membuat kita bosan, karena mata dimanjakan dengan pemandangan ciamik. Sayuran tumbuh subur menghijau di tepi-tepi jalan. Dari kejauahn tampak Sinabung begitu perkasa, sebagian paku bumi itu terlihat kering, sebagian lagi hutan hijau tumbuh berkerumun.

Awalnya kami khawatir Lau Kawar tutup, tapi melihat banyaknya kendaraan yang tampak baru pulang camping, kami menjadi lega. Hanya saja naik ke puncak yang belum boleh, kalau di kaki gunung saja, seperti di Lau Kawar tentu boleh.

Sekarang di sana sedang ada pembangunan gapura sebagai pintu masuk ke kawasan. Nah, saat kami masuk ada Bocil (bocah cilik) yang meminta uang masuk, kami sempat meminta tiketnya, tapi katanya tidak ada. Bocil itu tidak sendirian, dari kejauhan ada seorang lelaki dewasa yang memantau duduk di atas motor.

“Berapa per orang?” tanyaku.

“10 Ribu per orang, Bang.” jawab si Bocil.

Rizka menjulurkan uang dua puluh ribu.

“Sekarang ada wisata apa aja di sini?” tanyaku lagi.

“Ada penatapan dan villa.”

Oh, ternyata ada yang baru di sekitar Lau Kawar.

Lau Kawar tidak banyak berubah, airnya masih hijau dan tampak begitu tenang. Hal yang berubah seperti sekarang seperti ada boat yang bisa disewa ke tengah danau. Biasanya jasa seperti itu dipakai oleh para calon pengantin yang akan foto prewedding. Foto itu nantinya berlatar danau dan Gunung Sinabung. Wisss… tentu sangat keren, ya?

Tempat perkemahan yang biasa digunakan para pendaki kini semak dan tampak tidak terurus. Warung sebenarnya banyak, tapi karena kami datang pada weekday, hanya satu warung yang buka, itu pun dengan menu seadanya. Sepertinya kalau berkunjung ke Lau kawar pada akhir pekan tentu ramai juga. Saat kami di sana tidak begitu banyak pengunjung, namun suara oborolan para pengunjung menyalakan keheningan alam.

Setelah mengisi perut, kami naik lagi ke atas dengan motor. Ternyata ada kafe yang dibangun lebih instagramable, gaul ala anak milenial kekinian. Kami hanya mengambil foto saja setelah itu mengikuti jalan menuju villa, karena penasaran seperti apa bentuknya.

Sampai di depan villa, kami tidak boleh masuk, untuk masuk villa VVIP itu sepertinya meski di-booking terlebih dahulu. Dari sela-sela pagar kami melihat villa itu menghadap ke danau dengan halaman luas dan pepohonan pinus yang begitu rindang. Air danau di sana lebih jernih daripada air yang ada di tempat camping. Agak kecewa memang tidak bisa melihat area villa seluruhnya.

Tak patah arang, kami menelusuri hal-hal baru di Lau Kawar, seperti yang disampaikan si Bocil tadi, Penatapan. Jalan menuju ke sana lebih ekstrem, bebatuan cadas menghadang pengunjung. Apalagi tanah di sana agak licin dan beberapa titik tergenang air hujan, harus ekstra hati-hati jika menuju ke Penatapan.

Sebenarnya saat aku mendaki gunung dengan teman-teman kuliah dulu hal biasa melihat pemandangan indah Lau Kawar dari atas. Tapi karena mungkin sembilan tahun tidak ke Sinabung lagi, melihat Lau Kawar dari agak ketinggian itu hal yang menakjubkan. Sangat indah. Ini tidak berlebihan, siapapun yang pernah mendaki Sinabung, pastinya sepakat dengan pernyataan itu.

Ada banyak gajebo di tepian itu, pengelola juga membuat gardu pandang dari kayu untuk tempat berfoto. Memang berfoto di atas gardu itu keren sekali. Hampir keseluruhan Lau Kawar terlihat dari atas.

Penulis: Asmara Dewo, petualang yang mengabadikan perjalanannya.

Baca juga:

Cerita Seru Honeymoon Boru Nasution Pertama Kali ke Danau Toba

 

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Travel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Fenomena Klitih dan Hobi Bergelut di Yogyakarta

Asmarainjogja.id-Fenomena klitih atau biasa disebut kejahatan jalanan membuat warga Yogyak…