Home Travel Serunya Mendaki Gunung Padang dan Misteri Kuburan Siti Nurbaya

Serunya Mendaki Gunung Padang dan Misteri Kuburan Siti Nurbaya

10 min read
0
0
53
View laut dari puncak Gunung Padang
View laut dari puncak Gunung Padang | Foto asmarainjogja.id, Asmara Dewo

Asmarainjogja.id-Kota Padang menyimpan banyak wisata yang belum begitu populer oleh pengunjung luar. Salah satunya adalah Gunung Padang. Gunung ini bukan seperti Gunung Merapi atau Gunung Singgalang, yang tingginya mencapai 2000-an MDPL. Tinggi Gunung Padang hanya 885 MDPL, meski begitu mendaki ke puncak perlu juga menyiapkan stamina yang kuat.

Biasanya gunung yang berada di Desa Batang Arau, Kec. Padang Selatan, Kota Padang ini dikunjungi oleh warga sambil berolahraga. Tampaknya mereka sambil berolahraga juga menikmati pemandangan indah dari puncak.

Kami datang ke sana sekitar pukul sembilan. Tiket masuknya Rp10.000 per orang yang dibayar melalui Brizzi. Menuju ke puncak sebenarnya ada dua jalur, satu jalur utama yang biasa digunakan oleh wisatawan yang lebih aman. Sedangkan jalur yang satu lagi belum begitu aman, karena jalannya belum dicor semen.

Jalur kedua ini lebih cepat, hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Kalau mau dari jalur ini ketika masuk gapura ke sebelah kiri jalan yang ada warungnya. Ikuti jalur itu sampai ke puncak, karena jalur itu tidak bercabang. Bahkan di sana ada rumah, tidak usah khawatir jika tersesat.

Sebelumnya kami tidak tahu, jadi kami naik dari jalur utama. Dari jalur ini memang dibuat tangga yang sudah dicor semen dari bawah sampai ke atas. Jadi tidak akan begitu letih sampai di atas. Selain itu yang tak kalah penting adalah pemandangan dari sana begitu indah. Rasa letih terbayar karena di sisi kanan sejauh mata memandang terhampar Pantai Padang yang begitu menawan.

Meriam yang berada di kaki Gunung Padang | Foto asmarainjogja.id, Asmara Dewo
Meriam yang berada di kaki Gunung Padang | Foto asmarainjogja.id, Asmara Dewo

Oh, iya, Gunung Padang ini memang begitu banyak menyimpan sejarah dan misteri yang belum begitu terkuak informasinya. Misalnya saja kami menemukan sebuah meriam atau benteng yang dibangun pada tahun 1942-1945 oleh Jepang. Bentuk benteng itu persegi empat, poligon, setengah lingkaran. Meriam itu mengarah ke laut. Sayangnya tidak begitu banyak informasi yang bisa didapatkan dari peninggalan sejarah tersebut.

Kami melanjutkan pendakian, dari atas kapal-kapal kecil nelayan terlihat berseliweran, kata Rizka itu kapal nelayan untuk menangkap ikan. Dari atas Samudera Hindia itu tampak begitu tenang, tidak terlihat ombak yang bergelombang. Semakin tinggi mendaki, semakin kecil Kota Padang terlihat.

Sesekali Rizka berhenti, napasnya ngos-ngosan. Saya menunggunya di atas yang tak begitu jauh darinya. Suasana di atas begitu damai. Kicauan burung bersahutan, suara jangkrik tak mau kalah, dan tentu saja penguasa Gunung Padang menguaaa keras, suara monyet yang mendominasi hutan kecil itu.

Kami menjumpai petugas kebersihan yang sedang menyapu anak tangga. Tampaknya wisata ini memang betul-betul akan dijadikan magnet wisatawan. Namun memang perlu berbenah di sana-sini.

Setelah istirahat sebentar, menenggak air mineral beberapa kali tegukan, kami melanjutkan pendakian. Makin ke atas semakin curam, pendakian ini semakin vertikal. Harus lebih hati-hati meskipun terlihat gampang.

Lempengan batu pada dinding tembok tampaknya sudah dibentuk sekian rupa. Mungkin saja pada pembuatan jalan dulu sudah dipotong untuk membentuk jalan. Hal itu terlihat pada jalan persimpangn menuju kuburan yang diduga Siti Nurbaya.

“Iya, di dalam gua itu kuburan Siti Nurbaya,” terang petugas kebersihan.

“Jauh nggak ke dalam, Bang?” tanya Rizka.

“Tidak jauh, Kak.”

Baguslah tidak jauh lagi menuju kuburan, hanya saja jalannya agak ngeri. Seperti masuk ke gua sungguhan di film-film mencari harta karun.

Nah, terkait apakah kuburan Siti Nurbaya itu benar atau tidak masih menjadi misteri sampai saat ini. Tidak ada pembuktian yang jelas bahwa kuburan itu merupakan tokoh novel Siti Nurbaya yang juga difilmkan. Menuju ke kuburan harus melewati bebatuan dan anak tangga yang curam, karena kuburan itu berada di sudut gunung yang menghadap ke jurang.

Masih menjadi misteri apakah kuburan Siti Nurbaya di Gunung Padang
Masih menjadi misteri apakah kuburan Siti Nurbaya di Gunung Padang | Foto asmarainjogja.id, Asmara Dewo

Kuburan itu seperti kuburan biasa yang berada di Taman Pemakaman Umum (TPU). Kuburan bercat putih dan berbalut kain hijau itu memang menjadi penasaran bagi setiap pengunjung, karena tidak begitu jelas  jasad siapa sebenarnya yang dimakamkan di Gunung Padang tersebut?

Kami tidak begitu lama di sana, karena udaranya agak lembab dan mohon maaf sebelumnya, banyak kotoran (mungkin kotoran kelelawar) yang agak bau. Lalu kami kembali naik tangga lagi menuju puncak. Sebelum di puncak, kami kembali beristirahat di gajebo, menenggak air mineral dan kembali mengatur napas. Saat itu memang cukup ramai pengunjung yang berdatangan, mereka membawa buah hatinya. Saya pikir ini adalah salah satu objek wisata yang ramah terhadap anak-anak, hanya saja orangtua tetap selalu mengawasi anaknya.

Kami kembali melangkahkan kaki melampiaskan rasa penasaran seperti apa di atas Gunung Padang.

Udara di atas semakin sejuk, pepohonan rindang menjulang tinggi. Pada ranting-rantingnya bergelantungan monyet menyambut pengunjung. Kawanan monyet itu terbilang “ramah”, meskipun tidak bisa didekati atau disentuh.

Pemilik warung di sana mengeluh, “Nakal monyetnya, toples ibu dibawanya ke atas pohon. Setelah habis jajannya dilempar lagi toplesnya ke bawah.”

Saya sebenarnya mau tertawa kencang, tetapi tidak mungkin, nanti dianggap tidak sopan. Kera-kera itu kerap mendekati lubang sampah, mungkin mereka tahu di sanalah tempat paling banyak sisa makanan dibuang.

Pemandangan laut dan Kota Padang
Pemandangan laut dan Kota Padang | Foto asmarainjogja.id, Asmara Dewo

Pemandangan di atas sungguh sangat menakjubkan, keren banget. Terlihat pula beberapa pulau yang memesona. Kata Rizka itu adalah Pulau Sembilan. Dulu waktu dia masih SMA dengan teman-temannya pernah menyebrang ke Pulau Pisang. Sebenarnya dengan berjalan kaki bisa ke pulau, tapi kembalinya sebelum sore (sekitar pukul 16:00 WIB), karena jika tidak air pantai akan pasang.

Kapal-kapal tangker juga terlihat dari sana, tapi tidak tahu apa muatan kapal tangker tersebut. Boleh jadi itu adalah kapal yang juga menepi di Pelabuhan Teluk Bayur.

Gunung Padang ini tutupnya pukul 18.00 WIB, jadi kita juga bisa melihat langit senja. Tentu saja kemerlipan lampu kota menjadi pemandangan indah di sana menyambut malam.

Penulis: Asmara Dewo, suka bertualang dan saat ini sedang menjejaki di bumi nyiur melambai

Baca juga:

Pemandian Wisata Alam Batu Busuak “Obat” Panasnya Kota Padang

Backpackeran saat Honeymoon dari Pulau Samosir ke Berastagi

Cerita Seru Honeymoon Boru Nasution Pertama Kali ke Danau Toba

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Travel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Peringati Hari Sumpah Pemuda, Pemuda dan Mahasiswa Musi Rawas di Yogyakarta Deklarasikan GAMPSY

Asmarainjogja.id-Sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober adalah tonggak s…