Home Uncategorized Opini Mantan Aktivis Jadi “Gelandangan Intelektual”

Mantan Aktivis Jadi “Gelandangan Intelektual”

10 min read
0
1
214
Mantan Aktivis | Asmarainjogja.id/Asmara Dewo
Mantan Aktivis | Asmarainjogja.id/Asmara Dewo

Asmarainjogja.id-Pasca mahasiswa setelah berdinamika di kampus, ia akan menapaki kehidupan yang lebih serius lagi. Aktivis yang dikader bertahun-tahun ini terkadang pada masa transisi kebingungan. Ia gagap beradaptasi di dunia realita. Maklum saja aktivis yang hebat berteori, belum tentu mampu berpraktik.

Alhasil aktivis yang mendaku progresif ini juga semakin menjadi beban di keluarga. Pengangguran menjadi label yang semakin melekat pada personalnya. Memang ia belum diterima di perusahaan, karena perusahaan yang diajukan surat lamarannya memilih kandidat yang dikenal oleh managemen. Hal itu bukan rahasia umum lagi.

Padahal aktivis itu sudah semalam suntuk membuat CV terbaiknya. Mulai menuliskan dari Ketua ini, Koordinator itu, menjadi pemateri ini, menjadi pemateri itu, memimpin ini, memimpin itu, dan lain sebagainya. Pada intinya membaca CV yang ditulis sampai begadang itu keren banget.

Hanya saja perusahaan atau instansi butuh pengalaman konkret, bukan seperti yang dialami si aktivis tadi. Kebanyakan menelan buku, tapi abai bagaimana cara mempraktikkannya.

Waktu terus berjalan, label masih pengangguran di rumah. Mau keluar malu menjumpai adik-adik yang sudah melesat jauh. Bagaimana tidak, jika si aktivis tadi adalah senior yang mengklaim mengkader banyak anggota. Tapi si abang aktivis tidak mampu mengkader dirinya sendiri, dan hasilnya ia menjadi “gelandangan intelektual” di lingkungannya.

Di tengah pergaulan masyarakat, orang-orang juga kesulitan memahami komunikasinya, sebab obrolannya melampaui pengetahuan pada umumnya. Tidak asyik mengobrol dengannya, padahal masyarakat ingin mengobrol hal-hal yang sederhana. Kenapa pupuk mahal? Kenapa perusahaan begitu mudah mem-PHK buruhnya? Kenapa kebutuhan pokok naik? Tapi si abang aktivis tadi menjelaskannya dengan bahasa rumit dan berbelit-belit.

Perlahan tapi pasti mantan aktivis ini pun menyepi dan terombang-ambing dalam segala keruwetan di pikirannya. Karena ingin begini dan ingin begitu, tapi realitanya tidak seperti itu. Dan sistem tidak mendukung apa yang menjadi ideal dalam rasionya. Alhasil ia menjadi ‘gelandangan intelektual’ yang mencari tempat di mana bisa menaungi segala pikirannya.

Sialnya tempat itu hanya fatamorgana.

Kegagalan Organisasi dan Evaluasinya

Ilustrasi kegagalan organisasi dan evaluasinya | Asmarainjogja.id/Asmara Dewo
Ilustrasi kegagalan organisasi dan evaluasinya | Asmarainjogja.id/Asmara Dewo

Harus berani mengatakan bahwa organisasi perlu dievaluasi setelah melahirkan kader seperti itu. Sebab mau bagaimana pun ia adalah kader dari organisasi tersebut. Apalagi jika rerata kader organisasi menghasilkan intelektual gelandangan tadi. Sebaiknya organisasi semacam itu perlu tambahan materi pendidikan dalam membentuk kader yang adaftif dalam setiap zaman.

Organisasi selain memberikan pendidikan di atas, juga membentuk mental yang tidak gengsian. Hal ini bisa dilatih mulai dari kegiatan-kegiatan sederhana, misalnya organisasi punya Ekonomi Mandiri, yang pekerjanya adalah para kader itu sendiri. Hal-hal kecil itu akan memengaruhi mental kader saat dia sudah menjadi pasca di kemudian hari.

Sebagai contoh organisasi membangun kafe. Lalu dibuat managementnya, marketingnya, dan karyawannya. Yang mana semua itu dikelola oleh para kader. Selain untuk melatih mental, kader yang diajak berkolaborasi itu terbiasa bekerja dengan kolektif untuk mendapatkan profit.

Nah, yang paling penting pendidikan yang demikian adalah melatih kader untuk berdaulat melalui individu maupun secara komune. kebiasaan ini akan mengikis watak kader yang masih gemar mengajukan proposal. Bukan melarang mengajukan proposal, tetapi sebaiknya dihindari, dan perkuat kader untuk membangun ekonomi mandiri. Walaupun usaha itu kecil, yang penting berjalan dulu, dan bisa menghasilkan keuntungan.

Kader yang Berdaulat

Kader yang berdaulat | Asmarainjogja.id/Asmara Dewo
Kader yang berdaulat | Asmarainjogja.id/Asmara Dewo

Setelah berdinamika bertahun-tahun di organisasi yang tak hanya berdemo di jalanan, turun ke masyarakat, berdiskusi, dan lain sebagainya, kader harus siap dilepas untuk membangun usahanya secara mandiri. Ini bukan pula mengesampingkan para kader yang yang lebih memilih bekerja di perusahaan, atau menjadi pegawai di instansi pemerintahan. Ini hanya soal pilihan bagaimana survive di tengah ketidakpastian ekonomi negara.

Memang ada kekhawatiran jika kader yang mendaku mantan aktivis progresif tadi malah menjadi kapitalis kecil yang menindas buruh. Sebenarnya inilah ujian sesungguhnya bagaimana segala teori yang ditelan saat berdinamika di organisasi tadi. Apakah betul ia akan menjadi kapitalis penindas atau usaha mandiri tadi hanya sebagai alat kendaraan sementara?

Tentu harapannya ialah si aktivis tetap berdiri teguh pada prinsip menolak segala penindasan yang terjadi di negerinya. Masih terlibat dalam pengadvokasian masyarakat, dan masih bertugas pada organisasi yang pernah melahirkannya. Gunanya adalah agar kader tetap terkontrol dan terjalin hubungan emosional dengan masyarakat yang tertindas.

Terkait usaha mandiri, sekarang ini tidak meski harus mempunyai buruh. Banyak metode lain, teknologi semakin canggih yang membantu kerja-kerja di era digital. Atau kalau mau lebih sederhana adalah dengan membangun mitra, hubungan seperti itu lebih elegant. Karena saling membutuhkan dan menguntungkan, bukan antara si majikan dan tuan, adanya ketimpangan relasi kuasa.

Menjalin Mitra

Ilustrasi menjalin mitra | Asmarainjogja.id/Asmara Dewo
Ilustrasi menjalin mitra | Asmarainjogja.id/Asmara Dewo

Tidak menjadi ‘gelandangan intelektual’ berarti menaikkan organisasi di tengah masyarakat dan kalangan mahasiswa. Artinya organisasi mampu melahirkan kader yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Kader itu bukan hanya galak mengkritik pemerintah atau instansi terkait dalam pengadvokasiannya, tetapi juga jenius dalam kerja konkret di tengah masyarakat.

Kenyang karena pengalaman dan konkret punya usaha mandiri membuat masyarakat lebih percaya daripada aktivis yang cuma mahir beretorika. Masyarakat selain memang harus disadarkan ada sistem yang selama ini membelenggunya, masyarakat juga butuh kerjasama konkret.

Misalnya si aktivis tadi punya toko sayur, petani bisa menjualnya langsung ke toko tanpa harus melalui tengkulak atau pengepul. Hal-hal yang tampak sepele ini sebenarnya sangat berpengaruh pada ekonomi masyarakat kecil. Salah satu persoalan bagi petani adalah hasil panen yang dihargai sangat murah dari tengkulak atau pengepul.

Hal di atas hanya contoh kecil saja, pada intinya para kader yang mungkin tidak cocok bekerja dengan pihak tertentu bisa membangun usaha mandiri. Dan hal yang lebih krusial adalah menghindari aktivis gelandangan di tengah masyarakat. Alih-alih membawa perubahan sebagaimana diharapkan masyarakat, khawatirnya malah jadi beban bagi keluarga, masyarakat, dan negara.

Penulis: Asmara Dewo
Editor: Redaksi

Baca juga:

Potret Predator Seksual di Ruang Pendidikan Kita

Fenomena Klitih dan Hobi Bergelut di Yogyakarta

  • Rocky Gerung VS Presiden Jokowi

    Rocky Gerung Vs Presiden Jokowi

    Asmarainjogja.id-Rocky Gerung kembali menjadi sorotan publik. Hal itu karena Rocky dalam a…
  • Melepaskan Cinta TGB ke Jokowi (Memang Bukan Jodoh)

    Muhammad Zainul Mazdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) | Foto Antara Asmarainjogja.id – Ibarat…
Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *