Home Uncategorized Opini Bagaimana Menghadapi Kasus Penipuan dan Pemerasan VCS?

Bagaimana Menghadapi Kasus Penipuan dan Pemerasan VCS?

9 min read
0
0
3,330
Ilustrasi Korban VCS
Ilustrasi Korban VCS | Didesain oleh Asmarainjogja.id

Asmarainjogja.id-Kasus VCS (video call sex) semakin sering terjadi. Korban  pemerasan VCS ini pun terkadang bukan orang sembarangan. Beberapa korban VCS adalah seorang Kepala Desa perempuan di Bengkulu yang terjadi Februari lalu. Dan setahun sebelumnya, tepatnya Juli 2022 juga menimpa Kepala Desa di NTT. Hal itu juga terjadi pada Camat di Kabupaten Lebong pada November 2020 lalu.

Korban keganasan VCS ini juga pernah menimpa anggota DPRD Sambas pada 2020, dan anggota DPRD Jember pada 2021 lalu. Sedangkan warga biasa juga cukup banyak menjadi korban penipuan dan pemerasan dengan modus VCS.

Video seks mereka tersebar di media sosial, sehingga terjadi perbincangan di masyarakat luas. Dampaknya luar biasa, selain mempengaruhi terhadap karir mereka, tentu saja keluarga besar menanggung malu akibat video seks tersebut. Karena mereka adalah para pemimpin di daerahnya masing-masing, yang tentunya punya tanggung jawab moral atas kelalaian mereka menggunakan aplikasi Whatsapp dan media sosial lainnya.

Hasil profesi penipuan dan pemerasan berkedok VCS ini ternyata tidak main-main. Kepala Unit Kriminal Khusus Satuan Reserse Kriminal Polresta Tangerang Ipda Prasetya Bima Praelja menjelaskan bahwa memang ada spesialis penipuan melalui media sosial. Sebagaimana dalam laporan Detik.com, pelaku melakukan penipuan dan pemerasan dengan mengancam akan menyebarkan VCS. Pengakuan pelaku telah menjerat sebanyak 50 korban, dan meraup keuntungan sebesar Rp 500 juta.

Modus Penipuan dan Pemerasan

Biasanya pelaku mencari korban dengan biodata yang lengkap dan dianggap tajir. Biodata yang lengkap itu memudahkan pelaku untuk mengidentifikasi korban. Siapa korban sebenarnya? Apa pekerjaannya? Seberapa besar pengaruhnya di sosial? Dan siapa saja saudara dan kenalan korban di media sosial? Selanjutnya tentu saja soal materi, karena korban akan diperas, jadi jelas targetnya adalah orang berduit. 

Selanjutnya pelaku bermodus ingin berkenalan. Berkenalan melalui salah nomor atau bertanya sesuatu terhadap korban. Yang pada intinya adalah mencoba untuk terus berkomunikasi dengan korban. Setelah lancar berkomunikasi, pelaku akan menggiring korban ke obrolan porno, sehingga menimbulkan nafsu terhadap korban.

Jadi jika korbannya adalah perempuan, maka yang menghubunginya adalah laki-laki. Biasanya foto sangat ganteng di aplikasi atau media sosial, sehingga membuat lawan jenis tertarik. 

Begitu juga sebaliknya, jika korbannya adalah laki-laki, maka yang menghubunginya adalah perempuan. Biasanya fotonya sangat cantik dan menggemaskan. 

Dalam percakapan yang semakin intim tersebut, suara pelaku (entah itu cowok atau cewek) semakin seksi, sehingga membuat korban nafsunya sampai ke ubun-ubun. Jika korban sudah sampai di tahap itu, pelaku pun menyuruh korban untuk mengarahkan kamera pada bagian organ intim tersebut. 

Nah, pada saat itulah pelaku secara diam-diam merekam VCS tersebut. Maka tak heran video VCS yang tersebar luas itu korban melakukan onani. 

Setelah itu bencana pun terjadi. Rekaman VCS itu diberikan ke korban, disertai pemerasan. Tentu saja saat korban mengetahui VCS tadi direkam pelaku, kiamat seperti di depan mata. Panik, malu, kebingungan, dan tak tahu lagi harus berbuat apa-apa. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan martabatnya adalah dengan menuruti kemauan pelaku, yaitu menebus uang yang diminta. Seberapa besar pun diminta pelaku, korban selalu bersedia menuruti. 

Menjadi Korban Pemerasan

Memang ini adalah aib bagi diri sendiri, maupun keluarga besar di rumah. Malapetaka itu telah menghantam kehidupan korban, maka mau tak mau harus dihadapi. Apapun di depan mata, meski diselesaikan, karena tidak mungkin pula lari dari masalah. Toh, rekaman VCS dalam hitungan detik bisa saja disebarkan oleh pelaku.

Maka jika menjadi korban atas pemerasan tersebut laporkan saja ke pihak Kepolisian, dan sebaiknya didampingi oleh Advokat. Pihak Kepolisian memang sudah sering mendapatkan laporan seperti itu. Beberapa kasus mampu dibongkar dan berhasil menangkap pelaku. Memang malu untuk melaporkannya, tapi itu adalah solusi yang bisa menyelesaikan pemerasan yang dialami korban. 

Tidak ada salahnya pula ke Psikolog untuk memastikan mental selalu terjaga. Karena tentu saja akibat ancaman penyebarluasan VCS membuat korban stres dan frustrasi. 

Nah, jika memang video itu tersebar luas, berikan pemahaman terhadap keluarga inti. Bila korban sudah berkeluarga, selamatkan terlebih dahulu bahtera rumah tangga. Karena mungkin saja pasangan korban tidak kuat menahan malu, sehingga meminta cerai.  

Intinya selamatkan rumah tangga. 

Menghindari Modus Pemerasan VCS

Jika tidak penting untuk menyebutkan biodata di media sosial, maka tak perlu dilakukan. Kecuali profesi memaksa untuk menampilkan nomor handphone dan lain sebagainya. 

Nah, pastikan memiliki aplikasi Getcontact. Aplikasi ini mampu melacak nomor pelaku dengan penamaan. Misalnya ada masuk nomor Whatsapp yang baru, langsung saja lacak di Get Contact, maka akan muncul penamaan yang buruk-buruk pada nomor tersebut. Seperti Jane VCS, Jane Bigo, Jane Michat, Penipu, dan seterusnya. Kalau sudah begitu, sudah dipastikan nomor tersebut patut dicurigai.

Selanjutnya tidak perlu beramah-tamah di media sosial, kecuali memang mengenalnya. Dan jangan menanggapi jika ada nomor yang tak kenal masuk ke Whatsapp, karena itu adalah modus klasik yang sampai saat ini masih jitu.

Jika terus mendapatkan pesan atau telpon seperti itu langsung saja diblokir. Begitu juga di media sosial, jika terus-terusan mengirimkan pesan atau panggilan. Tidak perlu bertenggang rasa dengan orang seperti itu. 

Bagi yang sudah berumah tangga tidak ada salahnya saling mengetahui media sosial masing-masing. Ini memang sebagian orang tidak setuju. Tapi demi meminimalisir penipuan/pemerasan dan lain sebagainya terhadap pasangan, tidak ada salahnya dilakukan.

Toh, bagi pasangan setia tidak akan pernah keberatan jika media sosialnya diperiksa. Pasangan juga paham mana yang perlu diketahui, dan mana yang tidak. 

Penulis: Asmara Dewo, Advokat dan Konsultan Hukum 

Baca juga artikel hukum Asmara Dewo lainnya:

Vonis Mati Ferdy Sambo, Sudah Memenuhi Rasa Keadilan bagi Keluarga Korban?

Kasus UU ITE: Jangan Buru-Buru Lapor Polisi dan Advokat

Potret Predator Seksual di Ruang Pendidikan Kita

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *