Home Uncategorized Opini Menerka Rezim Prabowo-Gibran

Menerka Rezim Prabowo-Gibran

6 min read
0
0
99
Prabowo-Gibran
Prabowo-Gibran | Foto Reuters

Asmarainjogja.id-Berdasarkan hasil quick count (hitung cepat) di berbagai lembaga survei, Prabowo-Gibran memperoleh suara tertinggi dari kompetitornya. Paslon 02 mendapat perolehan suara 57,50 % suara berdasarkan data dari LSI (Lembaga Survei Indonesia). Anis-Muhaimin memperoleh 25,25% suara, sedangkan Ganjar-Mahfud hanya 17,26%. Meskipun ini masih quik count, tetapi euforia kemenangan sudah terlihat di 02.

Sebenarnya kemenangan ini juga tidak mengejutkan. Siapa saja yang agak melek sedikit politik, pasti tahu kemenangan di 02.

Tadi malam, Prabowo-Gibran telah menyampaikan pidato kemenangannya dan mengucapkan terimakasih kepada seluruh pendukungnya. Pada pidato kemenangannya, Prabowo mengatakan akan merangkul Paslon lain yang telah kalah di Pilpres. Hal ini tampaknya seperti membangun persatuan nasional bagi Paslon lain di bawah rezim Prabowo-Gibran.

Pola ini sebenarnya mengingatkan publik pasca Pilpres 2019 lalu, saat rezim Jokowi-Amin membuka pintu lawannya untuk berkoalisi di Indonesia Maju. Prabowo yang saat itu menjadi kompetitor Jokowi diberikan jatah sebagai Menteri Pertahanan. Partai besar yang tetap beroposisi adalah PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan Demokrat.

Maka tak heran pola merangkul lawan digunakan kembali oleh Prabowo pada masa kepemimpinannya nanti. Karena masyarakat tahu salah satu kunci kemenangan Prabowo adalah Jokowi, yang saat ini masih aktif menjadi Presiden RI. Jokowi sukses memenangkan Prabowo-Gibran, tentu saja hal itu dilakukan terutama untuk putranya Gibran menjadi orang nomor dua di Indonesia. Sebagai penerus kekuasaan Jokowi di kemudian hari.

Menjadi pertanyaan publik adalah lalu siapa yang akan tetap menjadi oposisi? Apakah PDI-P bersedia berkoalisi dengan Gerindra? Mengingat secara personal tidak ada permasalahan serius antara Prabowo dan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarno Putri. Megawati hanya kesal dengan Jokowi. Jadi mungkin saja PDI-P bergabung di rezim Prabowo-Gibran.

Atau yang menarik adalah PDI-P menyatakan sikap berada di luar kabinet Prabowo-Gibran. Hal itu tentu sangat bagus bagi perpolitikan Indonesia, karena rezim harus ada oposisi yang kuat. Yang selalu membayangi rezim berkuasa.

PKS sendiri tampaknya akan selalu berada di luar kabinet rezim. Mengingat partai yang satu ini partai yang konsisten, tidak seperti partai lainnya yang mengerubungi sang pemenang. Menjadi kutu loncat ke sana-sini demi kursi jabatan.

Perlawanan ke Rezim Prabowo-Gibran

Sebenarnya rakyat sudah bisa menebak bagaimana wajah pemerintahan yang akan datang. Apakah seperti wajah pemerintahan sembilan tahun belakangan? Jawabannya tentu saja iya. Bahkan bisa makin beringas dari Jokowi-Amin. Siapa sangka Jokowi dari cara berpikir dan ucapannya menghasilkan suatu tindakan brutal terhadap penegakan hukum, pelanggaran HAM menjadi-jadi, dan merosotnya demokrasi di Indonesia.

Indonesia Maju versi Jokowi adalah membangun infrastruktur yang mengabaikan pembangunan manusia. Berbagai PSN (Proyek Strategis Nasional) yang dibangun diberbagai daerah menimbulkan konflik vertikal dan horizontal. Begitu juga dengan kerusakan alam yang semakin parah.

Maka rezim Prabowo-Gibran akan melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jokowi-Amin. Karena dalam setiap kampanye mengatakan akan melanjutkan kerja-kerja Jokowi. Jika Polri dan TNI saja brutal pada era Jokowi, apalagi di era Prabowo, tentu kebrutalannya bisa berkali lipat jika ada perlawanan masyarakat yang menolak PSN, tanahnya dirampas atau wilayahnya yang dieksploitasi tambang.

Artinya gerakan perlawanan akar rumput harus dilipatgandakan. Mahasiswa lebih memasifkan lagi pengorganisirannya, begitu juga masyarakat terdampak infrastruktur. Para aktivis pun meski lebih hebat lagi gerilyanya. Perjuangan untuk demokrasi, Hukum, dan HAM, akan lebih hebat lagi di rezim Prabowo-Gibran. Jika gerakan akar rumput masih seperti biasa, maka siap-siap digilas rezim berlatar militer tersebut.

Rocky Gerung pernah mengatakan memang sebaiknya sistem buruk ini dibiarkan saja, seperti buah busuk di pohon. Dia akan jatuh dengan sendirinya. Masyarakat bisa mengartikan sistem sudah kacau balau, rusak parah. Maka sistem yang rusak meski diiinstal ulang oleh software baru.

Rocky juga menceritakan pengalamannya ketika seorang anak SMP yang bertanya bagaimana merevolusi Indonesia? Rocky terkejut ternyata anak SMP sudah mencari jalan untuk menyelamatkan negeri ini dengan jalan revolusi. Tentu saja cara berpikir ini tidak akan pernah ditemukan pada generasi muda yang lebih senang membuka media sosial daripada buku-buku progresif dan diskusi. Tak mungkin diucapkan dari generasi muda yang berjoget ria di depan medsos.

Penulis: Asmara Dewo

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Opini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *